AMBON, Siwalimanews – Perayaan ulang tahun yang kedua, the Second Aniversery Ambon City of Music (ACOM) akan dirayakan di Ambon.

Walikota Ambon, Richard Louheapessy mengungkapkan, perayaan HUT kedua ACOM akan melibat­kan semua pihak tanpa terkecuali de­-ngan tetap menerap­kan protokol kesehatan.

“Nah kita akan memperingati dia dengan tetap mem­perhatikan protokol kesehatan. Kita akan melibatkan semua potensi-potensi musik yang ada dimasya­rakat,” kata Louhenapessy saat ditemui wartawan, di Balai Kota Ambon, Senin (27/9).

Louhenapessy mengungkapkan, yang paling utama dalam perayaan kali ini adalah persamaan presepsi masyarakat terkait dengan arti penting dari, brend yang dimiliki Kota Ambon saat ini, yakni ACOM itu sendiri.

“Karena masyarakat juga, masih tidak memahami ini, soal bagaimana posisi Ambon sebagai ACOM ini,” katamya.

Baca Juga: Pemilik Lahan Palang Jalan Masuk Asrama Haji

Salah satu rangkaian acara yang akan disisipkan nanti, saat menjelang perayaan, menurutnya akan diadakan dialog khusus pembahasan terkait dengan brend ACOM, yang kemudian akan ditinjau dari beberapa presepsi baik dari Pemerintah selaku penyedia fasilitas, bahkan Musisi.

“Akan ada satu hari hari dialog tentang musik ini, tentang ACOM ini, bagaimana pemerintah melihat­nya, bagaimana mas­-yarakat melihatnya, bagaimana akademisi melihatnya. ACOM bukan berarti segala sesuatu ada musik namun, itu hanya sebagai asesoris karena pemberian brend ini berdasarkan dengan cultur kita selaku orang Maluku yang selalu bernyanyi disaat melakukan aktifitas,” tandasnya.

Sebelumnya perayaan ACOM perdana diselenggarakan di Jakarta dan mendapat banyak kecaman dari masyarakat. Lang­-kah yang dilakukan pemkot justru akan menghilangkan identitas Ambon sebagai icon kota musik.

“Icon kota musik dunia itu harus lebih dulu dirasakn oleh masyarakat Ambon itu sendiri dan bukan masyarakat lain. Kalau pagelaran sebatas virtual, kenapa tidak bisa digelar di Ambon saja. Kebapa harus buang duit jauh-jauh ke Jakarta. Ini namanya pemborosan,” kata musisi profesional asal Ambon, Figgy Papilaya kepada Siwalima, Minggu (1/11).

Papilaya menyayangkan Pemkot Ambon menggelar acara Colorful ACOM secara virtual dan dilaksankandijakarta.

Papilaya mengkritik Pemkot Ambon, bukan karena dirinya tidak diikutsertakan dalam kegiatan ACOM tersebut. Tetapi sebagai orang yang berkecim­pung di dunia musik, ia menilai pemkot tidak menghargai masyarakat Ambon. “Ini bukan karena tidak dilibatkan atau sakit hati. Oh itu bukan ya. Saya juga sejauh ini puji Tuhan masih dipakai di ibukota. Tetapi sebagai seorang seniman musik saya mau bilang, bahwa kita kehila­ngan identitas. Ambon ayo kita juluki aja kota deklarasi dan bu­-kan kota musik. Bikin acara di Jakarta mengabaukan musisi-musisi lokal lainnya ini kan se­-suatu yang sebenarnya tidak bo-leh terjadi,” kata Papilaya. (S-52)