AMBON, Siwalimanews – Aktivitas prostitusi online sudah menjadi rahasia umum di Kota Ambon. Ironisnya, bukan hanya orang dewasa, bisnis ini bahkan sudah melibatkan kalangan anak-anak usia sekolah.

Operasinya biasa dilakukan mela­lui aplikasi, atau bahkan secara langsung.

Menanggapi hal itu, Kepala Di­nas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Masyarakat dan Desa (DP3AMD), Meggy Mar­tje Lekatompessy menyayang­kan hal itu terjadi.

Lekatompessy mengungkapkan, hal ini diakibat minimnya penga­wa­san orang tua terhadap anak, baik dalam pergaulan maupun soal pengguna gejed atau hanphone.

Dia mengakui, bahwa kondisi ini,memang bisa terjadi dimana saja dengan berbagai macam bentuknya.

Baca Juga: Pempus Batal Bangun LIN di Maluku, Pemprov Belum Siap

“Memang mau dibilang fenomena saya tidak bisa bilang seperti begitu, tapi intinya bahwa, itu juga terjadi di Kota Ambon. Kalau kita dari DP3AMD sendiri dengan tupoksi kita, kita tentu berharap lewat langkah-langkah sosialisasi yang dilakukan, paling tidak bisa menginformasikan tentang pentingnya pencegahannya, walaupun agak sedikit repot karena itu online dan sulit dijangkau,”tuturnya.

Untuk itu katanya, perlu ada kerjasama dengan pihak-pihak terkait, karena dinas sendiri tidak paham secara teknis.

Namun yang paling penting sebenarnya, adalah pengawasan orang tua. Itu yang sangat penting, tentang bagaimana perilaku anak ketika keberadaannya diluar rumah,  dan apa yang diakses anak ketika dia menggunakan gejed.

“Karena pengawasan dari orang tua itu sangat kurang. Penting juga awasi anak dengan siapa dia bergaul, karena kebanyakan juga lingkungan sangat berpengaruh terhadap apa yang dilakukan anak, termasuk soal kejahatan yang terjadi via online,” paparnya.

Kedepan, lanjutnya, pihaknya akan membangun sinergitas de­ngan semua pihak terkait, dalam hal ini OPD-OPD terkait, tokoh-tokoh agama, masyarakat, bahkan pihak sekolah, yang juga punya andil, untuk bagaimana mengatasi hal itu.

Apapun akan dilakukan sebagai langkah pencegahan agar tidak terjadi hal dimaksud.

“Karena kalau sudah terjadi, pada akhirnya mau tangani itu butuh banyak energi, tenaga dan sebagainya. Kita akan koordinasikan,” tegasnya. (S-25)