AMBON, Siwalimanews – Provinsi Maluku saat ini sudah cukup matang, dalam mengdapai proses-proses berdemokrasi yang akan berlangsung di tahun 2024 mendatang.

Pasalnya, Maluku kini bukan lagi dipandang sebagai satu daeah yang pernah mengalami konflik sosial, tetapi dipandang sebagai pusat laboratorium perdamaian.

“Saya optimis, 2024 nanti, akan kita jalani dengan penuh kedamaian, dengan harapan, supaya aparat penyelenggara pemilu, seperti  KPU dan Bawaslu serta jajarannya, mulai dari tingkat kabupaten/kota, hingga kecamatan, bisa menjalankan tanggungjawab mereka, dengan netral, agar terciptanya Maluku yang damai,” tandas tokoh agama Maluku Pendeta John Ruhulessin, dalam keterangan persnya, di Ambon, Jumat (23/9).

Mantan Ketua MPH Sinode GPM ini mengaku, memasuki tahun-tahun politik, biasanya menyita banyak energi, sehingga pertarungan politik secara nasional, juga bisa terjadi di daerah.

Oleh karena itu, sebagai pimpinan umat, pihaknya selalu mengingatkan kepada masyarakat untuk melihat bahwa, pemilu atau proses-proses politik ini bukan segala-galanya. Namun ini proses sementara saja.

Baca Juga: Jalani Agenda Reses, Rumra Temukan Sejumlah Masalah

“Oleh karena itu, mari kita mengembangkan sebuah iklim demokrasi yang betul-betul substansial,” ujarnya.

Menurutnya, dalam proses itu, ia juga mengajak semua pihak agar membangun kesadaran berdemokrasi,  dengan memberikan pendidikan politik yang diberikan oleh parpol kepada para kadernya, sementara pimpinan umat melakukan proses pendidikan di kalangan masyarakat.

“Mari kita bangun sebuah tatanan kehidupan berdemokrasi. Karena indeks demokrasi Indonesia ini harus kita pulihkan. Oleh karena itu, saya optimis, sejak konflik 1999 sampai sekarang, meski ada kerikil-kerikil kecil, tapi tidak ada pemilu yang gagal. Itu menunjukan, bahwa Maluku cukup matang ,” ucapnya.

Ruhulessin mengaku, untuk membangun Maluku yang damai, maka diperlukan perjumpaan maupun silatirahim antar sesama, baik para tokoh agama maupun tokoh lainnya.

“Ini harus kita bangun, tanpa itu, kita tidak mungkin membangun Maluku yang damai. Namun disamping itu, kita juga harus terus berdoa, agar pembangunan bangsa ini terus berjalan, berdoa agar keadilan terus kita wujudkan demi Indonesia yang kita cintai,” tuturnya.

Dengan demikian kata Ruhulessin, ketika Maluku didatangi oleh orang-orang dari luar, mereka tidak lagi datang untuk melihat konflik, tetapi untuk melihat perdamaian dengan proses kehidupan bersama.

Oleh karena itu, walaupun dengan pengalaman konflik, tetapi bicara tentang Kamtibmas, tentang kehidupan bersama, maka harus diakui, bahwa Maluku sudah damai dan perdamaian untuk kehidupan bersama, itu harus terus dirawat.

“Kenapa demikian, sebab ketika itu tidak kita rawat, maka saat ada unsur-unsur kecil saja, itu bisa menganggu kenyamanan. Oleh karena itu, saya rasa yang terjadi di Maluku ini, seluruh pimpinan umat, tokoh agama, tokoh adat, itu betul-betul punya komitmen yang kuat untuk merawat perdamaian di Maluku,” tandasnya.

Pasalnya, tambah Ruhulessin, tidak akan pernah mungkin, Maluku dapat dibangun dalam kondisi tidak damai, untuk itu, menjaga, merawat dan memelihara kehidupan bersama, menjadi satu hal yang sengat penting.

“Tanpa itu, kita tidak akan mungkin bisa membangun Maluku secara baik, dan dampaknya secara otomatis juga tidak mungkin membangun Indonesia secara keseluruhan dengan baik pula,” tegansya. (S-25)