AMBON, Siwalimanews – Pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Maluku Meikyal Pontoh soal penyebab perbedaan hasil uji swab pasien membuat masyarakat  semakin tak percaya Satgas Pena­nganan Covid-19.

Perbedaan hasil uji swab yang dilakukan pemerintah dan Rumah Sakit Siloam mesti dijelaskan se­cara ilmiah. Bukan asal ngomong.

“Seharusnya Kadinkes mem­berikan penjelasan yang akurat  dan komprehensif terkait dengan persoalan perbedaan hasil uji swab itu,” kata Anggota DPRD Provinsi Maluku, Alimudin Kolat­lena, kepada Siwalima, Senin (16/11).

Alimudin menilai, penjelasan yang diberikan Kadinkes belum akurat dan komprehensif, sehi­ngga menimbulkan kebingungan di masyarakat.

“Jangan sampai menjadi bola liar karena penjelasan seperti itu belum mewakili sebuah pena­nganan yang komprehensif ber­basis ilmu agar masyarakat bisa diterima masyarakat,” tandasnya.

Baca Juga: Kadinkes Keluhkan Kunjungan Warga ke Puskesmas Menurun

Akademisi Fisip Unpatti, Said Lestaluhu mengatakan, persoalan perbedaan hasil uji swab bukan baru pertama. Karena itu, perlu dilakukan evaluasi secara serius.

“Perlu dilakukan koreksi terhadap alat tes yang digunakan dan sumber daya yang memeriksa, kenapa dalam waktu yang bersamaan tapi kemu­dian ada hasil yang berbeda,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan ini akan menimbulkan perbedaan presepsi di masyarakat dan berdampak pada me­nurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Karena itu, Kadinkes harus terbuka menyam­paikan penyebab perbedaan antara pemerintah dan Rumah Sakit Siloam.

“Dinkes harus berkoordinasi de­ngan Siloam untuk mengetahui ala­san perbedaan data itu. Artinya ha­rus ada klarifikasi yang dapat di­pertanggungjawabkan berdasarkan pendekatan ilmu,” kata Lestaluhu.

Akademisi Hukum Unpatti, Sartje Alfons juga mengatakan, Kadinkes harus terbuka memberikan penjela­san soal perbedaan hasil uji swab, sehingga masyarakat dapat memper­cayai hasil tersebut.

Selama ini Dinas Kesehatan hanya memberitahukan seseorang terkon­firmasi positif Covid-19 tanpa di­sertai dengan bukti hasil peme­riksaan laboratorium, sehingga ke­percayaan masyarakat terhadap Satgas Covid-19 mulai menurun.

“Masyarakat cenderung untuk melakukan swab pada RS Siloam daripada harus melakukan pada RS pemerintah yang hasilnya belum tentu disertai dengan bukti. Dinas Kesehatan harus dapat melihat hal ini agar masyarakat merasakan kehadiran negara dalam menangani Covid-19 secara baik.

Asal Ngomong 

Seperti diberitakan, perbedaan hasil ujib swab sangat meresahkan masyarakat. Ironisnya, Kepala Di­nas Kesehatan Maluku,  Meikyal Pontoh asal ngomong tanpa analisa medis yang jelas.

Ada warga yang divonis positif Covid-19 berdasarkan rilis Dinas Kesehatan Maluku. Tetapi setelah diuji di Rumah Sakit Siloam, hasilnya negatif.

Kejadian seperti ini sering terjadi. Sudah begitu, Meikyal Pontoh de­ngan enteng menyebut, perbedaan bisa saja terjadi, karena orang yang melakukan swab dan alat yang digunakan berbeda.

“Bisa saja berbeda, karena peng­ambilan dilakukan orang berbeda dan alat yang digunakan berbeda, bisa saja hasilnya berbeda ketika pengambilan kondisinya membaik,” jelasnya, kepada wartawan, Kamis (12/11) di Kantor Gubernur Maluku.

