AMBON, Siwalimanews – Masih ditemukan pedagang dan pengunjung di sejumlah pasar tidak menggunakan masker dan beraktivitas tidak jaga jarak, membuktikan pemerintah kota (Pemkot) Ambon lemah dalam pengawasan.

Anggota DPRD Kota Ambon, Ari Sahertian menyayangkan sikap Pemkot Ambon melalui Disperindag yang acuh terhadap aktivitas masyarakat di Kota Ambon. Menurut Sahertian, warga Kota Ambon tipikal keras kepala, olehnya sosialisasi dan himbauan harus sering diberlakukan da saat kondisi pandemi Covid-19 ini.

“Kita kan berlakukan pembatasan sosial berskala regional (PSBR). Itu berarti pemerintah harus siap dengan segala konsekuensi. Pengawasan dalam hal pembatasan aktivitas harus intens. Pengawasan dalam hal jaga jarak dan pakai masker itu juga harus intens. Pasar itu tempat yang rawan, kalau pemerintah tidak memperhatikannya, virus ini akan menyebar karena tidak ada protokoler kesehatan berlaku di sana,” jelas Sahertian.

Ia menghimbau kepada Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Ambon untuk menghimbau masyarakat khusus yang beraktivitas di pasar lebih hati-hati dan waspada.

Sebelumnya diberitakan, aktivitas warga di Pasar Benteng Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon dan Pasar Transit Passo Kecamatan Baguala Kota Ambon memprihatinkan. Wajib masker yang diberlakukan Pemkot Ambon rupanya tidak ditemukan di dua tempat ini.

Baca Juga: Pemkab SBB Bagikan 13.413 Paket Sembako

Baik pedagang maupun pengunjung pasar banyak ditemukan tak menggunakan masker, padahal untuk melindungi diri dari bahaya virus mematikan itu, masker perlu dipakai.

Sejumlah pedagang yang ditemui Siwalima mengaku enggan menggunakan masker dengan alasan menghalangi komunikasi dengan pembeli. Sedangkan pengunjung lainnya mengaku buru-buru ke pasar, sehingga lupa membawanya.

“Tadi beta lupa pake masker barang beta capat-capat ka Pasar makanya beta lupa,” ungkap ibu Ema (36) dengan dialog Ambon yang kental kepada Siwalima di Pasar Benteng Sabtu (16/5).

Sedangkan ibu Mien pedagang di pasar tersebut mengaku tidak menggunakan masker saat berjualan karena sibuk menyiapkan barang dagangan, disamping menggunakan masker menghalangi komunikasi dirinya dengan pembeli.

“Beta kalau pake masker seng bisa berbicara dengan baik. Kadang pengunjung tanya katong jawab dong tinggalkan katong jualan,” ungkap Ibu Mien.

Sedangkan Tuti, pedagang pakaian di Pasar Transit Passo mengaku tidak nyaman ketika mengenakan masker sehingga diabaikan begitu saja. “Beta memang tahu untuk bajual harus  pake masker. Tapi rasa seng nyaman kalau pake akang seharian. Jadi kadag beta buka setelah itu pakai lagi,” ungkapnya.

Ketidaksadaran warga tentang penggunaan masker juga berbare­ngan dengan jarak yang harus di jaga. Himbauan jaga jarak juga ti­-dak dihiraukan. Masih saja peng­-unjung dan pembeli berke­lompok sambil berkomunikasi. (Mg-5)