TOKOH nasional Surya Paloh menyebutkan Aceh saat ini kalah maju jika dibandingkan dengan provinsi lain, baik dari segi fisik maupun nonfisik. Surya Paloh menuturkan harus diakui hari ini Aceh sudah jauh tertinggal jika dibandingkan dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai seluruh wilayah lain yang ada di persada Tanah Air.

Kondisi daerah paling barat dari Indonesia yang masih jauh tertinggal dalam segala aspek kehidupan itu menjadikan Aceh sebagai provinsi yang jalan di tempat. Padahal provinsi itu merupakan daerah yang dulunya dikenal kaya, tapi sekarang berubah menjadi miskin.

Fakta dari Badan Pusat Statistik (BPS) awal 2022 menyebutkan pertumbuhan ekonomi Aceh rendah. Kondisi ekonomi masyarakat Aceh dilihat secara makro menyedihkan. Indikatornya pertumbuhan ekonomi Aceh hanya 2,6%, terendah di Sumatra. Angka kemiskinannya mencapai 15,43% dan diperburuk tingkat kedalaman kemiskinan di perdesaan mencapai 17,96%. Begitu pula halnya dengan tingkat pengangguran, Aceh juga nomor satu di Sumatra dengan angka rasio Gini 0,319. Rasio Gini atau koefisien adalah alat pengukur derajat ketidakmerataan distribusi penduduk.

Media menuju kesejahteraan telah diberikan. Diawali dengan MoU Helsinki antara RI dan GAM, lalu diwujudkan dengan Undang-Undang No 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Namun, hal itu belum mampu memberikan kesejahteraan terhadap 5,3 juta penduduk Aceh. Mayoritas penduduk provinsi itu hidup dari sektor pertanian. Masyarakat yang tinggal di pesisir umumnya hidup dari sektor perikanan laut dan perikanan darat. Sebagian lagi hidup dari sektor perkebunan. Anggaran perencanaan tidak berfokus kepada tiga bidang itu sehingga masyarakat Aceh terus berkutat dalam lingkar kemiskinan.

Membangun Aceh

Baca Juga: Resesi dan Adaptasi Perikanan

Dalam sebuah kesempatan pulang kampung ke Aceh pada 27 Juni 2022, Surya me­nyebutkan, “Saya katakan bukan lagi lampu hijau atau lampu kuning, tapi sudah lampu merah. Ini warning bagi kita semua termasuk saya, kita harus bangun kembali Aceh. Bukan saatnya lagi kita salahkan satu sama lain, bukan saatnya lagi kita mendiskreditkan si A atau si B. Ini tugas kita semua.”

Peringatan dari tokoh nasional itu mengingatkan kembali seluruh unsur warga, terutama masyarakat Aceh, untuk peduli pada kondisi daerah yang pada tahun ini, 15 Agustus 2022 merayakan 17 tahun damai Aceh yang diwujudkan di Helsinki yang jaraknya ribuan mil. Setelah 17 tahun perdamaian Aceh dan 18 tahun gempa bumi dan tsunami pada 2004, kondisi Aceh masih terpuruk.

Konflik berkepanjangan dan bencana alam terdahsyat menyebabkan infra­struktur dan sebagainya hancur ber­keping-keping. Jika kerusakan fisik bisa dibangun kembali dalam waktu tertentu, berbeda dengan kerusakan nonfisik seperti mental, psikologis, dan pemikiran yang butuh waktu melakukan rehabilitasi atau terapi kepada penduduk yang terdampak dari konflik selama tiga dekade dan sebagainya.

Padahal, Aceh memiliki masa lalu yang teruji. Sejarawan dunia sekaliber Anthony Reid yang melakukan penelitian di Aceh menulis dalam bukunya bahwa kekuatan orang Aceh terletak pada spirit perda­gangan atau saudagar. Begitu juga di awal-awal kemerdekaan Indonesia, Aceh menjadi daerah modal bagi bangsa ini. Keberadaan Aceh sebagai daerah modal tidak lepas dari kontribusi para saudagar yang dimiliki Aceh ketika itu.

Dalam perspektif sejarah, Aceh memi­liki segalanya. Namun, saat ini, seperti diakui Surya, Aceh perlu kolaborasi strategis untuk mempercepat kebangkitan mereka. Sudah seharusnya kekuatan sejarah yang dimiliki mereka dapat dijadikan sumber inspirasi bagi generasi berikutnya untuk membawa kejayaan dan kesejah­teraan masyarakat Aceh.

Sebagai sebuah daerah yang baru selesai konflik, Aceh memang memerlukan terobosan-terobosan yang spektakuler untuk membangun diri. Segala potensi bisa muncul kembali. Paul Collier, Anke Hoeffler dan Mans Soderbom (2006:2) mengung­kapkan masyarakat pascakonflik selalu menghadapi dua tantangan yang berbeda, yaitu pemulihan ekonomi dan pengurangan risiko. Artinya ekonomi dan mengurangi potensi konflik harus berjalan berbarengan, menuju kesejahteraan hidup masyarakat mereka.

Zulfan Tadjoeddin (2016) mengemukakan setidaknya terdapat enam risiko pascakonflik di sebuah wilayah: 1) pengangguran, 2) distribusi pembangunan yang tidak merata, 3) pengelolaan sumber daya alam yang didominasi pemain baru, 4) kontrak sosial, 5) transformasi sosial, dan 6) biaya yang tinggi untuk kelas baru.

