AMBON, Siwalimanews – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperidag) Kota Ambon, memastikan sampai saat ini Pasar Apung Mardika belum dialiri listrik.

Padahal Dinas Perindag telah menyurati pihak PLN namun belum direalisasikan.

Kepala dinas Perindag Ambon, Sirjhon Slarmanat mengakubelum ada langkah yang dilakukan oleh pihak PLN untuk agar pasar apung mendapatkan aliran listrik.

“Jadi gini terkait dengan listrik di Pasar Apung kita sudah menyurat kan, untuk minta segera dimasukan meter listrik,” kata Slarmanat, kepada wartawan di Baeleo Rakyat, Belakang Soya Ambon, Rabu (18/8).

Slarmanat mengatakan, kendalanya sekarang, PLN meminta agar harus ada 100 lapak barulah mereka dapat mengaliri listrik di pasar tersebut

Baca Juga: Ulah Jaksa, Rakyat Buru tak Nikmati Pembangunan PLTMG

“Ternyata setelah kita berkoordinasi, itu diminta 100 meter baru listrik dimasukan. Tetapi dibawah itu baru sekitar 50-an lebih,” jelasnya Slarmanat.

Oleh sebab itu, guna menjawab keluhan warga terkait dengan tak adanya listrik yang dialiri dilokasi tersebut. Slarmanat berjanji, akan mendesak PLN, agar dapat memasukan listrik dengan total meteran terpasang yang ada.

“Kita berkoordinasi terus dengan PLN, kita desak terus supaya bisa masukan dengan yang sudah ada agar pedagang bisa beraktivitas disitu,” terangnya.

Untuk diketahui, aktivitas jual beli di lokasi pasar apung 1, 2, 3 masih belum berjalan dengan baik dalam hal ini listrik, sehingga masih menjadi salah satu penghambat bagi aktifitas pedagang di lokasi tersebut.

Lapak tak Layak

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Pemkot Ambon dinilai menyewakan lapak yang tak layak dipakai kepada para pedagang dengan biaya yang cukup tinggi.

Hal itu terlihat, dimana para pedagang yang akan masuk ke lapak-lapak yang disediakan pemkot di Pasar Apung harus direnovasi ulang lagi oleh pedagang, bahkan biaya tamabahn yang harus dikeluarkan para pedagang untuk merenovasi lapak tersebut mencapai Rp3-4 juta.

Dari 336 kios atau lapak di Pasar Apung, sebanyak 270 lapak ditempati pedagang pakaian dari gedung putih yang tergabung dalam Ikatan Pedagang Pasar Mardika lantai I dan II (IPMA).

Budiman salah satu pedagang yang akan tempati Pasar Apung menyesali sikap pemkot, sebab lapak yang diberikan harusnya sudah siap dipakai, namun ternyata mereka harus mengeluarkan biaya tambahan lagi untuk merenovasi lapak-lapak tersebut.

“Kita harus keluarkan biaya 3 sampai 4 juta untuk renovasi, belum lagi ditambah biaya sewa lapak mencapai 10 juta,” ungkapnya.

Pedagang lainnya Neti juga mengeluhkan hal yang sama, dimana  dengan biaya renovasi yang cukup besar terpaksa harus mereka keluarkan. Dengan demikian, hingga saat ini belum ada pendapatan yang mereka peroleh, sebab lapak-lapak    yang akan ditempati masih direnovasi.

“Tidak ada pendapatan yang masuk ditambah lagi adanya PPKM mikro diperketat, ya kita tetap merasa dirugikan karena pendapatan tidak masuk,” ucapnya.

Jubaidah pedagang lainnya juga meminta Walikota Ambon untuk dapat meninjau lokasi lapak yang ditempati para pedagang di Pasar Apung. Pasalnya kondisi lingkungannya tidak menyenangkan bahkan menjadi ancaman bagi pedagang.

“Saya harap, pemerintah  dalam hal ini Walikota Ambon Richard Louhenapessy dapat secepatnya tinjau lokasi lapak, biar bisa tahu kondisi di lapangan seperti apa,” harapnya. (S-52)