AMBON, Siwalimanews – Dua kelompok pemuda di Desa Hitu dan Desa Wakal, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Te­ngah sempat tegang, Senin (23/1) berangsur kondusif  .

Informasi yang dihimpun Siwa­lima, ketegangan diantara dua desa ini diduga dipicu adanya peng­ani­ayaan warga Wakal yang meng­alami kecelakaan tunggal di ruas jalan Desa Hitu pada Sabtu (21/1).

Akibat kejadian tersebut, terjadi kosentrasi massa dari Desa Wakal yang jua memicu konsentrasi massa dari Desa Hitu.

Ketegangan kelompok massa ini diketahui sudah berlangasung sejak Minggu (22/1) dan berlanjut pada Senin (23/1) siang tadi.

Beruntung aparat kepolisian ber­sama TNI bergerak cepat dan me­ng­halau ketegangan sebelum jatuhnya korban jiwa.

Baca Juga: Rovik: Banyak Program Pemprov tak Sesuai Kebutuhan

Kasi Humas Polresta Ambon Iptu Moyo Utomo yang dikonfirmasi re­daksi Siwalima membenarkan ke­jadian tersebut.

Menurutnya, situasi terkini telah kondusif. Bahkan Wakapolda Ma­luku, Brigjen Stephen M. Napiun, dan Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Kombes Raja Arthur Lomongga Simamora sudah turun langsung ke lokasi kejadian (TKP) lakukan mediasi untuk upaya mendamaikan dan menyelesaikan persoalan mengakibat ketenangan kedua kelompok warga itu terusik.

“Situasi sudah kondusif, tadi bapak Wakapolda dan bapak Kapolresta turun langsung untuk mediasi kedua kelompok. Mediasi di hadiri camat, Sigit Djuliansah, Kapolsek Leihitu dan Raja kedua negeri,”ungkapnya.

Untuk mengatasi situasi agar tidak berlanjut, 1 SST personil Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease dan 1 SST personil Satuan Brigade Mobile (Brimob) Polda Maluku dikerahkan ke TKP.

Mantan Wakapolsek Leihitu ini juga memastikan, penegakan hukum terkait kasus lakalantas berunjung dugaan penganiayaan terhadap salah satu warga Negeri Wakal, Sabtu (21/1), yang kemudian diduga menjadi pemicu ketenangan kedua kelompok negeri bertetangga ini terganggu sementara berjalan.

“Untuk penegakan hukum sudah dilakukan untuk mengungkap pelaku, dilakukan unit reskrim Polsek Leihitu diback-up Sat Reskrim Polresta menyelidiki terduga pelaku. Itu sementara jalan,” tandasnya.

Dirinya berharap, masyarakat dan para tokoh setempat bisa bekerja sama dengan aparat penegak hukum apabila mengetahui pelaku peng­aniayaan agar segera di dilaporkan ke pihak kepolisian, disamping polisi juga melakukan penyelidikan.

“Kita harapkan kerja sama juga dalam aspek penegakan hukum menyangkut masalah ini, bila mengetahui pelaku disampaikan ke upu latu (Raja) dan tolong disampaikan ke Polsek. Dukungan masyarakat Negeri Wakal, Hitulama dan Hitumesing untuk secara kooperatif serahkan terduga pelaku dan dapat diinfokan penyidik,”harapnya.

Moyo meminta Upu Latu (raja), kedua negeri agar dapat mengedukasi masyarakat sehingga tidak berujung terjadi kosentrasi massa berujung bentrokan yang dapat merugikan kedua belah pihak.

Para Raja juga diharapkan bisa netralisir masyarakat agar tidak memprovokasi ataupun terprovokasi terkait situasi kejadian tersebut.

“Jika ada masalah seperti ini juga kita harapkan jangan sampai dibawa-bawa ke masalah negeri. Ini masalah oknum, kita harapkan masyarakat jangan bertindak yang bisa merugikan kita semua. Kita harapkan peran tokoh masyarakat setempat agar juga bisa mengedukasi masyarakatnya, tidak ada aktivitas masyarakat yang membawa sajam karena akan berpotensi timbulkan gangguan kamtibmas. Mari sama-sama kita jaga keamanan, terutama di wila­-yah Leihitu,”pinta Moyo. (S-10)