Pernyataan Pontoh ini saat dikonfirmasi soal salah satu keluarga yang mengungkapkan, adanya perbedaan hasil uji swab anaknya yang berumur 14 tahun.

Salah satu keluarga pasien yang enggan namanya dipublikasikan kepada Siwalima, menuturkan pada 19 Oktober dilakukan uji swab kepada ponakannya yang masih berumur 14 tahun oleh Dinkes Maluku, karena ponakannya meng­alami beberapa gejala berupa me­riang dan demam.

“Dua hari berselang atau pada 22 Oktober, tim medis Dinkes Maluku menyatakan hasil uji swab tersebut negatif dan disampaikan secara lisan kepada keluarga, namun pada 24 Oktober oleh petugas medis tim ke­sehatan Dinkes kembali menyatakan bahwa ponakan kami positif, tanpa ada keterangan medis,” jelasnya.

Berdasarkan hasil uji swab pada 19 Oktober, maka pada 26 Oktober dilakukan uji swab kedua di Hotel Wijaya oleh Dinkes Kota Ambon dan hasilnya diberitahukan secara lisan juga bahwa ponakannya po­sitif Covid-19

Kemudian pada 2 November, kembali dilakukan uji swab ketiga oleh Dinkes Maluku dan hasilnya masih positif juga. Padahal faktanya kondisi fisik sang anak tidak terdapat gejala-gejala sakit, maupun gejala seperti pasien covid lainnya.

Dari hasil pemeriksaan 1-3 bila dikaitkan dengan fakta fisik dari si anak ini, maka keluarga merasa curiga, sebab hasil yang diberitahu­kan kepada keluarga pasien diduga tidak akurat.

Untuk membuktikan, si anak ini tidak sakit atau positif Covid-19,  pihak keluarga mengambil langkah untuk melakukan swab keempat yang dilakukan pada 6 November dengan memakai dua rumah sakit pembanding.

“Uji swab Dinkes Maluku di RSUD dr.Haulussy pada 6 November hasilnya keluar pada 9 November itu positif berdasarkan laporan hasil dari Balai POM Ambon,” ujarnya.

Untuk membuktikan uji swab Din­kes Maluku yang diduga tidak aku­rat, maka si anak  ini diantar untuk uji swab di RS Siloam, dan spesimen untuk swab diambil pada hari yang sama yakni 06 November 2020. Ter­nyata, hasil uji swab dari RS Siloam yang keluar pada hari itu, negatif.

Sebelumnya Pengacara Djidon Batmomolin menunjukan kegera­mannya terhadap Kepala Dinas Kesehatan Maluku Meikyal Pontoh.

Batmomolin menduga ada keja­hatan dalam hasil swab test Covid-19. Anak kandungnya divonis posi­tif Covid-19. Tetapi setelah ia membawa anaknya melakukan swab test  di Rumah Sakit Siloam, hasilnya justru negatif.

Kepada Siwalima, Kamis (10/9) Batmomolin menjelaskan, hasil skrining PCR swab Covid-19 terha­dap anaknya bernama Alvino Bat­mo­molin dari Dinas Kesehatan Provinsi Maluku tertanggal 2 September 2020, yang dikeluarkan 6 September bahwa dia positif Covid-19. Sementara hasil tes PCR dari laboratorium Rumah Sakit Siloam menunjukan hasilnya negatif. Tes PCR di rumah sakit swasta itu dilakukan pada 7 September 2020. Hasilnya keluar pada 10 September.

“Ada perbedaan hasil swab test terhadap anak kandung saya, dari rumah sakit pemerintah dan rumah sakit swasta. Anak saya dinyatakan positif covid, namun setelah swab test di rumah sakit swasta, itu hasil­nya negatif. Kenapa hasilnya beda? Ini berarti suatu penipuan dan ke­ja­hatan yang terselubung. Saya akan polisikan dia dan gugat dia secara perdata,” tandas Batmomolin. (S-50)