AMBON, Siwalimanews – Menyandang predikat sebagai salah satu kota toleran di Indonesia dan kota dengan tingkat kerukunan beragama yang tertinggi di Indonesia moderasi beragama menjadi penting.

Jadi masyarakat harus tetap jaga dan rawat kehidupan masyarakat yang rukun dan harmornis, yang telah terjalin selama ini dengan selalu mengedepankan komunikasi dan dialog, serta musyarawah dalam mencari mufakat dengan menempatkan kepentingan masyarakat umum diatas kepentingan pribadi ataupun golongan,” kata penjabat walikota ambon ketika membuka workshop tentang moderasi beragama di Grand Avira Hotel, Selasa (19/7)

Kegiatan yang digagas oleh Presidium Forum Masyarakat Katolik Indoensia (FMKI) Maluku memandang moderasi beragama sendiri merupakan proses memahami dan mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku ekstrim atau berlebih-lebihan saat mengimplementasikannya.

Hal itu penting, untuk menyatukan agar cara pandang masyarakat prural dan multikultural pada umumnya, tentang keragaman dan perbedaan beragama di Indonesia, dapat disikapi secara bijak. Hal ini sejalan dengan workhsop yang bertemakan “Konsolidasi Masyarakat Katolik Demi Menghidupi Moderasi Bergama di Maluku”.

Walikota juga mengaku sebagai kota majemuk dengan jumlah penduduk cukup padat dan dihuni berbagai suku, ras, dan agama, yang pernah punya sejarah konflik bernuansa SARA.

Baca Juga: Komisi II Sambangi Dua Kementerian, Maluku akan Peroleh Bantuan

“Aspek pemeliharaan kerukunan agama dalam semangat moderasi, menjadi hal yang harus dibangun. Karena itu menjadi jalan tengah dalam memahami ajaran agama,” jelasnya.

Sesuai visi Kota Ambon yakni harmonis, sejahtera dan religus, yang menunjukan nilai toleransi, harmonisasi, dan solidaritas sosial dalam pemeliharan kerukunan agama, pembentukan karakter sipirtualitas, ini menjadi perhatian pemkot.

Bahkan dari visi itu, ia menjelaskan pemkot kemudian mengambil langkah strategis mengangkat branding Ambon  City of Peace yang didukung dengan pembangunan fasilitas kegiatan beragama dan event-event nasional keagamaan.

“Sehubungan dengan kegiatan dimaksud, tentu sangat diapresiasi. Karena bisa menjadi upaya untuk terus membangun hubungan yang harmonis antar umat beragama di Maluku,” pesannya.

Hadir pada kegiatan tersebut Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra dan para peserta workshop. (S-25)