AMBON, Siwalimanews – Terminal Mardika tidak lagi ber­fungsi sebagai tempat parkir ang­kutan kota, menurunkan penum­pang dan menaikan penumpang, tapi kini berubah total menjadi tempat aktivitas pedagang kaki lima (PKL).

Pemandangan ini sudah berlang­sung setahun lamanya, tapi Peme­rintah Kota Ambon melalui Dinas Perhubungan hanya menutup mata. Sopir angkot mengeluh tidak bisa menggunakan areal terminal, lanta­ran dihalangi PKL.

Mirisnya, retribusi setiap harinya di­bayarkan ke Pemkot, namun di­duga dicuri oleh oknum-oknum pe­jabat Dishub berikut retribusi  PKL yang beraktivitas di dalam terminal. Maklum, PKL leluasa beraktivitas di areal terminal lantaran dilindungi oleh oknum-oknum pejabat Dishub Kota Ambon yang setiap saat me­nagih upeti dari PKL tersebut.

Pantauan Siwalima, lokasi terminal terkesan telah beralih fungsi. Setiap sisi didalam terminal telah didirikan lapak-lapak PKL, yang kemudian bertujuan untuk menjual setiap barang dagangannya.

Puncaknya, mulai pukul 07.00 WIT hingga 22.00 WIT. Hal ini tentu saja membuat resah para sopir angkot yang juga menggunakan fasilitas pemerintah itu untuk menunggu penumpang.

Baca Juga: Bungkam, DPRD Tuai Kritik

Alexander Pitris salah satu sopir angkot kawasan Kayu Putih ini mengungkapkan, para pedagang sudah menduduki terminal seolah hanya mereka yang menggunakan lokasi tersebut. Sementara mereka juga membayar retribusi angkutan umum.

“Biasanya kalo sudah mau mati-mati gelap (sore menjelang malam Red), dorang ini (PKL) jualan sudah tidak mau tau lai,” katanya dengan logat Ambon kental kepada Siwalima di Ambon, Rabu (2/6) .

Diakuinya, tindakan para PKL ini tentunya memicu kemacetan. Waktu tempuh yang diperkirakan singkat, dapat terbuang lantaran kemacetan yang ditimbulkan akibat aktivitas pedagang.

“Macet ini kan karena PKL dorang ini kan susah diatur, apalagi kalau sudah jam begitu petugas sudah pulang ya sudah imbasnya aktivitas jadi terganggu,” keluh Alaxander.

Tak hanya Alexander, Ronny de Fretes juga salah satu sopir angkutan umum yang menggunakan fasilitas pemerintah itu mengungkapkan, dirinya resah dengan tidak adanya perhatian dari pemerintah kota.

Menurut de Fretes, PKL harusnya ditertibkan karena terminal bukan berfungsi sebagai tempat jualan. “Katong ini sebenarnya setengah mati juga karena pedagang banyak sampe sudah setengah terminal. Sebagai sopir angkot, kalau mau keluar pasti kena macet saja. Ada yang masuk ada yang kelur, belum lagi masyarakat berbelanja itu yang macet,” ungkapnya.

Ia meminta, Dinas Perhubungan Kota Ambon sebagai pihak yang paling bertanggung jawab segera menertibkan para pedagang tersebut. “Harus tertibkan. Katanya mau bikin kota ini indah, padahal terminal saja amburadul. Pemkot parah,” tandas de Fretes.

Yapi sopir angkot Kudamati juga mengeluhkan hal yang sama. Yapi heran petugas Dishub tidak mampu bertindak tegas, malahan diajak ngobrol dengan PKL.

“Petugas Dishub mau bikin apa, paling duduk ketawa ajak ngobrol dengan PKL. Uang sudah tutup dalam muka sampe seng pikir ini terminal fungsinya apa,” kesalnya dengan dialog Ambon yang kental.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Ambon, Robby Sapulette yang di­hubungi melalui telepon selulernya guna mengkonfirmasi amburadulnya Terminal Mardika tidak berhasil lantaran telepon selulernya di luar serivice area. (S-52)