AMBON Siwalimanews – Peringati hari pahlawan Martha Christina Tiahahu ke-20, dipimpin oleh Kapolda Maluku Irjen Refdi Andri yang di pusatkan di Monumen Nasional Martha Christina Tiahahu, Sabtu (2/1).

Hadir pada upacara menge­nang wafatnya pejuang asal Nusalaut itu Ketua DPRD Maluku Lucky Wattimena, Kasdam XVI/Pattimura Brig­jen Gabriel Lema, Kepala BNN Maluku Brigjen M.Z Mutta­qien, Danlanut Kolonel Pnb Sapuan, Sekda Maluku dan sejumlah pimpinan OPD Pem­prov Maluku.

Usai peringatan di Monu­men Nasional Martha Christina Tiahahu, dilanjutkan de­ngan tabur bunga yang ber­langsung diatas kapal KRI Kerapu 812 di  Dermaga Irian, Mako Lantamal IX Halong.

Tabur bunga berlangsung di KRI Kerapu 812 dipimpin Komandan Lantamal IX Laks­ma TNI Jokowiyono.

Ikut dalam prosesi tabur bunga Wakajati Maluku Un­dang Magopal, Wakapolda Maluku Brigjen Jan Leonard de Fretes, Sekda Maluku Kasrul Selang dan perwakilan Kodam XVI/Pattimura dan Perwakilan Lanud Pattimura.

Baca Juga: 2020, Angka Kriminalitas di Maluku Turun

Upacara tabur bunga di laut merupakan bentuk penghor­matan atas jasa pengorbanan Pahlawan Nasional asal Maluku tersebut pada 203 tahun silam.

Martha Christina Tiahahu, lahir di Nusalaut, 4 Januari 1800 dan meninggal di Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1818, diusia yang masih sangat belia yaitu berusia umur 17 tahun. Ia adalah seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusa­laut.

Lahir sekitar tahun 1800 dan pada waktu mengangkat sen­jata melawan penjajah Belanda berumur 17 tahun. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiaha­hu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang juga pembantu Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura tahun 1817 melawan Belanda.

Martha Christina Tiahahu tercatat sebagai seorang pejuang kemer­dekaan yang unik yaitu seorang putri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam Pe­rang Pattimura tahun 1817. Di kala­ngan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh, ia dike­nal sebagai gadis pemberani dan konsekuen terhadap cita-cita perjuangannya.

Sejak awal perjuangan, ia selalu ikut mengambil bagian dan pantang mundur. Dengan rambutnya yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah) ia tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran baik di Pulau Nusalaut maupun di Pulau Saparua. Siang dan malam ia selalu hadir dan ikut dalam pem­buatan kubu-kubu pertahanan. Ia bukan saja mengangkat senjata, tetapi juga memberi semangat kepada kaum wanita di negeri-negeri agar ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran sehingga Belanda kewalahan menghadapi kaum wanita yang ikut berjuang.

Di dalam pertempuran yang sengit di Desa Ouw-Ullath jasirah tenggara Pulau Saparua yang tampak betapa hebat srikandi ini menggempur musuh bersama para pejuang rakyat. Namun akhirnya karena tidak seim­bang dalam persenjataan, tipu daya musuh dan pengkhianatan, para tokoh pejuang dapat ditangkap dan menjalani hukuman. Ada yang harus mati digantung dan ada yang di­buang ke Pulau Jawa. Kapitan Paulus Tiahahu divonis hukum mati tembak. Martha Christina Tiahahu berjuang untuk melepaskan ayah­nya dari hukuman mati, tetapi ia tidak berdaya dan meneruskan ber­gerilyanya di hutan, tetapi akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

Di kapal perang Eversten, Martha Christina Tiahahu menemui ajalnya dan dengan penghormatan militer jasadnya diluncurkan di Laut Banda menjelang tanggal 2 Januari 1818. Untuk menghargai jasa dan pengor­banannya, Martha Christina Tiaha­hu dikukuhkan sebagai Pahlawan Ke­merdekaan Nasional oleh Peme­rintah Republik Indonesia. (S-39)