NAMLEA, Siwalimanews – Dipuncak HUT Kabu­paten Buru ke-23 puluhan mahasiswa yang tergabung dalam IMM, GMNI dan Per­gerakan Mahasiswa Indonesia melakukan aksi demo me­nuntut Penjabat Bupati, Dja­laluddin Salampessy diganti.

Djalaluddin yang baru menjabat empat bulan sebagai pen­jabat Bupati Buru dinilai gagal melaksanakan tugas sebagai Penja­bat Bupati Buru.

Kehadirannya di bumi Bupolo itu dikatakan sarat kepentingan politik tahun 2024. Padahal ia seorang ASN yang ditunjuk sebagai careteker dan bukan dipilih langsung oleh rakyat dengan latar belakang partai politik.

Pantauan Siwalima, massa pen­demo dari IMM, GMNI dan Per­gera­kan Mahasiswa Indonesia melaku­kan aksi demo di dekat Alun-alun Bupolo, lokasi puncak acara HUT Kabupaten Buru ke-23.

Massa berusaha merangsek ma­suk mendekati belakang panggung utama Alun-alun Bupolo. Namun gerakan mereka ditahan personil Satpol PP dan petugas kepolisian dari Mapolres Buru.

Baca Juga: Pengungsi Kariu Terima Paket Sembako Pemerintah

Melalui pengeras suara, satu persatu tokoh IMM, GMNI dan Pergerakan Mahasiswa Indonesia berorasi di pinggir alun alun.

Walau sudah menggunakan pe­nge­ras suara yang keras, aksi para mahasiswa ini tidak sampai meng­ganggu jalannya kegiatan puncak HUT Kabupaten Buru.

Meluapkan emosinya karena tidak dapat menyampaikan sikapa lang­sung kepada Djalaluddin Salam­pessy, beberapa pendemo menum­pahkan kemarahannya lewat penge­ras suara seraya menuding Salam­pessy gagal memimpin Buru.

Karena itu mereka sepakat ber­suara agar Penjabat Bupati Buru segera diganti dengan yang baru.

Satu per satu mereka mengurai kegagalan Djalaluddin, mulai dari masalah BBM yang tidak dapat diatasi kelangkaan di masyarakat.

Kemudian masalah gaji ratusan guru honorer yang berbulan-bulan tidak dibayarkan, sehingga berpe­ngaruh kepada kinerja para guru.

“Bagaimana anak-anak murid mau pintar, kalau guru tidak diperhati­kan,” soroti salah satu orator yang menggunakan jas merah.

Kata aktivis IMM ini dampak dari kebijakan Djalaluddin ini akan membodohi generasi tunas bangsa di Kabupaten Buru.

Sejumlah orator juga mengungkap masalah tunjangan dokter dan nakes di RS Namlea, serta masalah TPP ASN yang sudah memasuki bulan Oktober yang juga belum terbayar­kan dan berbagai masalah lainnya.

Djalaluddin dikritik, karena dalam banyak forum resmi dan panggung-panggung selalu melontarkan defisit APBD sampai Rp100 miliar lebih.

Namun tega menghambur-ham­burkan dana APBD di kegiatan HUT Buru yang ke -23.

Ada juga yang menyentil kegia­tan Inalatu Cup di alun-alun Bupolo beberapa bulan lalu yang ikut me­nguras anggaran dari dana Sekreta­riat Pemkab Buru. Padahal dana untuk kegiatan futsal itu tidak tercaver di APBD.

Mereka juga memasalahkan obat-obatan di RS Namlea yang tidak tersedia secara memadai di sana .

Djalaluddin juga dikritik habis-habisan karena diduga tidak mau menandatangani sejumlah dokumen proyek yang telah menang tender.

Masalah air bersih Kota Namlea juga ikut menjadi sorotan, karena ri­buan pelanggan rumah tangga sudah beberapa bulan ini tidak terlayani PDAM.

Kata beberapa pendemo, ada mesin milik PDAM yang rusak dan perlu diganti yang baru.

Konon sudah tiga kali Kepala PDAM telah meminta langsung kepada Penjabat Bupati.Namun diabaikan sampai hari ini.

Sekian jam berorasi , pendemo mulai kesal karena Penjabat Bupati tidak mau menemui mereka. Ada yang berusaha menerobos barikade petugas, namun selalu gagal dan mahasiswa juga tidak ngotot melewati barikade, karena tidak mau berbenturan dengan aparat.

Usai ibadah sholat Dhuhur, demo kembali dilanjutkan. Namun mereka tidak berhasil bertemu dengan Djalaluddin di Alun Alun Bupolo.

Tiba-tiba ada satu pendemo lewat pengeras suara menginformasikan kalau mereka diancam oleh Djala­ludin. Dan mereka balik menantang tidak takut dengan ancaman.

Djalaluddin memilih meninggalkan Alun-alun Bupolo dengan kenda­raan dinasnya lewat satu sisi jalan belakang panggung yang tidak dikepung pendemo.

Massa sempat gerah  melihat Djalaluddin yang tidak mau mene­mui mereka. Salah satu pimpinan OPD terlihat sempat berjalan ke massa pendemo, sehingga nyaris terjadi insiden, namun penjabat itu keburu diselamatkan petugas kepo­lisian.

Walau penjabat sudah kabur dari Alun-alun Bupolo, para pendemo tidak patah arang dan mengejarnya ke Kantor Bupati Buru.

Setelah di Kantor Bupati, para pendemo akhirnya mau diterima Djalaluddin di Aula Kantor Bupati. Itupun setelah dilobi dan difasilitasi Personil Polres Buru.

Namun pertemuan itu berjalan buntu, karena Djalaluddin terdengar angkuh saat berdialog dengan para pendemo.

Awalnya pertemuan berjalan lancar, beberapa aktivis sempat me­nyampaikan pendapat mereka.

Tiba giliran Djalaluddin berbicara, ia terdengar bersuara dengan nada cukup tinggi.

Sempat memuji-muji diri sendiri yang katanya juga aktivis dan menjadi ketua dari sejumlah ikatan beberapa organisasi, Djalaluddin mengaku tidak alergi dengan demonstrasi.

Selanjutnya, ia balik menyerang para aktivis ini apakah dia tidak pernah terima mereka saat berdemo, seraya mengingatkan para pendemo jangan memfitnahnya.

Djalaluddin lalu menunjukan jarinya kepada salah satu aktivis IMM seraya melontarkan lagi bebe­rapa kalimat. Tidak terima dengan arogansi Djalaluddin, ada aktivis IMM yang berdiri dari kursi  seraya memprotes Penjabat Bupati.

Akhirnya suasana pertemuan jadi kacau balau. Dan puluhan aktivis itu memih meninggalkan aula Kantor Bupati Buru. (S-15)