PANDEMI covid-19 masih terus melanda dunia. Setelah data global tadinya menunjukkan penurunan, kini meningkat lagi dan beberapa negara bahkan kembali menerapkan lockdown dalam berbagai tingkatannya.  Berbagai upaya memang masih harus terus diupayakan agar dunia dapat mengendalikan pandemi terbesar selama kita hidup ini. Salah satu di antaranya tentu menggunakan teknologi terbaru, termasuk melalui pendekatan 4.0. Kita tahu, dalam dunia industri dikenal 4 tahapan yang masing-masing membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Era industri 1.0 ditandai dengan ditemukannya mesin uap, yang lalu berkembang menjadi industri 2.0 dengan meluasnya pemanfaatan tenaga listrik. Kemudian, kita kenal industri 3.0 yang antara lain ditandai pemanfaatan komputer, dan kini, kita dalam masa industri 4.0 yang antara lain sendinya meliputi inteligensi buatan (artificial intelligence), mahadata (big data), internet of thing, 3D printing, augmented reality, dll.

4.0 di bidang kesehatan Perkembangan yang sejalan juga terjadi dalam bidang kesehatan. Ini bermula dengan yang dikenal sebagai Healthcare 1.0 sejak 1800-an, ketika dimulainya peran penting higiene, sanitasi, dan juga konsep penularan penyakit. Lalu, berlanjut dengan era 2.0 pada awal dan pertengahan abad ke-20, dengan munculnya berbagai jenis spesialisasi, rumah sakit yang besar, berbagai jenis antibiotika, dan juga industri farmasi. Kemudian, dunia masuk ke era 3.0 di sekitar 1980-an, yang ditandai dengan meluasnya penggunaan komputerisasi dalam pelayanan kesehatan, berbagai perkembangan pencitraan radiolagi (imaging), serta kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine). Kini, kita memasuki era Healthcare 4.0 dengan mulai makin meluasnya penggunaan inteligensi buatan, mahadata, internet of thing, telemedisin, dan kedokteran presisi (precision medicine). Juga disebutkan, ada beberapa aspek praktis lain dalam penggunaan sehari-hari pelayanan kesehatan 4.0 ini, seperti pemakaian robot di RS, atau semacam jam tangan yang juga mengukur indikator-indikator kesehatan kita. Selain itu, 3D printing dalam proses pembuatan alat kesehatan, termasuk ortotik dan protestik, pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan secara lebih mudah, dll.

Dari kacamata kebijakan (WHO), perkembangan ini ditandai dengan diluncurkannya Resolusi World Health Assembly (WHA) tentang digital health pada 2018. Yang menarik, Indonesia ialah salah satu pengusul resolusi ini bersama 14 negara lainnya. Resolusi kesehatan digital ini membawa babak baru dalam pelayanan kesehatan global, dan diharapkan menjadi salah satu cara utama untuk mencapai tujuan-tujuan kesehatan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Dalam resolusi ini jelas disampaikan bahwa kesehatan digital akan dapat menunjang dan mendukung sistem kesehatan di seluruh negara, juga akan mencakup aspek promosi kesehatan, pencegahan penyakit, serta akan meningkatkan akses, jangkauan, dan mutu pelayanan kesehatan di berbagai pelosok dunia. Disebutkan pula bahwa walaupun teknologi dan inovasi memang akan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan, interaksi antarmanusia juga tetap merupakan komponen amat penting dalam kesehatan dan kesejah­teraan manusia.

Covid-19 Sesudah Resolusi WHO 2018 ini maka dunia di tahun berikutnya dihantam oleh pandemi covid-19. Para pakar, penentu kebijakan publik, pemberi pelayanan kesehatan, dan masyarakat luas pun lalu mencoba memanfaatkan kemajuan industri kesehatan 4.0 untuk ikut menangani situasi yang belum terkendali sepenuhnya ini Setidaknya ada lima ruang lingkup pemanfaatan teknologi 4.0. Pertama, surveilans covid-19. Kita tahu, surveilans dalam bentuk pengumpulan data secara terus-menerus amatlah penting, tidak hanya untuk mengetahui perkembangan pandemi, tapi juga untuk mengambil keputusan kebijakan publik yang tepat. Tersedianya sistem informasi yang terhubung dengan internet dan juga ketersediaan dan pengolahan mahadata akan amat membantu sistem surveilans covid-19. Bentuk lain, pemetaan data secara daring sehingga terbentuk health-map berdasarkan online surveillance mapping tool. Data surveilans juga dapat dihubungkan dengan respons analitik penanganan wabah dalam bentuk Surveillance and Outbreak Response Management and Analysis System (SORMAS). Hanya saja, tentu upaya pengumpulan data memang harus dilakukan dengan amat cermat, serta informasinya selalu terbarukan sesuai perkembangan yang ada.

