AMBON, Siwalimanews – 12 anak pemenang putri anak dan putri remaja/batik, yang akan mewakili Provinsi Maluku ditingkat nasional di Jakarta, bulan Oktober 2022 mendatang, diterlantarkan di Jakarta.

Sebelumnya, ada sekitar 24 anak dan remaja di Kota Ambon, Maluku yang mengikuti ajang pemilihan putri anak dan putri remaja, yang digelar oleh Yayasan Pegaya, di Kota Ambon, yang diketahui adalah milik Joan Pesulima.

Dalam proses perlombaan/pemilihan itu, masing-masing anak diharuskan menyetor Rp. 2.270.000 sebagai uang pendaftaran dan Karantina peserta.

Dalam perjalanan perlombaan tersebut, 12 anak dengan kategori juara 1, 2 dan 3, terpilih sebagai pemenang, dan akan mewakili Maluku ditingkat nasional, pada Oktober mendatang. Namun dalam perjalanan, panitia penyelenggara yang notabennya adalah pemilik Yayasan, seakan lepas tangan dan tidak bertanggungjawab. Padahal, 12 anak dan remaja tersebut, akan membawa nama Maluku diajang tingkat nasional.

Dengan itu, orang tua dari masing-masing kategori pemenang, anak dan remaja, bersama anak mereka, menyampaikan kekecewaan mereka terhadap panitia penyelenggara, yakni Yayasan Pegaya.

Baca Juga: Rencana Pelantikan Raja Pasanea Ditolak

Salah satu orang tua yang anak­nya adalah pemenang juara 1 dalam lomba putri remaja yang sebelum­nya selenggarakan Mei 2022 lalu, kepada wartawan, di Ambon, Senin (5/9) mengaku, upaya untuk menda­patkan kepastian dari panitia terkait rencana keberangktakan 12 peserta, yakni 6 dari pemenang putri anak dan 6 pemenang putri remaja yang didalamnya termasuk putri batik, telah dilakukan. Bahkan beberapa waktu lalu, telah dilakukan miting bersama, baik panitia, peserta dan juga orang tua. Dan dari miting itu, telah disepakati untuk pembuatan proposal yang akan dimasukan ke beberapa pihak dengan tujuan mendapat suport dana untuk 12 peserta tersebut.

Namun hingga kini, hal itu tidak berjalan. Upaya lainpun dilakukan bersama panitia, dan tidak mem­buahkan hasil.

“Sementara upaya lain yang kita sebagai orang tua mau lakukanpun, misalkan menemui ibu Gubernur, karena kita tahu, ibu Widya sangat mendukung ajang-ajang seperti ini, apalagi anak-anak ini akan membawa nama Maluku diajang nasional, tapi itu justru tidak dibolehkan oleh panitia, sehingga kita merasa panitia yang menyelenggarakan event ini, lepas tangan, sementara 12 anak ini sudah harus mempersiapkan diri untuk berangkat,” tutur salah satu orang tua pemenang putri remaja, O. de Fretes.

Dia menambahkan, untuk mengikuti ajang hingga ke tingkat nasional, satu peserta, harus mempersiapkan anggaran kurang lebih sekitar Rp. 30 jutaan, termasuk soal busana, tiket pergi-pulang, akomodasi, dan lain sebagainya. Sehingga, jika panitia lepas tangan dengan 12 peserta yang akan mewakili Maluku ini, itu dianggap sangat keterlaluan.

“Ulah penyelenggara ini juga akan mematahkan mental anak-anak Maluku,”katanya.

Pada kesempatan yang sama, salah satu orang tua pemenang putri anak juga menyampaikan hal yang sama.

Dengan itu, mereka meminta, ada perhatian Pemerintah Daerah, baik Kota Ambon maupun Provinsi Maluku, untuk melihat persoalan dimaksud, dan dapat membantu 12 anak tersebut.

“Mungkin event-event seperti ini tidak terlalu menjadi perhatian Pemerintah. Padahal ini merupakan bakat dari anak-anak Maluku, dan dalam event ini, nama Maluku yang dibawah, jadi mestinya, ini juga menjadi perhatian Pemerintah. Dan panitia yang harusnya bertanggungjawab menfasilitasi itu, tapi ini dibiarkan, kita sebagai orang tua bingung juga. Kita harus mencati jalan sendiri,”cetusnya.

Sebagai orang tua dari pemenang ditingkat daerah, pihaknya berharap ada perhatian Pemerintah untuk keberangkatan 12 peserta yang akan mewakili Maluku ditingkat nasional, di Jakarta, Oktober mendatang itu.

Diketahui, kedua orang tua ini juga mengaku, bahwa saat peng­umuman pemenang dalam ajang yang berlangsung Mei lalu, masing-masing pemenang, terutama juara 1 kategori pitri remaja mendapat hadiah uang sebesar Rp. 12 juta. Namun belakangan, dari 12 juta itu, panitia membaginya untuk 24 peserta, sehingga masing-masing, hanya memperoleh sebesar Rp. 500.000.

“Ini juga yang membuat kita bertanya, kenapa pembagian ha­dianya seperti itu. Dan itupun tidak dijelaskan oleh panitia,”ujar orang tua peserta.

Sementara itu, Pemilik Yayasan Pegaya Joan Pesulima, yang dikon­firmasi Siwalima, melalui telepon selulernya, tidak aktif. (S-25)