AMBON, Siwalimanews – Kinerja pelayanan RSUD dr. M Haulussy sebagai salah satu rumah sakit pemerintah yang dijadikan rujukan melayani pasien terpapar Covid-19, mendapatkan kritikan  yang tajam, akibat pelayanan yang tidak maksimal.

Buntutnya, terjadi pada pasien Covid-19 berinisil HK yang terkonfirmasi meninggal 26 Juni lalu dan diungkapkan dalam rapat audiens antara DPRD Maluku, gugus tugas Covid-19 Maluku, anak alm HK serta BP IKATT.

Atas persoalan ini, anggota DPRD Maluku Eddyson Sarimanella meminta, Pemprov dan managemen RSUD Haulussy harus melakukan evaluasi kinerja, melihat kekurangan-kekurangan yang dimiliki, sehingga diperbaiki kedepan.

“Intinya semua kinerja pelayanan perlu ditingkatkan, jangan sampai terjadi HK-HK yang lain,” ujarnya.

Menurutnya, hal-hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan berkaitan dengan pelayanan dan fasilitas kesehatan, serta menyangkut sumber daya manusia sebagaimana yang dikeluhkan oleh salah satu dokter yang hadir dalam adudiens tersebut.

Baca Juga: WTP Pintu Masuk Pemkot Peroleh DID 

Selain itu, menyangkut honor atau insentif tenaga medis di RSUD Haulussy juga harus selesaikan, supaya pelayanan kepada masyarakat  berjalan secara seimbang dengan dukungan semua elemen masyarakat secara bersama-sama.

Dia meminta, kejadian bagi alm HK tidak terulang lagi, akan tetapi kejadian dimaksud perlu dilihat sebagai fakta yang harus menjadi pelajaran bagi manajemen RSUD Haulussy maupun rumah sakit lainnya.

Aspek keagamaan,juga perlu diperhatikan dan jangan sampai hanya melihat dengan sebelah mata terhadap jenazah, serta hal-hal teknis lainnya.

“Atas nama DPRD khususnya dapil Kota Ambon, saya meminta perlu dilakukan  perubahan di RSUD, apalagi merupakan RS pemerintah, sehingga menangani pasien secara profesional. Jangan sampai masyarakat takut dan akhirnya tidak mau terbuka dengan kondisi sebenarnya,”pintanya..

Senada dengan Sarimanella, akademisi Fisip Unpatti, Said Lestaluhu mengakui, memang ketika terjadi penyampaian asprirasi oleh keluarga di DPRD, baru masyarakat mengetahui terjadi hal-hal yang tidak maksimal dilakukan oleh pihak RSUD.

“Terlepas apakah itu pasien Covid-19 atau bukan, tetapi dengan kondisi yang ada tetap harus memperkuat sistem pelayanan rumah sakit, karena itu rumah sakit umum yang dibiayai oleh negara,” ungkap Lestaluhu.

Menurutnya, apapun kasus yang menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, akan tetapi  Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan pasien baik Covid-19 maupun bukan Covid-19 harus ditegakkan, sehingga dari SOP tersebut akan ada ukuran-ukuran yang dapat dijadikan sebagai pedoman dan patokan untuk memberikan pelayanan.

Olehnya, sebagai bagian dari tugas pemerintah Kepala Dinas Kesehatan maupun Managemen RSUD Haulussy harus melakukan evaluasi dan instrospeksi diri terhadap tenaga kesehatan dilapangan, sehingga hal-hal tersebut tidak terulang kembali.

Beberkan Borok Pelayanan

Keluarga almarhum pasien Covid-19 HK membeberkan buruknya pelayanan yang diberikan oleh RSUD dr. M Haulussy kepada almarhum selama menjalani perawatan pada rumah sakit rujukan covid-19 tersebut.

Hal ini disampaikan oleh anak Alm HK Sahal Keya saat rapat audiens bersama Tim I pengawasan penanganan Covid-19 DPRD Maluku yang turut dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Maluku, Plt Direktur RSUD dr. M Haulussy serta dua dokter spesialis penyakit dalam yang melayani alm HK, Kamis (9/7).

Sahal menjelaskan, selama 3 bulan terakhir sebelum Alm HK telah meninggal mengalami lumpuh dan dirawat di RSUD Masohi dengan kategori sebagai pasien dalam perawatan khusus, sehingga harus dilayani lebih dari 2 orang.

Setelah hasil pemeriksaan pada RSUD Masohi keluar Alm harus rujuk ke RSUD Haulussy dan rujukan tersebut bersifat segera, karena kanker rektumnya sudah  semakin parah, walaupun hasil pemeriksaan di RSUD Masohi Alm non reaktif namun karena dalam perjalanan ada gelombang membuat kondisi menjadi menurun.

Sesampainya di RSUD Haulussy, ada dalah satu petugas yang menyampaikan jika RSUD Haulussy tidak melayani pasien non Covid-19 tetapi hanya pasien covid-19. Alhasil, Alm diarahkan ke RS Bhakti Rahayu yang kemudian setibanya di RS Bhakti Rahayu langsung dilakukan rapid tes ternyata hasil pemeriksaan reaktif sehingg kembali diarahkan ke RSUD Haulussy.

Tibanya di RSUD Haulussy Alm dimasukan ke ruangan tetapi ada satu kejadian yang membuat keluarga Alm tidak dapat menerima sampai saat ini, dimana ada satu surat yang diminta ditandatangani oleh petugas RSUD Haulussy.

