Pelatihan melukis dengan media kain di Fave hotel Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (19/4/2021). 21 April menjadi hari bersejarah bagi masyarakat Indonesia sebab mengingatkan masyarakat atas perjuangan Kartini dalam menegakkan emansipasi wanita. Namun, sangat jarang masyarakat yang mengenal Kartini sebagai ibu dari pergerakan nasionalisme Indonesia. Begitu pun dalam perayaannya, peringatan hari Kartini kerap sebatas perayaan dan upacara formal dengan busana adat dan batik (Mediaindonesia.com, “Sambut Hari Kartini Pemprov DKI Berkolaborasi Kampanye Batik.” 8/4/ 2021).  Tak ketinggalan pula dari dunia bisnis yang turut merayakan melalui pemberian diskon dan insentif khusus untuk kaum perempuan (Mediaindonesia.com. “Mitsubishi Gelar Program Khusus Perempuan Sambut Hari Kartini.” 12/4/ 2021).

Mayoritas dari semua bentuk perayaan tersebut tidak ada yang mengingatkan tentang substansi perjuangan Kartini. Milan Kundera, novelis asal Cekoslovakia, mengingatkan bahwa, “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa” (Kundera, 1999). Untuk itu, tulisan ini mencoba mengingatkan kembali beberapa catatan mengenai perjuangan Kartini dan menolak lupa terhadap substansi perjuangan Kartini. Door Duisternis Tot Licht Kartini menjadi abadi karena penerbitan surat–suratnya dalam buku “Door Duisternis Tot Licht (DDTL)”. Buku tersebut disunting oleh Abendanon, Direktur Departemen Pengajaran Hindia-Belanda kala itu. Sayangnya, dalam proses penyuntingannya banyak hal yang terasa janggal sehingga para sarjana dan sejarawan mempertanyakan motif dan kriteria Abendanon dalam menyeleksi dan menyunting tulisan Kartini terhadap para sahabat–sahabat pena. Salah satu kejanggalannya adalah banyaknya surat Kartini terhadap Abendanon sendiri jika dibandingkan dengan surat Kartini terhadap sahabat pena yang sudah lama dikenal dan amat karib, Stella Zee Handelaar (Toer, 2003). Dirasa aneh ketika jumlah surat terhadap sahabat lama tiba–tiba merosot, sedangkan surat–surat terhadap sang penyunting sendiri yang relatif baru beberapa tahun dikenal oleh Kartini tiba–tiba mengalami kenaikan jumlah yang signifikan dan ikut diterbitkan. Perlu diingat bahwa sebelum DDTL diterbitkan, Kartini sudah sangat dikenal di Hindia–Belanda dan negeri Netherlands, sehingga sudah bisa dipastikan bahwa penerbitan surat–surat Kartini dalam bentuk buku akan menjadi suatu karya yang paling diminati. Kejanggalan lainnya adalah tulisan dalam surat–surat Kartini telah diedit oleh Abendanon (Arbaningsih, 2005; Soeroto, 1977).

Motif Abendanon dalam mengedit tulisan–tulisan Kartini ini menimbulkan kecurigaan, karena tidak dijelaskan kriteria dan tujuannya. Sebagai contoh, Nota Hadiningrat yang ditulis oleh Bupati Demak, Ario Hadiningrat, paman kebanggaan Kartini, dipetieskan oleh Pemerintah Hindia–Belanda karena menyinggung struktur masyarakat kolonialisme dan pemerintahan. Nota ini juga ramai dibicarakan oleh kalangan politisi di surat kabar dan Kartini sebagai sosok yang tekun membaca, rasanya tidak mungkin melewatkan pergolakan politik di masa itu (Soeroto, 1977; Toer, 2003). Namun, anehnya sama sekali tidak ada tulisan Kartini yang menyinggung pemerintah atau menyerang penjajahan Belanda atas Hindia–Belanda dalam buku DDTL. Dampak Door Duisternis Tot Licht Terlepas dari segala kontroversinya, sejarah mencatat bahwasannya buku DDTL inilah yang pertama kali mampu membangunkan kaum inlander dari tidur panjangnya. DDTL menyadarkan para founding fathers untuk bersatu dalam organisasi dan menuntut pemerintahan sendiri (kemerdekaan). Setelah terbitnya DDTL pada April 1911, De Indische Vereeniging sebagai organisasi pemuda pelajar Indonesia di Belanda mengadakan rapat pada tanggal 24 Desember 1911. Terselenggaranya rapat tersebut guna menghormati Kartini dan secara aklamasi menyepakati bahwa gagasan–gagasan Kartini dijadikan sebagai pedoman bagi De Indische Vereeniging (Soeroto, 1977).  Selanjutnya, pada 1924, De Indische Vereeniging berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Majalahnya pun juga turut berganti nama dengan lebih menantang, dari Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka. Melalui Perhimpunan Indonesia inilah berbagai gagasan–gagasan penentu masa depan bangsa dirumuskan oleh beberapa bapak bangsa kita, di antaranya Mohammad Hatta, Abdul Majid, Sartono, Ali Sastroamidjojo, dan Iwa Kusuma Sumantri.

