AMBON, Siwalimanews – Menanggapi keluhan para supir angkot dalam program WAJAR pada Jumat kemarin, Kepala Dinas Perhubungan Kota Ambon Robby Sapulette mengaku, keberadaan angkutan online, baik, grab, gojek maupun Maxim memang sudah menjadi salah satu persoalan yang lama dikeluhakn oleh, supir angkot maupun ojek konvensional.

Dimana, para sipur dan tuakng ojek ini mengeluh karena, keberadaan angkutan-angkutan online ini, mempengaruhi pendapatan mereka.

“Memang ada beberapa angkutan online diantaranya ada gojek, maxim dan juga grab. Yang sangat mempengaruhi ini Maxim, karena tarifnya sangat rendah, dan Maxim menjadi salah satu kompetitor bagi angkot saat ini, karena masyarakat pelaku perjalanan memilih menggunakan maxim,” ungkap Sapulette kepada wartawan, di Balai Kota, Selasa (25/10).

Sapulette mengaku, tarif rendah yang ditetapkan Maxim merupakan bagian dari promosi, namun nantinya akan ada pada tarif seperti yang lainnya.

“Maxim itu sementara promosi, sehingga tarifnya diturunkan, tapi mungkin dalam waktu tertentu mereka akan kembalikan tarifnya naik lagi, mungkin 3 hingga 4 bulan itu sangat berpengaruh, tapi kami sudah berkoordinasi dengan Dishub  Provinsi sebagai yang punya kewenangan itu,” ujarnya.

Baca Juga: Ini Pengakuan, Dua Gadis Dalam Kardus

Rapat ini nantinya membicarakan terkait persoalan dimaksud, dengan melibatkan seluruh operator online angkutan, sehingga bisa dikendalikan batas tarif mereka.

“Memang kalau batas bawah terlalu rendah angkot pasti mati, oleh karena itu kami minta kepada Dishub Provinsi untuk segera kita rapat. Karena memang itu bukan kewenangan pemkot, tapi kewenangan itu ada pada provinsi,” ujar Sapulette.

Mengingat ini menyangkut kelangsungan hidup dari para supir angkutan kota, sebagai jasa transportasi masyarakat, maka harus ditanggapi serius.

“Kita sedang berkoorsinasi untuk itu dengan Dishub Provinsi, karena kewenangan untuk yang online itu ada pada provinsi,”jelasnya. (S-25)