AMBON, Siwalimanews – Elektabilitas pasangan Benyamin Thomas Noach dan Agustinus Kilikily sulit ditandingi di MBD.  Apalagi didukung oleh mayoritas partai politik.

Pasangan Noach-Kilikily saat ini didukung PDIP, Demokrat, Nasdem, Hanura yang masing-masing memiliki tiga kursi, dan PKPI dua kursi.

Golkar yang juga memiliki tiga kursi lagi pusing. Calon yang diusung, Desianus alias Odie Orno dan Bastian Petrusz gagal mendapatkan rekomendasi dari Demokrat.

Partai berlambang pohon beringin ini nekat membuang Odie Orno dan mendekati Gerindra untuk berkoalisi. Posisi tawar Golkar terpaksa diturunkan. Calon bupati diserahkan kepada Gerindra, sementara Golkar turun ke posisi wakil.

Golkar harus mengalah dan rela membiarkan kursi calon bupati ditempati Gerindra.  Ini satu-satunya cara untuk merayu partai besutan Prabowo Subianto ini, agar mau berpasangan.

Gerindra tak mungkin mengalah, dan rela Nikolas Kilikily yang dicalonkan sebagai bupati mengambil posisi wakil. Golkar yang tak mau kehilangan harga diri, jika menjadi penonton mau tak mau harus mengorbankan Odie Orno.

Lalu apakah koalisi Gerindra dan Golkar akan menjadi kekuatan yang solid? Kalangan akademisi dan pengamat politik meragukan soliditas kedua partai jika terjadi koalisi.

Mungkin solid hanya pada tataran elit partai, tetapi tidak mengakar. Sebab, sejak awal koalisi kedua partai bukan keinginan aras bawah. Kondisi ini akan berdampak signifikan bagi pasangan calon yang diusung. Menang akan sangat sulit.

Kalau ingin menang, Gerindra harus berpikir seribu kali untuk menerima tawaran Golkar. Ada baiknya, bergabung dengan koalisi PDIP dan mendukung Noach-Kilikily.

Lalu apa tanggapan Gerindra? Ketua DPD Partai Gerindra Maluku, Hendrik Lewerissa mengatakan dalam politik tidak ada yang rigid atau kaku, melainkan dinamis, cair dan komunikatif. Kemungkinan apa saja bisa terjadi, termasuk koalisi Gerindra dan Golkar di MBD.

“Sangat mungkin itu terjadi koalisi antara Gerindra dan Golkar, sangat mungkin ya,” tandas  Lewerissa kepada Siwalima, Rabu (22/7).

Lewerissa mengaku, Ketua DPD Golkar MBD sedang membangun komunikasi dengan Nikolas Kilikily, calon bupati yang diusung Gerindra. Namun keputusan ada di tangan DPP.

“Jadi jangan ada yang berspekulasi, lebih baik menunggu sampai DPP memutuskan arah rekomendasi dalam pilkada MBD,” ujarnya.

Ia menambahkan, kalau pasangan calon bupati dan wakil bupati berproses di partai yang satu, dan tidak fokus di partai yang lain. Tetapi besoknya, fokus di partai itu, adalah sesuatu yang biasa saja dalam politik.

“Jadi jangan dianggap itu sesuatu yang tidak bisa, politik itu sesuatu yang dinamis saja,” ujarnya.

Akademisi Fisip Unpatti, Wahab Tuanaya mengatakan, partai besar akan selalu berupaya untuk menanamkan pengaruh agar dapat eksis. Olehnya, selalu ada strategi untuk mengusung  pasangan calon di pilkada. Dalam politik, kata  Tuanaya, semua kemungkinan bisa terjadi. Bisa terjadi koalisi Golkar dan Gerindra. Bisa juga tidak.

Lanjutnya, kalau terjadi koalisi Gerindra dan Golkar akan menjadikan pilkada di MBD kompetitif.

“Dari sisi realitas kita melihat untuk MBD kekuatan PDIP jauh diatas angin, tetapi bisa saja terjadi sesuatu yang mengejutkan. Yang pasti, partai-partai besar punya ambisi politik untuk meraih kemenangan,” ujar Tuanaya.

Akademisi Fisip Unidar, Surfikar Lestaluhu mengatakan, kalau banyak partai besar berkoalisi bisa jadi kekuatan dan juga kelemahan.   “Partai-partai besar ini memiliki ego partai yang tinggi, ini akan bisa berpengaruh,” ujarnya.

Jika Golkar dan Gerindra memilih untuk berkoalisi, kata Lestaluhu, akan terjadi pertarungan sengit. “Pasti sengit, karena berhadapan dengan kekuatan PDIP yang besar bersama partai koalisi yang mendukung petahana,” tandasnya. (Cr-2)