AMBON, Siwalimanews – Wilayah Maluku merupakan bagian dari jalur aktif gempa bumi, kondisi fisiografi wilayah Maluku sangat dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Ketiga lempeng tektonik tersebut bertumbukan dan bergerak secara relatif antara satu dengan yang lain, menjadikan wilayah Maluku sebagai salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami di Indonesia bahkan di dunia. Untuk itu, BMKG kembali menambah 14 alat desiminasi di wilayah Maluku.

“Wilayah Maluku memiliki banyak sumber gempa. Secara umum, Maluku memiliki 2 sumber gempa subduksi laut banda bagian utara dan laut banda bagian selatan. Selain itu wilayah Maluku juga memiliki tidak kurang dari 30 segmentasi sesar aktif dari total 295 segmentasi sesar aktif yang telah terpetakan,” ujar Kepala Kepala Stasiun Geofisika Ambon Sunardi, dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalimanews, Selasa (16/6).

Dijelaskan, berdasarkan kondisi tektonik kompleks ini, maka gempa dapat terjadi kapan saja dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman. Hasil monitoring BMKG Stasiun Geofisika Ambon menunjukkan selama periode 2011-2019, rata-rata dalam setahun terjadi gempa sebanyak 1000-1500 kali dan gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 sebanyak 60 kali.

Tidak kurang dari 40 kali kejadian tsunami pernah terjadi di Maluku, salah satunya tsunami dahsyat pada tahun 1674 di Ambon yang mengakibatkan lebih 2 ribu korban jiwa.

Baca Juga: Kelebihan Muatan, Truk Seruduk Pagar Mako Lantamal IX

Terkait kondisi wilayah Maluku yang rawan gempa dan tsunami ini, BMKG memiliki tugas dan kewajiban dalam menyediakan informasi gempa dan peringatan dini tsunami yang tertuang dalam UU Nomor: 31 Tahun 2009, dan Perpres Nomor: 93 Tahun 2019.

“Sebagai salah satu implementasi dari tugas dan kewajiban tersebut, maka BMKG melaksanakan kegiatan pemasangan alat penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yaitu warning receiver system (WRS) di berbagai wilayah rawan gempa dan tsunami di Indonesia termasuk Maluku,” ujarnya.

Dijelaskan, sejak tahun 2008 BMKG sudah memasang sebanyak 275 peralatan WRS termasuk 13 di wilayah Maluku. Namun demikian, mengingat peralatan WRS masih sangat dibutuhkan oleh pemda dan kantor lembaga/kementerian terkait, maka pada tahun 2020 ini, BMKG memasang WRS generasi terbaru di 315 lokasi termasuk 14 lokasi di Maluku.

14 lokasi di Maluku yakni, Ambon 3 unit, Kepulauan Tanimbar 3 unit, Buru, Buru Selatan, Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara, Maluku Barat Daya dan Kepulauan Aru masing-masing 1 unit .

“WRS generasi terbaru ini memiliki nama baru yaitu “WRS NewGen” yang berbeda dengan WRS sebelumnya. WRS NewGen merupakan terobosan baru BMKG dalam penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami, karena alat ini akan memberikan informasi gempa secara lebih cepat karena bersifat real time,” ucapnya.

Dijelaskan, lokasi pemasangan WRS NewGen tahun 2020 ini mencakup kantor kementrian/lembaga yang tersebut dalam Perpres Nomor: 93 tahun 2019 dan institusi yang terlibat dalam penanganan bencana gempa dan tsunami seperti BPBD, kantor media televisi/radio, serta institusi terkait yang memiliki kerjasama dengan BMKG terkait sharing data dan informasi.

Dengan terpasangnya WRS NewGen ini diharapkan dapat meningkatkan performa penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami dari BMKG Pusat Jakarta ke kantor unit pelaksana teknis BMKG, pemda, lembaga/kemeterian, media, dan lembaga lain yang terkait penanganan bencana.

“Harapan kita dengan adanya percepatan penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami ini, maka akan dapat percepat respon dalam penanganan bencana, sehingga dapat berikan manfaat nyata dalam menyelamatkan masyarakat Indonesia dari bencana. (Mg-5)