AMBON, Siwalimanews – Anggota Komisi III DPRD Kota Ambon Yusuf Wally minta Disperindag untuk tidak mencari keuntungan dari para pedagang ditengah pandemi Covid-19, sebab mereka juga terkena dampak dari virus ini.

Pasalnya, pada proses revitalisasi pasar ini para pedagang disuruh pindah ke Pasar Passo dan beberapa lokasi lainnya, ini bukan pedagang menolaknya, sebab tidak mungkin mereka melawan pemerintah. Namun yang diinginkan adalah, jika ada lokasi yang dibangun oleh pemerintah, mengapa tidak difungsikan bagi mereka, seperti pasar apung misalanya.

“Kalau masalahnya mobil proyek masuk keluar dan terhalang pedagang didepan jalan, saya mau katakan mereka ini sebenarnya pedagang didalam, inikan ada pembiaran. Itu berarti pertanyaan saya, ada apa dibalik itu. Kalau seperti awalnya keinginan sekot pasar apung difungsikan untuk pedagang, saya pikir tak ada masalah yang terjadi,” ujarnya.

Apalagi kata Wally, pada bagian belakang Pasar Apung I telah dibangun bangunan baru untuk pedagang dari gedung putih. Ini namanya tidak etis, pedagang dari gedung putih dipindahkan kesamping, kemudian pedagang lama yang berada di depan yang tempatnya tidak gratis pula, malahan harus dipindahkan ke tempat lain. Pemerintah tidak memiliki jiwa untuk kebersamaan dengan rakyat.

“Yang menjadi pertanyaan besar, jika tempat itu dikosongkan, siapa yang nanti duduki tempat itu. Lalu keuntungan itu siapa yang mau jual, siapa yang melakukan pengawasan. Apakah Indag boleh jujur dan terbuka dalam persoalan ini,” tandasnya.

Baca Juga: Unpatti Perketat Protokol Kesehatan

Menurutnya, permasalahan ini yang diutamakan adalah kejujuran, sebab kenapa ditakutkan jangan sampai tempat ini dibongkar dan dibangun baru lagi kemudian dijual kembali. Jika benar, maka siapa yang mendapat untung dari ini.

Wally juga menduga ada sesuatu yang tidak beres dalam proses tersebut. Hanya memang ia belum menemukan buktinya, namun jika kedepan ia memperoleh buktinya, maka pihak Disperindag siap terima akibatnya.

“Saya akan konfirmasi langsung data yang disampaikan Sekretaris Disperindag terkait dengan jumlah pedagang yang ada di Pasar Apung 1-3 dengan data riil sesuai dengan kondisi di pasar. Jika nanti datanya tak sinkron, maka sudah jelas ada sesuatu yang disembunyikan oleh Disperindag,” cetusnya. (Mg-5)