AMBON, Siwalimanews – Praktisi Seni Budaya Falantino Latupapua mengakui apa yang di dapatkan kontinge Maluku dalam pesta paduan suara gerejawi atau Pesparawi sudah hakikat.

Dirinya memberikan masukan berbeda terkait hasil lomba dan segala permasalahan yang terjadi dalam lembaga pengembangan pesparawi daerah (LPPD) Maluku.  “Banyak faktor penentu prestasi. Faktor itu dinamis. Hari ini kita berlatih dan mencapai derajat kualitas baik di atas peserta lain sehingga kita menang, tahun depan belum tentu,” terang Latupapua.

Kegagalan Maluku di event tingkat nasional menurutnya salah satu faktor penting adalah kurangnya seleksi lantaran di masa pandemi.

“Saya melihat mungkin tahun ini proses seleksi kurang mengajar karena kondisi Covid-19 sehingga beberapa kategori memang cenderung menurun penampilannya. Tetapi beberapa komtingen lain berhasil mengatasi situasi tekanan akibat pandemi dan mencetak juara,” jelasnya.

Olehnya itu mekanisme seleksi peserta harus segera dibenahi karena ada banyak sekali talenta yang dimiliki namun tidak digunakan dan seleksi harus dilakukan berjenjang

Baca Juga: Kuras Anggaran 50 Miliar, Genangan Lorulun Mangkrak

“Mekanisme seleksi memang harus lebih dibenahi, harus mengakar. Ada banyak orang dengan talenta bagus tapi belum tersentuh meski seleksi sudah dilakukan secara berjenjang,” ujarnya.

Lembaga maupun pelatih juga disarankan untuk selalu mengikuti perkembangan dan trend musik saat ini. Seiring perkembangan zamana, trend musik terus mengalami perubahan.

Saya sarankan untuk selalu mengikuti perkembangan. Trend musik berganti dengan cepat. Jika gaya kita membina dan melatih tidak disesuaikan maka kita cenderung akan stagnan sementara tim lain gencar mencari peluang untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan,” tandasnya singkat.

LPPD Harus Dibenahi

Diberitakan sebelumnya, prestasi di bidang musik terus merosot padahal memiliki segudang talenta, membuat sejumlah pihak meminta kepada Pemerintah Provinsi Maluku membenahi manajemen Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Maluku.

Hal ini bukan tanpa dasar karena tim-tim dari provinsi lain seperti Jogjakarta, Sumatera Utara bahkan Jawa Barat yang beberapa tahun belakangan tidak pernah diperhitungkan dalam musik gerejawi justru tampil luar biasa dan berprestasi.

“Jadi hal yang mendasar perlu segera dibenahi adalah manajemen maupun teknis dari LPPD kalau ingin berkembang,” tegas Pengamat Musik Maluku Figgy Papilaya kepada Siwalima, Selasa (28/6).

Ia menjelaskan Maluku kenapa memiliki banyak talenta tetapi setiap event seperti Perparawi selalu kalah dibandingkan daerah karena masih menggunakan pola lama.

Minimnya prestasi menurutnya juga merupakan faktor dari manajemen dan kepemimpinan di LPPD juga pelatih. Maluku memiliki banyak pelatih berbakat namun itu tidak cukup.

“Mereka punya pengalaman tapi itu tidak cukup, harus memiliki kualitas, memiliki jam terbang, semua itu penting demi meningkatkan kualitas tim ketika bertanding, ini juga menjadi cacatan,” tegasnya.

Dalam Pesparawi yang dilihat adalah pelayanan kepada Tuhan juga komposisi musik itu sendiri.

“Jangan kita karena bermusik pelayanan juga hilang begitu juga sebaliknya,” jelasnya.

Dirinya juga menyoroti terkait dengan pola perektrutan peserta lomba maupun kepelatihan.

“Banyak potensi dan bakat yang dimiliki namun yang ditunjuk adalah orang-orang yang itu-itu saja, pola itu tidak akan berkembang. Saya bicara ini bukan karena tidak dipilih namun itu realitas. Orang yang dekat dengan pelatih ya mereka yang direktrut padahal ada yang memiliki kualitas tapi diabaikan,” ujarnya.

Ia berharap kedepan ada perubahan dalam manajemen LPPD maluku kalau tidak maka prestasinya akan seperti ini di tahun-tahun mendatang.

