AMBON, Siwalimanews – Pemerintah Provinsi Maluku terus berupaya untuk meningkatkan ekspor non migas. Selain ikan, kini rempah-rempah menjadi komoditi andalan Maluku untuk menembus pasar luar negari.

Mengenjot rempah-rempah untuk kebutuhan ekspor, butuh kerja sama semua pihak selain petani juga keberanian dari pemerintah kabupaten kota mendukung kebijakan ekspor dari Maluku.

“Jadi selain yang kita kejar sekarang adalah peningkatan mutu komoditi, budidaya, produktifitas serta peningkatan sumber daya petani,” kata Kepala Bidang Perkebuhan pada Dinas Pertanian Maluku Donny Lekatompessy, kepada wartawan, di Ambon, Rabu (7/4).

Diterangkan Maluku memiliki potensi besar meningkatkan pendampatan masyarakat dengan mengembangkan komiditi rempah-rempah yang sejak puluhan tahun lalu membesarkan nama Maluku tingkat internasional.

“Petugas penyuluh lapangan kita terus lakukan pendampingan kepada petani khusus yang menanam rempah-rempah, kemudian memberikan pembinaan sehingga hasil pertanian itu memiliki mutu sesuai dengan keinginan pasar,” terangnya.

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Sejahterakan 25 Ribu Pekerja Rentan

Walapun hasil pertanian milik masyarakat itu banyak namun kendala pada mutu, juga menurutnya, tidak bisa memenuhi pasar ekspor serta akan sangat menyulitkan eskportir membelinya.

Selain itu juga kekurang pahaman petani soal bagaimana meningkatkan produktifitas pertanian juga membuat agar memiliku kualitas yang bagus juga menjadi penting.

“Kuncinya adalah kerja bersama dengan kabupaten kota untuk ikut mendorong pengembangan komodisi rempah-rempah khusus pala yang saat ini sudah diminati oleh pasar di China. Pemerintah kabupaten itu yang punya petani. Kita hanya mendorong dan memberikan pendampingan tapi kalau pemerintah kabupaten kota ikut, saya kira kita bisa mengembalikan kejayaan rempah di maluku,” ujarnya.

Dirinya merincikan dengan potensi lahan pertanian khusus pala di Maluku cukup besar untuk di kembangkan yakni seluas 34.742 hektar yang terdiri dari lahan yang menghasilkan sebesar 17.817 hektar dan lahan yang tidak produktif sebesar 841 hektar sisanya merupakan tanaman yang belum berproduksi.

“Jumlah petani pala di Maluku 31 ribu orang dengan produksi pala tahun 2020 sebsar 5311 ton, petani ini menjadi tulang punggung kita kedepan bagaimana membawa Maluku di era kejayaan seperti puluhan tahun lalu,” katanya.

Namun saat ini masih banyak kendala kenapa pala belum sepenuhnya bisa di ekspor dari Maluku secara utuh. Ada tiga kategori penjualan pala dari masyarakat kepada pembeli. Petani bisa menjualkan hasil pertanian mereka khusus pala, langsung ke eksportir, ada juga di jual ke pengumpul ada juga yang di kirim langsung ke Surabaya baru dijual.

“Ini juga menjadi pekerjaan rumah kita bersama, makanya saya berharap pemerintah kabupaten juga bisa membantu kita. Untuk memberdayakan petani, hasilnya bisa dibeli oleh pemerintah melalui BUMD kemudian di jual ke eksportir yang sudah kita kerja sama, maka selain masyarakat mendapat peningkatan ekonomi, ekspor rempah dari maluku juga bisa berjalan dengan baik,” harapnya.  Ditambahkan, selama ini perusahan yang dikerjasamakan dengan pemerintah untuk ekspor pala dari Maluku masih kesulitan mendapatkan jumlah pala dengan kualitas bagus untuk ekspor karena kebanyakan di kirim Surabaya baru di ekspor.

“Untuk sekali ekspor, mereka terpaksa harus mengumpulkan dari provinsi lain baru kemudian di ekspor dari maluku karena hasil pala kita kebanyakan sudah dibeli oleh para tengkulak, ini juga menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” tandasnya. (S-39)