Nyata terlihat bahwa semangat nasionalisme yang disulut oleh Kartini telah menjadi nyala api yang tidak bisa dipadamkan oleh pemerintah kolonial Hindia–Belanda. Di sisi lain, pada dasarnya, Kartini juga berkorespondensi dengan para pelajar STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), namun sayang sekali surat–surat Kartini dengan para pelajar STOVIA tidak ditemukan (Arbaningsih, 2005). Misal ditemukan, tentu saja akan menjadi sangat menarik, karena pandangan Kartini terhadap para pelajar inlander lain seperti Abdul Rivai dan Haji Agus Salim sangat mendukung kemajuan dan perjuangan mereka. Kedua tokoh tersebut merupakan pejuang kemerdekaan sejati, dan bukan tidak mungkin, Kartini jugalah yang mampu mengobarkan api nasionalisme di kalangan pelajar STOVIA. Karena toh Kartini sudah membentuk komunitas bernama “Jong Java” jauh sebelum Tri Koro Dharmo (cikal bakal organisasi Jong Java yang terlibat dalam Sumpah Pemuda) dan Boedi Oetomo berdiri (Soeroto, 1977).

Teladan Kartini Kekaguman terhadap Kartini seakan tak ada habisnya apabila kita juga melihat beberapa fakta mengenai beliau. Pertama, Kartini hanyalah lulusan sekolah rakyat atau sekolah dasar. Namun kecintaannya kepada rakyat dan ilmu pengetahuan membuatnya menjadi pembaca yang tekun, dari majalah hingga buku yang diberikan oleh ayahnya tercinta. Hasilnya, Kartini memiliki kemampuan Bahasa Belanda yang kuat dan wawasan yang sangat luas yang didapat dari berbagai bacaan berbahasa Belanda. Kedua, Kartini tidak pernah diajarkan secara sistematis mengenai sejarah bangsanya (Jawa) sendiri. Kartini tidak tinggal diam dan dia belajar dari berbagai bacaan yang didapat untuk menulis pengetahuan dan pengamatan sosial yang terperinci tentang bangsanya sendiri. Kekurangan yang dimiliki bisa diperbaiki dengan ketekunan dan kerja keras beliau. Dahsyatnya pemikiran Kartini jelas terlihat dari gelar yang disematkan kepada beliau. Pramoedya Ananta Toer, penulis tetralogi Bumi Manusia, menyematkan gelar Pemikir Modern Indonesia Pertama (Toer, 2003), sedangkan para sejarawan menyebutnya sebagai Ibu Nasionalisme Indonesia (Siraishi, 1990).

Baca Juga: Gonga: Aru Masih Butuh Banyak SDM Handal

Dari beberapa fakta sejarah tersebut, sudah saatnya kita memberikan tempat terhormat kepada ibu dari negara Indonesia modern, karena dari pemikiran beliaulah negara ini terbentuk. Menjadi hal yang sangat tepat apabila kita tidak semata mengenangnya hanya sebagai tokoh emansipasi wanita, tetapi lebih dari itu, dengan mengenang Kartini sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia, sejajar dengan tokoh–tokoh nasionalis yang lain, seperti Haji Agus Salim, Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Pun dalam mengenang perjuangan Kartini, rasanya menjadi suatu hal yang kurang tepat ketika hanya sebatas pada bentuk–bentuk perayaan yang bersifat seremonial semata. Pengejawantahan nilai juang dan semangat nasionalisme Kartini seharusnya justru menjadi suatu bentuk perayaan yang sangat diperlukan, mengingat berbagai macam tantangan yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia di masa depan. Jiwa pembelajar dari sosok Kartini menjadi salah satu hal yang akan terus relevan untuk diterapkan, utamanya bagi kaum perempuan, dalam melakukan perubahan untuk masa depan bangsa yang lebih baik. Seperti penggalan kalimat Kartini, “Kita harus membuat sejarah.

Kita mesti menentukan masa depan sesuai dengan keperluan sebagai kaum perempuan dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti kaum laki–laki.” (Estu Widiyowati, S.I.Kom, M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi   )