NAMLEA, Siwalimanews – DPRD Buru memangkas seluruh dana perjalanan dinas dan biaya-biaya lainnya di pos Sekertariat Dewan guna dialihkan untuk penanganan pencegahan covid- 19, ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi dengan total dana mencapai Rp 3,1 miliar.

“Lembaga DPRD Buru telah menyepakati untuk penanganan waspada covid 19 di Buru. Untuk itu atas nama lembaga sudah dialihkan pos anggaran sekertariat DPRD untuk perbelanjaan penanganan waspada covid 19 dan  ketahanan pangan serta stabilitas ekonomi senilai Rp 3,1 miliar,” jelas Ketua DPRD Buru, M Rum Soplestuny di Namlea, Jumat (3/4).

Ia berharap dana Rp 3,1 yang dialihkan ke tim gugus penanganan covid 19 itu dapat dimanfaatkan dengan baik.

“Anggaran ini diharapkan untuk dibelanjakan sesuai kebutuhan, sehingga nantinya dapat dipertanggungjawabkan dengan baik,” pintanya.

Dalam rangka fungsi pengawasan, DPRD nantinya juga akan mengadakan rapat terbatas dengan tim gugus tentang kesiapan mereka dalam membelanjakan anggaran penanganan covid-19, ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi di daerah ini.

Baca Juga: Ketua Gugus Tugas akan Diambil Alih Gubernur

Sementara menyangkut kebijakan bupati pada 28 Maret lalu untuk menutup sementara pintu masuk dari arus kedatangan manusia di Buru, Soplestuny menegaskan, rakyat dan semua anggota DPRD mensupport langkah tersebut.

Namun kemudian keputusan baik itu ditarik lagi oleh bupati, dan mengeluarkan keputusan baru dengan lebih memperketat pengawasan pintu masuk, karena ada teguran dari pempus lewat gubernur agar kepala daerah tidak boleh melakukan lockdown.

Walau belum harus ada lockdown di Buru, Soplestuny dan Mukaddar mengaku ketersediaan stok pangan untuk mencukupi kebutuhan lokal masyarakat sangat tersedia.

“Bila suatu waktu harus diberlakukan lockdown, kebutuhan stok pangan kita tersedia sampai bulan Oktober nanti,” ujarnya.

Soplestuny menjamin ketersediaan stok pangan yang sangat cukup sampai Oktober nanti, setelah melakukan pertemuan terbatas dengan Kadis Pertanian Kabupaten Buru dan Kepala Badan Ketahanan Pangan guna membahas hal itu.

Untuk stok beras lokal, dalam bulan April ini petani di Waeapo, Lolongquba dan Waelata  sudah mulai panen. Panennya juga tidak serentak, karena waktu tanam yang juga berbeda, sehingga sampai bulan Agustus nanti masih ada panen di sawah beririgasi. (S-31)