AMBON, Siwalimanews – Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum dan Keuangan, Jantje Tjiptabudi mengatakan, honor dosen Fakultas Teknik Unpatti, Kreison Pisty Larwuy tanggung jawab fakultas.

Hal itu disampaikan Jantje Tjiptabudy, kepada Siwalima, melalui telepon selulernya, Rabu (11/9), menyikapi surat terbuka yang disampaikan Kreisson Pisty Larwuy, dosen honor Fakultas Teknik yang delapan bulan belum menerima upahnya.

“Dia kan dosen honor di Fakultas Teknik sehingga menjadi tanggung jawab fakultas untuk membayarnya. Kecuali jika dia dosen tetap maka pihak rektorat yang langsung membayarnya,” tandas Tjiptabudy.

Dijelaskan, pembayaran upah dosen honorer di masing-masing unit melalui dana peneri­maan negara bukan pajak (PNBP) di fakultas. “Memang pembayarannya melalui rektorat tetapi melalui dana PNBP dari fakultas yang bersangkutan,” ujarnya.

Sebelumnya delapan bulan, dosen honorer di Fakultas Teknik Unpatti belum diberikan upah.

Baca Juga: Demo Gerakan Pemuda Nusantara Nyaris Ricuh

Hal ini terungkap saat salah satu dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Kreison Pisty Larwuy membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Rektor Unpatti, MJ Saptenno, yang diposting pada akun facebook milik Donny Ambones, tertanggal 9 September 2019.

Berikut isi surat terbuka tersebut tertanggal 8 September yang berbunyi : Saya Kreisson Pisty Larwuy ,ST.,MT merupakan salah satu dosen yang mengajar di fakultas teknik khususnya yaitu Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota. Saya telah mengajar selama kurang lebih 2 Tahun dan selama 8 bln terakhir kewajiban kami blm dibayarkan oleh pihak kampus. Kami sebagai Dosen Honor hanya 500rb/bln dan dibayarkan setiap 6bln sekali sebesar 3juta rupiah/semester.

Satu Hal yang menjadi pertanyaan saya Apakah Unpatti kampus terbesar di provinsi ini tidak memiliki dana ? sedangkan faktanya jumlah mahasiswa PWK kurang lebih 500 orang dengan SPP sebesar 3 sampai 3.5 juta per semester. apakah dengan pendapatan sebesar itu masih belum cukup untuk membayarkan gaji kami ??

Kami tidak menuntut banyak hanya saja kami meminta kejelasan dan meminta agar hak kami diberikan, karena kami telah melaksanakan kewajiban kami. Terima kasih.

Saat dikonfirmasi, Larwuy mengatakan, selama ini pihaknya telah melaksanakan tugasnya sebagai dosen yang sesuai kesepakatan awal itu akan dibayarkan honor sekitar Rp 500 ribu, yang dibayarkan setiap akhir semester. Dan selama ini berjalan dengan lancar namun sekarang ini entah kenapa hingga semester genap berakhir, honor tersebut belum dibayarkan.

“Kami juga tidak tahu, alasan apa sampai honor kami di semester genap tahun ajaran 2918/2019 sampai hari ini belum dibayarkan sehingga saya mengambil keputusan untuk membuat surat terbuka itu karena selama ini kami telah berproses, melalui ketua program studi sampai ke tingkat  dekan bahkan sudah diproses hingga ke tingkat rektorat tapi info yang kami dapatkan itu tidak bisa dijadikan sebagai pegangan justru, kami hanya disuruh menunggu dan bahasanya satu dua hari lai, ada juga bahasa bahwa nanti dua minggu lagi sudah proses tapi sampai sekarang belum teralisasi dan hanya janji-janji manis yang kami dapatkan,” tandas Larwuy, kepada Siwalima, melalui telepon selulernya, Selasa (10/9).

Kata dia, lantaran janji-janji manis itulah maka dirinya memberanikan diri untuk membuat surat terbuka ini dengan segala resikonya yang mungkin akan dihadapi tetapi lebih baik bersuara mewakili teman-teman lainnya yang nasibnya juga terkatung-katung.

“Di Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah Dan Kota (PWK), ada empat orang tenaga dosen honorer yang sudah mengabdi kurang lebih dua tahun dan nasipnya seperti yang saya tuliskan dalam surat terbuka itu. Kami harus bersuara karena sebenarnya nominalnya hanya seberapa padahal pemasukan dari mahasiswa satu angkatan saja bisa membayar kami yang hanya berempat sehingga tidak masuk logika saja kalau harus menunda-nunda dengan alasan yang tak jelas. Kami juga tidak menuntut kenaikan, kami juga tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan kampus, kami hanya meminta penjelasan dan membayar hak kami saja sesuai dengan kesepakatan yang sudah terjadi dari awal,” ujarnya, dengan nada kesal.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Unpatti, W.R Hetharia, yang dikonfirmasi Siwalima, di Kampus Fakultas Teknik Unpatti, tidak berhasil ditemui karena sementara berada di luar daerah.

Saat dihubungi melalui telepon selulernya, tidak aktif. Rektor Unpatti, MJ Saptenno yang dikonfirmasi mengaku, belum tahu jika tenaga dosen honorer belum mendapatkan upah.

“Saya belum tahu karena belum dapat surat resmi, nanti saya cek dulu,” ujarnya, melalui telepon selulernya, Selasa (10/9).  (S-16)