MASOHI, Siwalimanews – Warga Dusun Mahu, Negeri Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, minta kepada pemerintah untuk merelokasi pemukiman mereka ke lokasi yang aman.

Pasalnya, kejadian gempa yang melanda Tehoru kemarin, membuat tanah ablas atau terjadi patahan itu telah mengancam kehidupan masyarakat pada dusun ini.

Pasca gempa itu, patahan kembali terjadi di sepanjang pesisir pantai dengan panjang sekitar 200 meter, kedalaman 15-20 meter di dasar laut.

Patahan tahun 2006 silam menjadi yang terparah,dimana kurang lebih 15 rumah rumah warga ikut masuk ke dalam laut. Alhasil warga meminta pemerintah merelokasi pemukiman mereka.

Informasi yang dihimpun Siwalimanews menyebutkan, warga Dusun Mahu, hingga kini masih berada di lokasi pengungsian dan berharap pemerintah dapat merelokasi mereka.

Baca Juga: Di DPRD, Aliansi OKP Soroti Pengawasan Dana SMI

Alimudin warga Dusun Mahu mengaku, masyarakat bersedia menyiapkan lahan untuk direlokasi, jika pemerintah bersedia membangun pemukiman mereka.

“Semua warga masih di lokasi pengungsian di tempat tinggi. Kami pastikan semua warga siap direlokasi. Ancaman patahan yang kembali terjadi dapat dilihat saja dan ini sangat mengerikan dan mengancam kehidupan masyarakat di dusun ini. Kami berharap pemerintah bersedia membangun pemukiman baru bagi kami,” tuturnya.

Untuk diketahui wilayah Dusun Mahu memang berada tepat diatas sesar aktif pulau seram yang tidak layak dibangun pemukiman warga. Dimana jika terjadi gempa wilayah itu rawan patahan dan amblas.

Bob Rahmat mantan Kepala BPBD Malteng yang juga ahli geologi menjelaskan, wilayah Dusun Mahu memang tidak layak dibangun pemukiman, sebab wilayah itu berada diatas garis patahan aktif yang berpotensi terjadi patahan atau amblas ke dasar laut, akibat longsor bawah laut, dan daerah itu menjadi pusat gempa yang akan terus berulang.

“Rekomendasi wilayah Dusun Mahu itu untuk direlokasi sebenarnya sudah terbit sejak tahun 2005 jadi memang lokasi itu tidak layak ada pemukiman,” jelasnya.(S-36)