AMBON, Siwalimanews – Sejumlah mahasiswa yang terga­bung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Ambon melakukan demonstrasi di Kantor Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Maluku, Senin (15/3).

Demo GMNI yang dipimpin Mu­hammad Kilery menuntut transpa­ransi Dinas PU terkait pengerjaan proyek pembangunan trotoar di Kota Ambon.

Mirisnya, demo GMNI ini dibu­bar­kan secara paksa oleh sekelom­pok pemuda yang mengaku sebagai keluarga Kadis PU Maluku, dan bukan dibubarkan pihak kepolisian,

Polisi yang sementara bersiaga dilokasi demo bertindak cepat de­ngan mengamankan para pemuda dan demonstran ke Polsek Sirimau untuk ditindaklanjuti.

Informasi yang dihimpun Siwa­lima di Polsek Sirimau menyebutkan, peristiwa pembubaran paksa terse­but berawal ketika massa GMNI Cabang Ambon melakukan demon­strasi di depan Kantor PU Provinsi Maluku.

Baca Juga: Rutumalessy: Sidang Jemaat Diharapkan Bantu Menata Pelayanan

Dalam aksi itu GMNI memper­tanyakan legalitas proyek trotoar di Kota Ambon yang tidak tertera papan nama proyek.

“Ini merupakan aksi damai, dimana kita pertanyakan transparansi dana trotoar, karena tidak ada papan pro­yek, serta menyampaikan keresahan masyarakat soal trotoar yang di­anggap licin dan membahayakan pengguna jalan, karena dibuat menggunakan keramik,” jelas Kilery kepada wartawan di Polsek Sirimau.

Menurutnya, saat perwakilan demonstran sementara menemui Sekretaris Dinas PU Maluku, Effen­dy Hasanusi guna menyampaikan aspirasi mereka, tiba-tiba mereka mendapat kabar bahwa ada seke­lompok pemuda yang mendatangi rekan-rekannya di luar Kantor PU dan melakukan tindakan anarkis.

“Substansi mereka datang saya tidak tahu untuk apa, karena posisinya saya sementara di dalam ruangan Sekretaris Dinas, setelah itu baru ada teman yang bilang kalau mereka datang langsung melakukan tindakan kekerasan. Bahkan ada teman kami yang jadi korban kekerasan,” ujar Kilery.

Ditempat yang sama ketua kelom­pok pemuda yang diduga melakukan pembubaran paksa aksi demo itu, Abdul Kadir Marasabessy menga­ku, persoalan yang terjadi diaki­batkan miskomunikasi dan dilakukan secara spontan.

Menurut Marasabessy, apa yang kelompoknya lakukan merupakan persoalan harga diri, mengingat kepala Dinas PU Provinsi Maluku Mu­hammad Marasabessy merupa­kan keluarga dari kelompok pemuda ini.

“Prinsipnya apa yang Kita lakukan tadi adalah bagian dari harga diri saja, harga diri kakak laki-laki kita, kalau ada yang bilang setingan itu salah. Ini dilakukan secara spontan dan persoalannya juga sudah selesai. Kita sudah ko­munikasi dengan Ketua Cabang dan sudah diselesaikan secara kekeluar­gaan,” katanya.

Sementara itu, Kapolsek Sirimau AKP Mustafa Kemal membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurut­nya, kedua kelompok ini diamankan untuk dilakukan mediasi.

Soal penyelesaian secara kekeluar­gaan, Kapolsek mengembalikan kepada pihak yang menjadi korban dalam hal ini GMNI.

“Persoalanya sudah kami tangani, yang pasti yang bubarkan bukan kita, siapa mereka, kalian bisalah analisa sendiri. Kalau untuk penyelesaian kita kembalikan ke pihak yang menjadi korban,” kata Kapolsek. (S-45)