“Jadi ada banyak hal yang perlu diperhatikan agar kedepan prestasi kita lebih meningkat di event-event selanjutnya,” tandasnya.

Dijemput Mobil Truk

Miris, karena dianggap tidak berprestasi, kontingen  Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIII Maluku dijemput dengan mobil truk milik Satpol PP.

Kontingen Pesparawi Maluku yang dikirim berlaga di Kota Jogjakarta sebanyak 258 orang terdiri dari 21 pelatih, 5 pionis dan 232 peserta yang mengiikuti 12 katergori lomba.

Rombongan tiba di Bandara Internasional Jogjakarta pada hari Minggu 26 Juni 2022. Rombongan kemudian mengemas barang-barang dan naik ke atas mobil truk milik Satpol PP DI Jogjakarta menuju ke lokasi hotel.

Penjemputan kontingen Pesparawi XIII dengan menggunakan mobil truk viral di media soaial yang membuat heboh warga Maluku.

Dua mobil truk yang terlihat dalam video yang diunggal oleh akun facebook milik Vemmy Lesnussa Minggu 26 Juni 2022 yakni milik satpol PP dan satu mobil truk pengangkut barang.

Dalam unggahan tersebut Vemmy Lesnussa menyentil Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Maluku mendapatkan tumpangan yang layak sedangkan musisi tidak.

Dalam videonya, ia menjelaskan kalau “LPPD enak-enak naik oto sedan sedangkan penyanyi naik oto Satpol PP. Baru ini oto truk kasian eeee, baru ini di daerah istimewa Jogjakarta lai. Kontingen Maluku sudah model kaya apa ini.”

“Ini LPPD Provinsi Maluku pung perbuatan, musisi-musisi ternama lo? masa naik oto Satpol PP, kasian ee, bale par oto truk lai, musisi naik oto truk, lalu LPPD donk duduk enak, naik sedan enak-enak yang ber-AC,” unggahnya.

Untuk diketahui jumlah kontingen Pesparawi Maluku sebanyak 258 orang terdiri dari 21 pelatih, 5 pionis dan 232 peserta yang mengiikuti 12 katergori lomba.

Rincian peserta di 12 nomor lomba yakni Paduan Suara Dewasa Campuran sebanyak 45 orang, Paduan Suara Pria 28 orang, Paduan Suara Wanita 28 orang, Paduan Suara Remaja/Pemuda 43 orang, Paduan Suara anak 33 orang, Solo Anak usia 7-10 tahun 1 orang, Solo Anak usia 10-13 tahun 1 orang, Solo Remaja Putri 1 orang, Solo Remaja Putra 1 orang, Vokal Groub 11 orang, Musik Pop Gereja 10 orang dan Musik Gerejawi Nusantara 30 orang.

Kontingen Maluku di Pesparawi Nasional XIII yakni meraih 1 champion di nomor lomba Vokal Group.

Prestasi yang sama ini pernah diraih Maluku di tahun 2018 lalu pada Pesparawi Nasional ke XII di Pontianak, Kalimantan Barat dengan meraih 1 champion dari nomor lomba Paduan Suara Pria.

Padahal di tahun 2016 lalu, Maluku bertindak sebagai tuan rumah Pesparawi Nasional ke XI keluar sebagai juara umum.

Sementara kontingen Provinsi Sumatera Utara berhasil merebut juara umum pada Pesparawi Nasional XIII dengan dua champion di nomor lomba Paduan Suara Wanita dan Paduan Suara Anak dan memperolehan 12 medali emas dan berhak membawa pulang piala bergilir Presiden.

Penetapan Sumatra Utara sebagai juara umum dilakukan melalui voting tertutup dan Sumatra Utara memperoleh suara terbanyak dengan 21 suara dari total keseluruhan 38 suara.

Perhelatan Pesparawi XIII 2022 secara resmi ditutup oleh Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas, yang diwakili oleh Pelaksana Tugas Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama, Pontus Sitorus, Minggu (26/6) malam.

Sementara itu Pengamat Musik Maluku Figgy Papilaya yang dikonfirmasi Siwalima terkait dengan proses pejemputan kontingen Maluku di Jogjakarta dengan menggunakan mobil Satpol PP enggan berkomentar.

“Kalau soal itu beta seng (tidak) komen lai,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Maluku Paulus Kastanya terkait dengan prestasi yang diraih belum berhasil dikonfirmasi. (S-09)