AMBON, Siwalimanews – Guna menjalankan program kurikulum merdeka, maka para guru di sekolah dituntut untuk lebih kretif dalam proses belajar-mengajar dikelas dan hal itu ditunjukan oleh SMP Negeri 8 Hutumuri, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, dengan melibatkan orang tua murid.

Pasalnya, dengan kurikulum merdeka, guru tidak harus monoton saat mengajar di kelas, artinya, para siswa tidak hanya mendapat pembelajaran yang terfokus pada mata pelajaran yang baku pada mata pelajaran tertentu.

“Jadi kurikulum merdeka, guru dituntut harus kreatif, tidak monoton dalam mengajar, jadi pembalajaran itu harus berpusat pada murid, guru tidak harus ikut guru punya mau dalam mengajar, dengan cuma kasih teks, lalu murid cari dan sebagainya, jadi harus kreatif agar murid itu pahami dan pembelajaran itu harus ada praktek langsung, seperti hari ini,” ucap Tina Sameaputty guru mata pelajaran Bahasa Indonesia pada SMPN 8, kepada Siwalimanews usai bersama orang tua siswa membaqwakan materi tentang jurnalistik, Jumat (10/2).

Sama halnya dengan pelajaran yang hari ini, diikuti para siswa dengan menghadirkan orang tua murid yang memiliki profesi sebagai jurnalis kata Tina, maka siswa bisa belajar tentang jurnalistik, salah satunya tentang bagaimana membedakan berita hoax dan fakta, kemudian bagaimana menjadi seorang jurnalis pemula, serta bagaimana melakukan wawancara serta menulis berita yang baik dan benar.

Baca Juga: Hurasan Minta Pempus Realisasikan Laboratorium Uji Mutu Perikanan

Kegiatan hari ini disebut orang tua masuk sekolah atau orang tua sehari dikelas, yang mana disini pihak sekolah melibatkan orang tua dari siswa sendiri yang punya profesi atau memiliki bidang ilmu apa yang bisa diimplementasikan bagi para siswa di kelas.

“Jadi tujuannya bagaimana para siswa dapat mengenal lebih jauh tentang dunia jurnalistik. Artinya kalau ini diberikan oleh guru, maka kita tentu hanya bisa memberikan materinya saja, tetapi dengan melibatkan orang tua yang berprofesi sebagai jurnalis, maka siswa dapat langsung melakukan praktek, yang tentu diberikan oleh guru, belum tentu sama saat melakukan praktek-praktek itu,” tandas Tina.

Ia mengaku, ketika pihaknya mengkomunikasikan tema pembelajaran ini dengan pimpinan sekolah dan pengawas pendamping dari Dinas Pendidikan Kota Ambon untuk melibatkan orang tua profesi dalam menyampaikan materi ini, mendapat respon yang baik.

“Kegiatan seperti ini berkelanjutan, hanya saja dilihat dari materinya. Untuk saat ini, memang khusus untuk kelas VII, sehingga saat ini kita melibatkan dua kelas dari kelas VII-1 dan VII-2. Jadi intinya, bahwa siswa itu bisa belajar dari mana saja dan siapa saja, bukan hanya dari guru. Jadi ini adalah kegiatan kolaborasi guru dengan orang tua profesi untuk mengajar,” jelas Tina.(S-25)