NAMLEA, Siwalimanews – Penambangan emas ilegal di Gunung Botak, Kecamatan Waelata, dan Gogorea, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru,  yang dikhabarkan  masih bergeliat, ternyata terlihat mati suri.

Pasalnya, sampai dengan hari ini Jumat (12/3), belum dapat dibuktikan ada aktivitas ilegal di tambang tersebut, sebelum ditutup paksa 15 November 2015 lalu.

Pasca penutupan waktu itu, memang masih ada riak-riak kecil perlawanan dari masyarakat dengan alasan tuntutan perut, sehingga mereka kembali menambang.

Walau tidak seramai di tahun 2012-2015, namun ada sejumlah masyarakat masih bertahan di Gunung Botak dan Gogorea, sehingga sering kali aparat keamanan harus bolak-balik melakukan penertiban.

Namun diera Kepemimpinan Kapolda Maluku Irjen Royke Lumowa, Gunung Botak dan Gogorea benar-benar ditutup secara resmi sampai dengan hari ini.

Baca Juga: Ong Onggianto Andreas Dieksekusi ke Lapas

Beberapa penambang, memang ada yang nekat masuk secara diam-diam ke lokasi tambang lewat jalur tikus. Namun bila tertangkap aparat, mereka diproses hukum, bahkan sampai ke pengadilan.

Langkah tegas penindakan hukum itu masih berjalan sampai hari ini saat Polres Buru diawaki AKBP Egia Febry Kusumatmaja yang diback-up Dandim 1506 Namlea, Letkol Arh Agus Guwandi.

Sumber di kepolisian menyebutkan, oknum – oknum atas nama asosiasi penambang rakyat indonesia (APRI) yang diotaki Irawan Molle alias Irawan Tambang, juga pernah berusaha memasuki kedua lokasi tambang itu dengan alasan memberikan edukasi kepada masyarakat.

Namun faktanya, yang diincar adalah hasil emas, sehingga yang bersangkutan tidak diberi angin oleh aparat keamanan untuk beroperasi disana.

Terakhir, aktivitas rendaman emas di tambang Gogorea juga ditutup paksa. Namun sayangnya Irawan luput dari jeratan, karena lebih dulu tinggalkan Namlea.

Yang sangat disesalkan, setelah tinggalkan Pulau Buru, Irawan yang juga lama bercokol sebagai penambang ilegal di daerah itu, berulah. Pasalnya dari Jakarta, ia mencoba menggalang kekuatan dengan sejumlah aktivis untuk berdemo.

Salah satunya, mendesak Kapolri dan Kasad agar memerintahkan Kapolda dan Pangdam mencopot AKBP Egia dan Letkol Arh Agus Guwandi dari jabatan mereka sebagai Kapolres Pulau Buru dan Dandim 1506 Namlea.

Walaupun demikian, baik Kapolres maupun Dandim tak gentar dengan permainan Irawan lewat tangan beberapa mahasiswa di Jakarta.

Kepada Siwalimanews melalui aplikasi WhatsAppnya, Dandim dengan bijak mengatakan,  jabatan ini hanya amanah. Kalau waktu berganti juga akan terlaksana pergantian dan bukan karena demo.

“Masalah gunung botak itu punya pemerintah, TNI hanya backup Polri,” ucapnya.

Senada dengan Dandim, Kapolres menegaskan, pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga lokasi tambang yang masih ditutup untuk umum.

“Kalau ada masyarakat yang tidak puas, silahkan disampaikan keluhannya,” pinta Kapolres.

Kapolres juga menegaskan, tidak ada dari personel Polres maupun Kodim seperti yang dituduhkan membiarkan penambang ilegal di sana.

“Bisa dilihat sendiri lokasi yang harus dijaga seluas itu, hanya dengan beberapa personel saja. Saya rasa anggota saya sudah sangat maksimal, dengan segala resiko bertugas diatas sana. Termasuk resiko diperiksa jika melakukan hal-hal yang mencederai nama baik institusi,” tandas  Kapolres.

Sementara itu dari pantauan sejumlah wartawan yang turun ke dua lokasi eks tambang ilegal itu terlihat dalam keadaan mati suri. Bahkan Lubang janda yang sempat diberitakan di beberapa media, bahwa konon ramai dengan  aktivitas tambang, terlihat kosong-melompong.

Di lokasi tersebut   hanya ditemukan bekas lubang-lubang galian yang telah lama ditimbun atau ditutup. Tidak ada aktivitas apapun disana yang menunjukan adanya proses penambangan tanpa ijin (PETI).

Bahkan wartawan Siwalimanews sempat menelusuri setiap sudut wilayah Gunung Botak melalui jalur-jalur ekstrim, namun hasilnya tidak satupun dapat dijumpai ada penambang atau peralatan penambang.

Seorang warga  yang berdomisili di sekiatar lokasi tambang Gunung Botak, Tami menyebutkan, tidak ada aktivitas penambangan yang diijinkan oleh aparat keamanan.

Namun ia mengakui,  ada warga yang terus mencoba masuk untuk menambang yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

“Iya benar, ada penambang yang masuk ke areal Gunung Botak, tapi secara sembunyi-sembunyi. Kucing-kucingan dari aparat keamanan yang bertugas di sini. Aparat yang ada semua disini sangat ketat. Tidak boleh masuk. Sementara kami hanya cari sesuap nasi bukan cari untuk jadi kaya. Akhirnya, kami harus sembunyi-sembunyi,”ucap Tami.

Ditanya soal jalan masuk penambang yang terhindar dari pandangan mata aparat keamanan, ia menuturkan, jalan untuk masuk menuju lokasi tambang sangat banyak.

“Aparat hanya sedikit, areal tambang sangat besar. Penambang akan masuk lewat jalur dimana tidak ada aparat keamanan disitu. Saat kehadiran penambang tertangkap mata aparat, penambang pasti secepatnya lari, karena jika dikejar aparat juga belum tentu sampai dengan cepat mengingat jarak dan kondisi jalan yang terjal,”ungkapnya.

Ia berharap, Pemkab Buru dan Pemprov Maluku bisa secepatnya membuka lokasi tambang ini secara resmi, agar tidak lagi ada kucing-kucingan dengan aparat keamanan serta tidak ada lagi kesusahan ekonomi seperti saat ini.

“Untuk pemerintah tolonglah lihat kondisi kita. Kami minta tambang ini kembali dibuka. Jangan kita main kucing kucingan terus. Kami ini butuh uang. Dua anak saya sudah putus kuliah karna tambang tutup. Tambah lagi sekarang sudah dekat puasa. Kami mau dapat uang dari mana. Tolong lah pak,”pinta Tami. (S-31)