PIRU, Siwalimanews – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah yang jatuh pada tanggal 31 Juli, para pedagang pakaian di Pasar Rakyat Kota Piru Kecamatan Seram Barat Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) mengaku, khawatir  terhadap pendapatan mereka nantinya merosot drastis di tengah pandemi Covid-19 ini.

Turunya pendapatan para pedagang di Pasar Rakyat Kota Piru ini sudah sangat terlihat, karena hingga saat ini pasar tersebut masih terlihat sepi oleh pembeli. Olehnya itu dikuatirkan menjelang Idul Adha omset mereka bisa turun dratis, jika dibandingkan dengan momen Idul Adha tahun sebelumnya.

“Saat ini pendapatan yang kami dapat hanya sebesar Rp 500 ribu per hari, mudah-mudahan di hari Idul Adha nanti ada pembeli, kalau dilihat jelang Idul Adha ini pastinya kurang pembeli karena masyarakat belum lama ini baru saja merayakan hari lebaran, sehingga Idul Adha kali ini pastinya kurang pembeli dan akan berpengaruh dalam pendapatan di tengah pendemi Covid-19,” ungkap salah satu pedagang pakaian Ny. Nur Ode, kepada Siwalima, Selasa (7/7).

Dijelaskan, biasanya para pedagang pakaian dalam satu hari bisa mendapatkan Rp10 juta hingga belasan juta per hari, dengan adanya wabah virus corona ini pendapatan mereka turun dratis hanya Rp500 ribu per hari.

Kalau di hari hari- besar seperti Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha bisa meraih onset hingga belasan juta bahkan puluhan juta.

Baca Juga: PLN Batasi Jam Pelayanan di 3 Kantor Unit Layanan

“Jauh sekali pendapatan kami dengan adanya Covid-19 ini dibanding tahun lalu, biasanya dalam satu hari kami sudah ramai didatangi pembeli, pengunjung pasar juga sudah ramai. Tetapi dengan adanya wabah Covid-19 pembeli sangat sepih dan kurangnya pengunjung,” ujarnya.

Ia mengaku, pendapatan para pedagang Pasar Rakyat Kota Piru saat ini sangat merosot drastis jelang Idul Adha  di tengah pandemi Covid-19. Sekarang ini dirinya dan pedagang lainnya hanya pasrah dan mampu berjualan dengan pendapatan Rp. 500 ribu per hari.

“Kalau lagi sepi cuma buat penglaris saja satu hingga dua piece yang laku, sehari paling cuma Rp 500 ribu. Padahal kalau biasanya sehari bisa Rp 10 jutah rupiah hingga belasan juta juta yang kami dapat,” paparnya.

Selain sepinya pembeli, ia mengaku, dirinya dan pedagang lain juga dihadapkan dengan kurangnya pengunjung di Pasar Rakyat Kota Piru.

Biasanya jualan mereka di buka jam operasional pasar pukul 07.00 hingga pukul 15.30 WIT, tetapi di pukul 12.00 WIT tidak ada pembeli dan pengunjung lagi. Atas dasar itu sehingga pendapatan mereka turun dratis.

“Selama pandemi Covid-19 ini selaku pedagang pakaian, omset turun dratis, semoga Idul Adha nanti ada pembeli biar pendapatan hanya sedikit, tapi kami tetap bersyukur demi kebutuhan sehari-hari,” pintanya. (S-48)