Data yang ada beserta berbagai indikator terkait juga merupakan modal dasar utama untuk membuat model epidemiologik dan prediksi bagaimana pandemi akan berakhir, tentu dengan menggunakan pendekatan inteligensi buatan. Hal kedua, untuk kegiatan telusur atau trace. Kita kenal cukup banyak negara yang menggunakan aplikasi (app) tertentu yang harus diunduh seluruh penduduk. Kalau sekiranya ada kasus yang positif covid-19, maka proses penelusuran kontak (contact tracing) akan jauh dipermudah dengan teknologi aplikasi ini. Juga, ada negara yang meng­gunakan mahadata yang menghubungkan data kependudukan dengan data asuransi kesehatan, status kesehatan, serta data keimigrasian. Dengan begitu, kemungkinan pengawasan masuknya mutasi virus covid-19 dapat lebih dikendalikan. Monitor juga dapat dilakukan jarak jauh dengan teknologi nirkabel seperti bluetooth, wifi, atau koneksi seluler.

Baca Juga: Peleburan Kemenristek ke dalam Kemendikbud

Berbicara tentang mutasi, hal ketiga dari teknologi 4.0 dalam penanggulangan covid-19 ialah melakukan surveilans whole genome sequencing. Dengan kegiatan sekuensing berskala luas, bahkan sampai ratusan ribu sampel, maka berbagai aspek mutasi dapat dikenal untuk kemudian dikendalikan. Kita tahu bahwa mutasi ini punya empat kemungkinan dampak. Pertama, pada kemampuan diagnosis dengan PCR. Kedua, memengaruhi makin meningkatnya penularan penyakit. Ketiga, mungkin dapat membuat penyakit menjadi tambah berat, dan bahkan meningkatkan angka kematian. Keempat, mungkin memengaruhi efikasi vaksin dengan berbagai akibatnya.

Kalau efikasi menjadi amat terganggu, memang dapat dilakukan modifikasi vaksin, antara lain dengan pendekatan 4.0 juga tentunya. Bahkan juga merupakan bentuk teknologi terbaru yang diterapkan dalam pembuatan vaksin . Pemanfaatan keempat dari teknologi 4.0 ialah pelayanan kesehatan, termasuk penanganan pasien di klinik dan RS. Salah satu contoh yang paling banyak ialah telemedisin, baik untuk konsultasi antara pasien dan petugas kesehatan maupun konsultasi antarpetugas kesehatan, katakanlah dari dokter di daerah terpencil dengan dokter spesialis di RS rujukan tipe A. Bentuk lain konsep 4.0 di RS ialah penggunaan robot di bangsal perawatan, juga teknologi monitoring pasien di ruang isolasi, penggunaan tele-health dalam menapis pasien di ruang triase di instalasi gawat darurat, rekam medik elektronik, dll. Pada konsep lebih luas, maka dalam berbagai teknologi terbaru juga digunakan penyempurnaan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan (Health Management Information System/HMIS). Kelima, pemanfaatan sistem smart supply chain untuk pengadaan obat dan alat kesehatan di berbagai pelosok negeri.

Dalam situasi covid-19, proses pengadaan komoditas kesehatan amat luas, kompleks, dan perlu tersedia cepat karena langsung berhubungan dengan nyawa manusia. Tersedianya sistem manajemen logistik yang amat andal, dengan presisi yang tinggi dan didukung teknologi yang tepat, menjadi kebutuhan sehari-hari yang amat diperlukan. Pandemi covid-19 memang berdampak pada berbagai sisi kehidupan manusia. Selain berbagai dampak buruk yang diakibatkannya, terbangun pula sistem teknologi baru serta inovasi baru untuk menanggulanginya, yang tentunya akan terus berkembang dan bermanfaat setelah pandemi dapat dikendalikan.( Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar FKUI, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Mantan Direktur WHO SEARO, Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes)