AMBON, Siwalimanews – Hitungan Golkar meleset. De­sianus Orno alias Odie Orno  yang di­jagokan untuk maju dalam Pil­kada Kabupaten Maluku Barat Daya gagal mendapatkan rekomendasi Partai Demokrat.

Odie yang berpasangan dengan Bastian Petrusz, Ketua DPD Golkar MBD begitu yakin akan menda­patkan tiket dari Partai Demokrat. Sebab, ia sudah menjadi anggota partai berlambang bintang mercy itu.

KTA yang dikantongi Odie itulah yang dijadikan kakaknya Barnabas Orno untuk meyakinkan Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, sehingga akhirnya Golkar memu­tuskan mendukung Odie.

Tetapi Golkar, Odie dan kakaknya lupa politik selalu dinamis. Menjadi anggota partai bukan ga­ransi untuk mendapatkan rekomendasi.

Odie dan pasangannya berada di ujung tanduk. Terancam tidak bisa mengikuti pilkada karena hanya mendapatkan dukungan dari Golkar yang memiliki tiga kursi.

Baca Juga: Saling Klaim Dua Seteru Lama

Akankah Odie dan pasangannya mendekati Gerindra? Partai besu­tan Prabowo Subianto ini memiliki tiga kursi dan belum menjatuhkan dukungan politik. Tak mudah dide­kati. Apalagi sejak awal Gerindra tak masuk hitungan kubu Odie.  Gerindra juga tak mau ditempatkan sebagai cadangan.

Tak hanya di MBD, Golkar juga bisa bernasib apes di Kabupaten Ke­pulauan Aru. Di Kabupaten ber­juluk bumi Jargaria ini, Golkar yang hanya memiliki satu kursi meng­usung Timotius Kaidel.  Butuh lagi empat kursi untuk memenuhi syarat.

Posisi Golkar yang nyaris kehila­ngan jalan di MBD dan Aru, me­nem­patkan PDIP selangkah lebih maju.

Menurut, Akademisi Fisip Unpatti, Toni Pariela, trik politik seperti itu  ke­rap dilakukan untuk meminimal­kan kemungkinan persaingan de­ngan memukul lawan sebelum bertanding.

Keputusan Demokrat mendu­kung Benyamin Thomas Noach dan Agustinus Lekwardai Kilikily  (BTN-ARI) sebagai pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Ka­bupaten MBD membuat calon yang diusung Golkar terancam.

“Pasti, kalau tidak memenuhi persyaratan kursi itu tidak akan terlibat dalam pertarungan politik,” tandas Pariela, kepada Siwalima, Kamis (16/7).

Pariela mengatakan, biasanya pada level nasional, lobi-lobi antara partai sangat cair. Berbeda dengan daerah, yang mana relasi antara partai terutama menjelang pilkada mengalami ketegangan yang cukup tinggi.

Dengan begitu, sebetulnya Gol­kar masih bisa melakukan lobi po­li­tik terhadap partai yang diper­kirakan dapat membantu melolos­kan kandidat yang telah direko­mendasikan.

“Sekarang tinggal tergantung dari pimpinan Golkar di daerah untuk melobi pimpinan Golkar di pusat untuk melakukan lobi-lobi lintas partai dan yakinkan pasti bisa,” jelas Pariela.

Pariela juga mengatakan, dina­mika politik yang saat ini terjadi antara Gerindra dan Golkar masih sangat mungkin untuk bersatu, ka­rena memiliki flatform yang sama, sehingga kemungkinan untuk membangun koalisi mengusung  kandidat terbuka besar, hanya saja membutuhkan proses negosiasi politik yang dewasa dan matang.

“Tidak bisa ngotot tanpa dasar yang jelas, ini sudah harus rasio­nal, tinggal lihat  potensi dukungan Golkar dan Gerindra pada level daerah siapa yang lebih kuat untuk menentukan kandidat sebagai bu­pati atau wakil bupati,” jelasnya.

Apapun yang terjadi dalam dunia politik, kata Pariela, semuanya cair, sehingga yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, termasuk soal rekomendasi dan dukungan partai pengusung.

Sementara Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM DPD PDIP Maluku Robby Tutuhatunewa mengatakan, PDIP selalu melihat momentum pil­kada sebagai momentum, dimana PDIP harus mewujudkan kehendak­nya terhadap rakyat, karena itu tidak ada kata lain kecuali memenangkan seluruh jabatan bupati dan wakil bupati di empat daerah.

“PDIP tidak pernah merasa segan berhadapan dengan partai lain termasuk Golkar,” tandasnya.

Kendati berada di ujung tanduk, namun Ketua DPD I Partai Golkar Maluku, Ramly Ibrahim Umasugi, tetap optimis pasangan calon yang diusung Partai Golkar dan partai koalisi akan mampu menumbang­kan incumbent di Kabupaten Kepu­lauan Aru dan Kabupaten MBD.

Ramly mengklaim Odie Orno dan Bastian Petrusz memiliki hasil survei tertinggi. Ia yakin Demokrat akan berkoalisi dengan Golkar.

“Di MBD, saya yakin Golkar resmi berkoalisi dengan Partai Demo­krat,” kata Ramly.

Ramly lupa kalau politik selalu dinamis. Keyakinannya tak terbukti. Demokrat justru mendukung pa­sangan BTN-ARI.

Di Kabupaten Kepulauan Aru, kata Ramly, ada jaminan PKB yang mempunyai 4 kursi dan PKS yang punya 1 kursi, akan bergandengan tangan mendukung Timotius Kai­del.

“Kalau Aru, informasi yang saya dapatkan dari pasangan calon, Golkar akan berpasangan dengan PKB atau PKS,” ujarnya.

Apakah klaim Ramly akan ter­­-bukti, atukah bernasib sama di MBD? Politik selalu dinamis. (Cr-2)