“Yang penyampaiannya tu begini “tanda tangan saja almarhum reaktif tapi tidak menunjukan gejala apa-apa, tanda tangan saja tidak usah baca, tanda tangan saja,” beber Sahal.

Atas permintaan itu, salah satu anak HK meneruskan kepada kakaknya dan kemudian oleh kakaknya datang untuk menandatangani surat tersebut. Akan tetapi keanehan masih berlanjut ketika HK diangkat dengan menggunakan APD lengkap.

“Diambulans kami bertanya ini mau kemana dan dijawab keruang isolasi, kenapa dibawah ke ruang isolasi, jawabnya kan bapaknya Covid-19,  kami pasrah sebab, Masohi sampai di Ambon yang katong inginkan bapa dioperasi untuk sembuh itu saja,” terangnya.

Sahal menegaskan, tindakan apapun yang diambil oleh petugas, keluarga tetap ihklas dengan harapan HK dapat dioperasi. Setelah masuk diruang isolasi selama empat hari barulah keluarga diijinkan salah satu dokter untuk bertemu dengan Alm dengan menggunakan APD lengkap.

Dalam kesempatan ini, Sahal menyampaikan rasa terima kasih kepada tenaga medis yang telah merawat Alm, akan tetapi pelayanan tidak maksimal. memang benar Alm dilayani dengan diberikan makan  dan obat tetapi pelayanan yang ada tidak maksimal.

Hal ini dapat dibuktikan ketika anak perempuan Alm (adik Sahal) menemukan kotoran kering dibadan Alm ditambah lagi puring back atau tempat kencing kateter yang digunakan Alm tak terurus sampai berbentuk bulatan seta Alm mengeluh perut bagian bawahnya sakit pantat perut sakit.

“Almarhum itu lumpuh jatuh taduduk beberapa jam yang sampaikan ini clining service kepetugas baru petugas ambil tindakan, Almarhum muntah mandi-mandi muntah keluarga berteriak keras minta tolong baru diambil tindakan. Almarhum itu tidak bisa diurus satu orang mau ke kamar mandi harus dikele dan digendong,” ujarnya.

Menurutnya, Alm memiliki enam penyakit komplikasi dan masuk dalam kategori parah tetapi yang diinginkan hanya tumor rektum yang diderita dapat segera dioperasi.

Sambungnya, hari ketiga Alm di RS wajahnya telah mengalami bengkak sedangkan hari kesembelim baru dikonfirmasi jika albumin Alm rendah hanya 1 koma sehingga kondisinya drop. “Itu hari ketiga, hari kesembilan baru dikonfirmasi enam hari bikin apa saja bu,” geramnya.

“Kenapa dari RST pernah perawatan itu, mereka konsen dengan penyakit bawaan tapi di RSUD mereka hanya fokus ke Covid-19? Demi Allah tiga hari sebelum almarhum meninggal beta cukur almarhum, beta tanya bapak sesak nafas seng, panas seng, demam seng, lalu bapa apa sakit belakang yang sakit dan beta pastikan itu tumor rektumnya, Almarhum jatuh dua kali bagi beta pelayanan sangat ngeri mengerikhkan di RSUD,” cetusnya sambil menanggis.

Kata dia, Alm juga memiliki riwayat penyakit maag akut sehingga setiap dua jam harus diberi makan, tetapi sejak pukul 02 Alm sudah mengeluh lapar dan haus sampai meninggal. Karena keluarga tak ingin berlama-lama dan menyampaikan untuk dikuburkan dengan protokol Covid-19.

Sahal juga mempertanyakan alasan harus ada standar ganda dalam pelayanan kepada pasien Covid-19 termasuk Alm.

Ditambahkannya, dirinya selama tiga jam diruangan dengan APD lengkap, namun karena kasihan dengan kondisi Alm, dirinya langsung membuka APD dan mencium, alkasil 28 hari malakukan kontak tetapi hasil rapid tes negatif dan swab negatif

“Saya mau sampaikan, saya rapid non reaktif dan swab saya negatif, adik saya kontak 1 bulan rapid negatif, swab negatif, kalau ikut prosedur almarhum meninggal karena Covid-19  secara nurani almarhum meninggal karena kanker rektumnya,” tandasnya

Olehnya, Sahal meminta kepada gugus tugas untuk dapat mengevaluasi pelayanan yang diberikan di RSUD Haulussy sehingga tidak muncul Hasan Keya lainnya.

Sementara itu, Hajar Malawat dokter spesialis penyakit dalam yang menerima Alm saat masuk RSUD Haulussy dalam kesempatan itu meminta maaf karena pelayanan yang diberikan dirasa kurang maksimal.

“Sekali lagi kami tidak membela diri, sampai ada pempers tertinggal di peti jenazah kami selaku tim kami memohon maaf sebesar-besarnya, Cuma kendala kami adalah jumlah pasien yang sangat banyak 40 dengan satu orang dokter dan empat perawat,” timpalnya.

Menurutnya, jika kebetulan yang dirawat pasien Covid-19 dengan tanpa gejala itu hal yang mudah, akan tetapi  jika pasien dengan keadaan mobilisasi yang membutuhkan 5 orang hal ini justru menjadi kesulitan tersendiri apalagi dengan menggunakan hasmat. (Cr-2)