AMBON, Siwalimanews – Walikota Ambon Richard Louhenapessy dan Sekot AG Latuheru, gagal menjalani vaksinasi di hari pertama bersama dengan para pejabat dan forkopimda serta tokoh agama di Maluku yang dipusatkan di RSUP dr J Leimena, Jumat (15/1)

Walikota gagal divaksin, karena disaat pemeriksaan kesehatan, tekanan darahnya melebihi ambang batas, selain itu faktor usianya yang kini sudah capai 60 tahun juga menjadi salah satu penyebab ia tak divaksin, sementara sekot tak dapat divaksin dikarenakan tekanan darahnya juga melebihi ambang batas.

Kepada wartawan di RSUP Leimena, Jumat (15/1) setelah gagal divaksin walikota mengaku, dirinya siap untuk jalani vaksinasi, hanya saja usia yang terlampau jauh menjadi faktor utama dirinya gagal divaksin ditahap pertama ini.

“Saya kepingin sebetulnya untuk jadi contoh buat masyarakat sekaligus membuktikan bahwa vaksin itu aman. Tapi karena persyaratannya ini nggak boleh diatas 60, ya kita sesuaikan,” ungkap walikota

Baca Juga: Distribusi Vaksin ke 10 Kabupaten dan Kota Ditunda

Menurutnya, semua kriteria telah dipenuhinya sebagai orang yang akan menjalani vaksinasi, hanya saja, kualifikasi penyuntikan untuk tahap pertama ini, hanya terfokus pada orang dengan rentan usia 18-59 tahun.

“Saya sudah penuhi persyaratan, cuman tadi tekanan darah naik kemudian umur saya sudah lebih dari 60 jadi musti pending dulu,” tandasnya.

Ditanya terkait dengan bersediakah dirinya untuk divaksin di tahap kedua nanti kepada kelompok rentan seperti dirinya yang berusia 60 tahun ketas, walikota menegaskan, jika itu memenuhi syarat, maka dirinya siap menjalani vaksinasi.

“Kita harus jadi contoh, Pak Presiden saja bisa kok, resiko jadi pemimpin itu kan harus jadi contoh,” pungkas.

Sementara itu, Seko Ambon, A G Lattuheru mengaku, dirinya telah siap untuk divaksin, namun saat memasuki meja dua untuk jalani screaning ternyata tekanan darahnya naik.

“Jadi saya sebetulnya siap untuk divaksin, tapi tadi setelah dicek, tekanan darah saya naik jadi 160,” tandas Sekot.

Menurutnya, vaksinasi tentu masih dapat dilakukan, olehnya usai proses screaning kedua, setelah melawati 7 hari, agar dapat diketahui apakah siap untuk melaksanakan vaksinasi atau tidak.

“Iya mereka bilng istirahat sebentar nanti, setelah tujuh hari kemudian, baru dicek lagi,” ucap sekot. (S-52)