AMBON, Siwalimanews – Tingginya minat pencari kerja ke luar negeri karena sumber daya alam di Kota Ambon terbatas.

Selain itu ketidakseimbangan antara ketersediaan lapangan pekerjaan dengan kebutuhan tenaga kerja, baik kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan oleh pasar kerja menjadi salah satu faktor tingginya angka pengangguran.

“Angka pengangguran di Kota Ambon tahun 2022 yang mencapai 11, 67 persen dari total jumlah penduduk,” kata Penjabat Walikota Bodewin Wattimena ketika membuka pelatihan bagi pencari kerja yang akan berangkat ke Australia di Auditorium Balai Pelatian Vokasi dan Produktivitas Ambon, Sabtu (25/3).

Dirinya mengaku pencari kerja yang akan dikirim ke Australia sebanyak 145 orang yang lolos seleksi dari 353 yang mendaftar.

“Ternyata yang menjadi kendala ternyata faktor bahasa, padahal kuota yang disediakan untuk Kota Ambon 1000 orang,” terangnya.

Baca Juga: BPOM: Takjil di Ambon Bebas dari Bahan Berbahaya

Orang nomor satu di kota ini menjelaskan Kota Ambon berbeda dengan kabupaten kota lain di Maluku.

Di Ambon tidak memiliki sumber daya alam yang menarik investor untuk berinvestasi. Kota ini katanya, hanya mengandalkan jasa perdagangan, belum lagi ruang di kota yang sempit membatasi masuknya investasi.

“Daerah lain investasi terus masuk dan membutuhkan tenaga kerja sehingga angka pengangguran menurun, sementara di Ambon tidak punya sumber daya alam yang memungkinkan investor masuk,” jelasnya.

Faktor lain yang mendukung tingginya pengangguran adalah kesenjangan informasi antara penyedia dan pencari kerja. Seringkali penyedia kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang sesuai kualifikasi dan standar yang dibutuhkan.

“Ini soal informasi lowongan kerja yang tidak sampai ke publik dengan baik, sehingga banyak pencari kerja tidak memperoleh informasi tersebut,” jelasnya.

Pemkot tuturnya, tidak dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup, apalagi angka pencari kerja terus bertambah lewat lulusan perguruan tinggi dan SMA.

Pemerintah hanya bisa intervensi lewat proyek-proyek yang dibiayaai APBD, itu pun terbatas untuk para pekerja tanpa skill.

Untuk itu, ia berharap dengan program bekerja di Australia dapat membantu pemkot dalam mengurangi angka pengangguran, meski untuk saat ini hanya 145 orang diberangkatkan.

Olehnya, kedepan pemerintah akan meningkatkan kualitas pencari kerja, misalnya dengan pelatihan bahasa Inggris agar kesempatan bekerja di luar negeri dapat dimanfaatkan oleh para pencari kerja yang notabene merupakan generasi muda kota ini.

“Bersama dengan BPVP, kita akan upayakan peningkatan kemampuan berbahasa Inggis bagi pencari kerja,” tandasnya. (S-25)