AMBON, Siwalimanews – Pernyataan asal bunyi Kepala Dinas Kesehatan Maluku, Meikyal Pontoh yang membuat resah mas­ya­rakat soal penyebab perbedaan hasil uji swab, membuat Kepala Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Lingkungan Peng­en­dalian Penyakit (BTKL PP) Ambon, Budi Santoso turun tangan.

Budi Santoso diminta Ketua Harian Satgas Covid-19 Maluku, Kasrul Selang untuk memberikan penjelasan kepada wartawan, Kamis (19/11) di kantor gubernur soal faktor penyebab terjadinya perbedaan hasil uji swab pasien covid.

Menurut Santoso, ada tiga faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil swab faktor analisis di lapangan, laboratorium, serta faktor anali­sis laboratorium dan admini­strasi.

“Faktor di lapangan sebanyak 60 persen, faktor laboratorium sebanyak 30 persen dan faktor ana­lisasi laboratorium atau pem­bacaan 10 persen. Tiga faktor ini bisa menyebabkan terjadi perbe­daan hasil swab,” kata Santoso.

Santoso menjelaskan, yang diukur dan dilihat adalah virus. Saat infeksi, virus terlihat paling banyak pada minggu pertama dan kedua. “Puncak virus dan akan turun di minggu kelima dan keenam,” katanya.

Baca Juga: Pemprov Kirim 500 Formasi CPNS  ke Kemenpan-RB

Apabila seorang petugas mengambil sampel swab pada saat minggu kelima dan keenam, kata Santoso,  virusnya tinggal sedikit dan hasilnya bisa positif dan negatif. Tapi ketika pada periode puncak, hasilnya uji swabnya pasti positif.

Kenapa analisis di lapangan bisa menjadi faktor penyebab perbedaan hasil uji swab? Menurut Santoro hal ini dimulai dari pengambilan sampel, handling (perlakuan), transport (pengiriman).

“Pengambilan mulai dari orang, cara dan alat yang digunakan, ini yang menjadi penyebab 60 persen perbedaan hasil uji swab spesimen seseorang,” ujarnya.

Faktor berikutnya, analisis di laboratorium sekitar 30 persen. Di laboratorium berkaitan dengan skil SDM, cross-reaksi.

“Kalau di BTKL PP misalnya, kalau sekali periksa bisa 96 sampel spesimen, bisa saja terjadi cross (kesalahan), target tidak spesifik dan jenis reagen yang digunakan juga berpengaruh sehingga bisa saja menghasikan positif palsu. Jadi faktor laboratorium juga mengambil peran 30 persen untuk menciptakan hasil yang berbeda juga,” terang Santoso.

Faktor lain adalah analisis terhadap hasil pembacaan alat. Spesimen setelah dilakukan reaksi-reaksi, kemudian dimasukan ke alat reverse-transcriptase polymerase chain reaction atau (RT-PCR). Alat ini yang akan memberikan hasil atau laporan.

Hasil dan nilai cycle threshold (CT) value dan treshold dibaca oleh analisis. Ini juga sekitar 10 persen bisa menjadi penyebab terjadi perbedaan.

“Tiga faktor inilah yang bisa menjadi penyebab terjadi perbedaan hasil swab, satu positif satu negatif di waktu yang sama, tempatnya berbeda tetapi orang yang sama,” jelas Santoso.

Lalu bagaimana hasil yang dikeluarkan oleh dua laboratorium berbeda, hasilnya berbeda (positif dan negatif) dari sampel yang sama? Santoso mengaku, pemeriksaan alat PCR tidak ada yang 100 persen akurat.

“Paling tinggi ada 99 persen itu yang RT-PCR. Artinya kalau ada 100 sampel diperiksa oleh PCR, 99 itu benar, yang satu ini kemungkinan meragukan,” ujarnya.

Santoso mengungkapkan, saat ini BTKL PP sekarang sudah memeriksa 18 ribu sampel. Dan kalau ditanya apakah semuanya 100 persen benar, tidak.

“Kita kembali lagi, hanya 99 persen yang benar (positif dan negatif). Satu persen inilah dianggap masih bisa berpotensi positif atau negatif, sehingga tim medis tetap menyatakan sesorang itu dinyatakan sebagai pasien terkonfirmasi demi memberikan pengamanan dini kepada orang lain,” ujarnya.

Lalu kenapa bisa terjadi false negative (negatif palsu) atau false positive (positif palsu), Santoso menjelaskan, untuk negatif palsu faktor yang berpengaruh adalah masalah skil, dan teknis. Faktor lainya adalah mutasi virus, kemudian waktu dan lokasi pengambilan sampel. “Ini yang banyak terjadi itu false negatif. Perbedaan alat dan kit yang digunakan juga banyak menghasilakn negatif palsu,” ungkapnya.

Sementara yang positif palsu, kata Santoso, penyebabnya adalah kit dan primer PCR yang tidak sesuai standar yang digunakan. “Artinya apa reagen yang gunakan untuk memeriksa, kemudian adanya kontaminiasi atau pencampuran atau bahan yang dimasukan ke dalam sampel juga bisa mempengaruhi positif palsu,” katanya.

Santoso mengatakan, bila seorang diperiksa PCR dan mendapatkan hasil yang berbeda satu positif dan satu negatif, maka orang tersebut dianggap sebagai pasien terkonfirmasi dan harus mengkarantinakan diri baik mandiri maupun terpusat.

“Dia bisa melakukan periksa ulang, bisa dengan swab lagi atau cukup dengan rapid test,” ujarnya.

Resahkan Masyarakat

Seperti diberitakan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, Meikyal Pontoh membuat masyarakat resah dengan pernyataannya yang menyebutkan, kalau perbedaan hasil uji swab bisa terjadi karena orang yang mengambil swab dan alat yang digunakan berbeda.

Namun pernyataan Pontoh disampaikan tanpa disertai kajian ilmiah. Alhasil, berbagai kalangan termasuk DPRD Maluku mengkritiknya keras. Ia diingatkan untuk berhati-hati menyampaikan pernyataan. Apalagi saat ini banyak masyarakat tak percaya Satgas Penanganan Covid-19.

“Pernyataan itu sangat tidak bijak disampaikan oleh seorang kepala dinas, seharusnya menyampaikan pernyataan yang tidak membuat publik ini ragu terhadap kredibilitas tenaga medis, karena mereka sudah cukup banyak berkorban, honor juga terlambat,” tandas Anggota DPRD Provinsi Maluku, Rovik Akbar Afifuddin, kepada Siwalima, Rabu (18/11).

Akademisi Fisip Unidar Sulfikar Lestaluhu meminta agar Kadinkes sebelum mengeluarkan suatu pernyataan terkait dengan persoalan Covid-19 harus berhati-hati.

“Saat ini ada begitu banyak informasi diluar yang berkaitan dengan ada atau tidaknya Covid-19 telah membuat masyarakat menjadi bingung dan jika ditambah dengan pernyataan dari pejabat maka hal itu akan menambah keya-kinan masyarakat terkait persoalan Covid-19,” ujarnya. (S-39)