AMBON, Siwalimanews – Kebijakan memberikan honor satgas PON XX Papua lebih besar dari atlet dan pelatih dinilai tidak tepat dan menciderai rasa keadilan.

Atlet dan pelatih yang harus jadi prioritas utama, karena mereka berlatih keras demi mengharumkan nama daerah ini justru tidak dihargai.

Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Maluku, Justina Renyaan menilai KONI Maluku tidak memperhatikan keringat para atlet dan pelatih yang nantinya akan bertanding pada PON XX Papua Oktober mendatang.

Pasalnya kebijakan pembagian honor yang dilakukan oleh KONI Maluku lebih memprioritaskan satgas jika dibandingkan honor yang diterima atlet dan pelatih.

“Keringat mereka tidak dihargai dan kelihatanya ada yang makan keringat mereka,” ungkap Renyaan kepada Siwalima, Rabu (4/8).

Baca Juga: Maluku Bangga

Renyaan bahkan mempertanyakan ada apa di balik perbedaan pemberian honor yang diberlakukan oleh KONI Maluku tersebut.

“Jangan sampai atlet dipakai sebagai tumbal untuk kepentingan orang lain padahal orang-orang yang masuk di KONI merupakan orang yang sudah mapan, sehingga harus mengabdikan diri,” tegasnya.

Ketika memberikan diri untuk menjadi satgas maka tidak boleh mendapatkan hak yang lebih besar dari atlet dan pelatih.

KONI Maluku kata Renyaan, seharusnya memprioritaskan semua atlet dan pelatih dimana honor mereka harus lebih besar jika dibandingkan dengan satgas.

Hal ini karena keberadaan satgas hanya bertugas untuk mengkoordinasikan saja, tetapi yang akan bertanding nantinya adalah atlet.

“Atlet yang setengah mati baru tiba-tiba diberikan hak yang lebih kecil dari satgas ini tidak pas apalagi atlit,” ujar Renyaan.

Diakuinya, selisih honor untuk atlet Rp 2,800.000 pelatih 2,850.000 sedangkan satgas diantara Rp 3-4 juta, tentu saja telah menggambarkan ketidakadilan yang diberikan oleh KONI Maluku.

Politisi Nasdem Maluku bahkan menuding jika KONI Maluku telah menyepelekan atlet dan pelatih, padahal tenaga mereka dibutuhkan oleh daerah ini untuk bertanding.

“Segala-galanya mereka korbankan mengapa musti ada klasifikasi pembayaran seperti ini. atlet mendapatkan yang lebih kecil, ini sebetulnya tidak pas,” kesalnya.

Karena itu, Renyaan meminta KONI Maluku untuk lebih menghargai keringat dari atlet dan pelatih agar target dalam PON XX dapat tercapai.

Sementara itu, praktisi hukum Djidon Batmomilin mengatakan, Petinggi KONI jangan memakan keringat para atlet maupun pelatih sebab mereka akan berjuang pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua.

“Jangan KONI makan keringat para atlet. Sebab mereka tidak akan berjuang dengan baik jika diperlakukan seperti itu,” kata Batmomilin kepada Siwalima, Rabu(4/8).

Honor para atlet, lanjutnya, seharusnya dikoreksi, jika ternyata porsi honor terbesar bukan di atlet dan pelatih tetapi itu ada pada orang-orang KONI maka secepatnya Pemda mengevaluasi masalah ini.

“Para atlet seharusnya menjadi prioritas, sebab mereka berlatih dari pagi, istirahat siang lanjut di sore hari, dan tidak ada pekerjaan lain, mereka hanya fokus untuk meraih,” katanya.

Sementara itu, salah satu atlet kepada Siwalima menyayangkan sikap KONI yang membayar honor atlet lebih kecil.

Atlet yang meminta namanya tak dikorankan ini mengungkapkan, atlet harus jadi prioritas. Dia meminta KONI untuk merubahnya atau merivisi kembali supaya ada keadilan.

Satgas Bantah

Ketua Satgas PON XX Papua yang juga pengurus KONI Maluku, Jan Haumase membantah pernyataan Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Maluku, Samson Atapary yang mengatakan jika honor satgas lebih besar dari atlet dan pelatih.

“Tidak benar itu yang disampaikan oleh DPRD,” ungkap Haumase kepada wartawan saat ditemui di komplek Sekretariat DPD Partai Golkar Karang Panjang, Jumat (30/7).

Menurutnya, anggota satgas merupakan para tokoh profesional di bidang olahraga sehingga honor yang diberikan tidak berbeda jauh hanya berbeda seratus ribu rupiah.

“Beda hanya seratus ribu, atlit 2.800.000, pelatih 2.850.000 dan satgas hanya 2.950.000 lebih, itu saja” tegasnya.

Haumase menjelaskan alasan satgas mendapatkan honor lebih besar seratus ribu karena bekerja dari pagi hingga malam hari.

“Satgas itu kerja banyak, artinya atlit abis latihan setelah itu istirahat satgas juga berkerja sampai malam,” jelasnya.

Selain itu, perhelatan PON mendatang tidak difokuskan pada satu tempat tetapi beberapa tempat sehingga itu juga menjadi pertimbangan KONI Maluku.

Haumase menegaskan jika pemberian honor telah sesuai dengan aturan yang berlaku terkiat dengan keuangan apalagi bendahara KONI adalah orang inspektorat sehingga memperhatikan aturan.

“Penetapan upah diatur dengan aturan keuangan karena bendahara juga tahu karena orang inspektorat,” cetusnya. (S-50)