AMBON, Siwalimanews Wakil Ketua DPRD Kota Ambon Rustam Latupono merasa geram, karena diduga para driver Gojek merasa diintimidasi oleh peru­sahaan ojek online tersebut.

Kekesalnnya disampaikan ketika melakukan pertemuan diruang sidang paripurna DPRD Kota Ambon, Kamis (5/9).

Latupono mengancam tolak gojek online dari Kota Ambon apabila, pihak perusahan selalu melakukan intimidasi kepada sebagian driver. Sementara sebagiannya dilindungi tanpa memberikan solusi jalan keluarnya.

Kekesalan ini dikarenakan, adanya kebijakan perusahan yang dianggap tidak sesuai. ketentuan perusahan yang awalnya hanya 10 poin perhari dengan bonus Rp 105 ribu. Namun belakangan kebijakan tersebut dirubah kembali, dengan ketentuan per hari 15 poin, dan bonus pun diturunkan Rp. 27 ribu.

“Jangan di intimidasi seperti itu, mereka harus rasional dan manusiawi. Pihak Gojek harus bijaksana. Kalau tidak bijaksana lagi,” ujarnya

Baca Juga: Akademisi Dukung Kebijakan Gubernur Sasi Laut Maluku

Dikatakan, persoalan Gojek merupakan persoalan masyarakat yang harus ditangani, apalagi sudah dilaporkan secara resmi ke DPRD. Pihak perusahan diminta untuk tidak melakukan hal semena-semena kepada driver.

DPRD akan memanggil kembali pihak perusahan gojek, dengan Dinas Perhubungan Kota Ambon, guna membahas persoalan tersebut secara arif dan bijaksana dan manusiawi. Apalagi usaha tersebut, beroperasi di Kota Ambon jangan hanya mengambil keuntungan, tetapi warga yang tergabung dalam draiver itu di intimidasi se-enaknya.

“Perusahan inikan beroperasi di Kota Ambon tentu jangan hanya mengambil keuntungan saja, sementara para driver dari warga kota sendiri diintimidasi. Ini tidak boleh. Kalau masih terus kita usir saja,”cetusnya.

Sementara itu, salah satu Driver Gojek Wahyu mengatakan, mereka tidak terima dengan ketentuan yang disampaikan oleh perusa­haan, dan bukan diberlakukan secara menyeluruh, namun hanya beberapa driver saja.

Ia menjelaskan, berdasarkan kesepakatan bersama dengan driver dan perusahaan, mereka dalam sehari mereka harus mendapatkan 10 poin , dengan bonus Rp. 105 ribu, namun tanpa ada penjelasan mengalami peru­bahan yakni 15 poin mendapatkan bonus Rp. 27 ribu.

“Inikan tidak masuk akal 10 poin saja kita cari susah dalam sehari. Apalagi ditambah ke 15 lagi. Sudah begitu bonusya turun drastis tentu ini sangat tidak sesuai. Perusahan jangan cari untung seperti itu,” cetusnya.

Untuk itu, sebagai driver mereka meminta kepada DPRD untuk segera memanggil pihak perusahan dan juga Dishub, sebab ini sama saja sudah memeras tenaga para driver.

“Masalah ini harus segera diselesaikan, kami sangat tertekan dengan adanya kebi­jakan itu. Jangan mau untung saja, lalu kami para driver yang susah,” kesalnya. (S-40)