Pemulihan ekonomi pascakonflik 17 tahun di Aceh belum juga usai. Namun, inspirasi damai RI-GAM telah menjadi contoh yang baik dalam penyelesaian konflik di dunia. Potensi konflik global selalu muncul dengan varian yang berbeda-beda, tapi bungkusnya dominan persoalan ‘ekonomi’. Demikian pula dengan konflik Aceh, Kell, Siapno, Robinson, Aspinall, Rizal Sukma melihat bahwa eksploitasi sumber daya alam, pemerintah otoriter, dan supremasi militer sebagai faktor utama konflik di Aceh. Namun, bungkus utama yang jadi masalah ialah ‘ekonomi’ dengan segala variannya.

Gempa dan tsunami Aceh berdampak pada percepatan dialog damai Aceh. Patut dicatat surat proses mengajak RI-GAM ke meja dialog sudah dikirim beberapa hari sebelum hentakan besar gempa berkekuatan 8,9 SR, disusul empasan gelombang setinggi 30 meter melumat pesisir Aceh. Tsunami mempercepat proses dialog bisa digelar selama delapan bulan dari proses konflik vertikal GAM-Indonesia selama 30 tahun.

Selama dua tahun Aceh, yang tertutup untuk warga asing karena daerah itu berada dalam kondisi darurat militer sejak Mei 2003, tiba-tiba pasca-Natal dan Tahun Baru 2005 didatangi banyak orang. Ribuan warga asing, termasuk militer dan relawan dari seluruh Indonesia serta asing, mendarat di Aceh yang kondisinya genting dengan kehancuran infrastruktur di segala aspek. Surya dengan cekatan mengalokasikan sebagian sumbangan warga untuk membangun tiga sekolah di Kota Lhokseumawe, Bireuen, dan Pidie yang diberi nama Sekolah Sukma Bangsa.

Inspirasi damai ke Ukraina

Kaisar Jepang Hirohito bertanya kepada para pembantu dekatnya, berapa guru yang masih ada setelah Amerika Serikat dan sekutu mereka menjatuhkan bom atom di dua kota di Jepang. Surya tidak bertanya berapa guru yang syahid atau sekolah yang hancur karena konflik dan bencana alam. Ia justru dengan cekatan membangun tiga sekolah lengkap dengan menghadirkan guru berkualitas.

Hasilnya, Sekolah Sukma Bangsa itu menjadi salah satu sekolah terbaik di Aceh dengan muridnya dari berbagai daerah di Aceh termasuk puluhan anak dari Mindanao, Filipina. Kita sepakat pendidikan ialah aset terbaik memajukan peradaban bangsa dan keluar dari berbagai masalah di masyarakat. Pendidikan kuncinya.

Melalui jaringan di antara tokoh Mindanao yang warganya sekolah di Aceh, Tim Kemanusiaan Surya Paloh punya andil pada pembebasan 10 WNI yang disandera Abu Sayyaf pada 2016 di Pantai Parang, Sulu, Mindanao Selatan, Filipina. Tim itu terdiri dari Yayasan Sukma, kelompok Media Group, dan Fraksi Partai NasDem DPR. Yayasan Sukma merupakan lembaga kemanusiaan pimpinan Ahmad Baidowi dan Samsul Rizal Panggabean. Fraksi Partai NasDem DPR diwakili Victor Laiskodat dan Supiadin.

Benih kebaikan yang ditanam Surya dengan memberikan beasiswa kepada anak-anak Mindanao berbuah mendapat kepercayaan dari tokoh Mindanao. Kerja keras dan ikhlas sering berbuah manis. Setali tiga uang dengan apa yang juga dilakukan Wapres Jusuf Kalla ketika mengirimkan pesawat pribadi menjemput Abdullah, orangtua elite GAM dr Zaini Abdullah yang sakit di Pidie untuk dirawat di Jakarta. Tentu saja hal itu berdampak hati Zaini Abdullah yang tinggal di Swedia tersentuh. Diplomasi dari hati ke hati sangat ampuh meluluhkan pihak-pihak yang berbeda pendapat. Soft power tanpa banyak berkata-kata menyentuh hal-hal kecil, tapi justru berdampak besar.

Hal demikian juga dilakukan Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana yang secara simbolis menyerahkan bantuan kemanusiaan obat-obatan kepada Pusat Ilmiah dan Bedah Endokrin, Transplantasi Organ, dan Jaringan Endokrin Ukraina di Kota Kyiv pada 29 Juni 2022. Seorang pasien perempuan menangis memeluk Ibu Negara yang dengan hangat balas memeluknya.

Pesan kemanusiaan dengan sentuhan fisik itu memberikan pesan kepada kaum pria sebagai pencetus perang untuk menghentikan menarik pelatuk. Proses perdamaian memang tidak langsung berhenti semudah mengedip mata. Indonesia melalui kegigihan dan keikhlasan Jokowi yang didukung dan didoakan seluruh rakyat Indonesia telah memulainya di Eropa. Langkah pertama yang butuh keteguhan pada langkah selanjutnya. Oleh: Murizal Hamzah Penulis buku biografi Deklarator Aceh Merdeka Hasan Tiro Mukhlisuddin Ilyas Direktur Bandar Publishing, Banda Aceh. (Sumber: https://mediaindonesia.com/opini/514376/inspirasi-damai-aceh-ke-ukraina).