AMBON, Siwalimanews – Aparat kepolisian Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease membu­bar­kan massa pen­de­mo di kediaman Gu­bernur Maluku, Murad Ismail  yang terletak di kawasan Wailela Jumat (19/6).

Pembubaran itu lantaran pendemo tidak memiliki izin. Akhirnya sekitar pukul 15.00 WIT puluhan personil gabungan Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease membubarkan massa secara paksa.

Aksi di kediaman gubernur merupakan lanjutan yang mereka lakukan sebelumnya di kantor gubernur. Pantauan Siwalima, sebelum para demonstran ini memulai orasi, mereka lebih dulu melakukan koordinasi dengan ajudan gubernur agar mau bertemu untuk  mendengar langsung tuntutan yang mereka sampaikan. Negosiasi tersebut membuahkan hasil, dimana gubernur berkeinginan untuk menemui mereka, namun hanya beberapa perwakilan saja. Permintaan gubernur tersebut ditolak mahasiswa, sebab mereka minta gubernur bertemu semua mahasiswa.

Belum sempat bertemu gubernur, para pendemo dihadang oleh personil Satuan Sabhara Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, maupun Polsek Teluk Ambon yang tiba di kediaman gubernur.

Berselang itu, tiba juga Sekda Maluku Kasrul Selang dan Kapolresta Pulau Ambon, Kombes Pol, Leo Surya Nugraha Simatupang yang langsung membubarkan massa.

Baca Juga: Pemprov Diminta Tuntaskan Honor Perawat Covid-19

“Bubar, bubar, izin demo kan sudah di kantor gubernur tadi,” tegas Kapolresta sembari mengarahkan pendemo ke jalan diikuti oleh personil Satuan Sabhara Polresta dan Polsek Teluk Ambon.

Tidak terima dibubarkan, Pendemo mengancam akan terus melakukan aksi hingga mereka bertemu dengan gubernur.

Sebelumnya diberitakan, dua organisasi kepemudaan terbesar di Maluku HMI dan GMKI Jumat (19/6) pagi, menggelar aksi demosntrasi. Dalam aksi itu, para pemuda membawa pamflet yang bertuliskan, corona mati bos, tolak PSBB, berlakukan new normal, serta Gubernur Maluku anti kritik, kami minta transparansi penggunaan dana Covid serta Jerinx SID vs MI siapa mau help, ada pula pamflet yang bertuliskan mimpi anak negeri jadi PNS. Tinggal manyanyi diatas kesusahan rakyat.

Aksi yang dilakukan ratusan pemuda sejak pagi hari itu, seperti tak menghiraukan hujan deras yang turun. Bahkan mereka secara bergantian melakukan orasi.

(S-45)