AMBON, Siwalimanews – Lima bulan dibangun, hingga kini ratusan bangunan kios diatas trotoar milik Pemkot Ambon hampir semua belum ditempati.

Para pedagang mengeluhkan tingginya harga sewa kios serta sepi dari pembeli karena lokasinya jauh dari pusat Pasar Mardika.

Untuk menempati kios-kois tersebut pedagang harus merogoh kocek dalam-dalam. Tidak tanggung-tanggung setahun pedagang harus menyetor Rp25 juta ke Dinas Perindag.

Pantauan Siwalima, ratusan kios yang terdapat diatas trotor samping kali mardika banyak yang kosong.

Hanya beberapa pedagang saja yang baru menempati kios-kios tersebut namun hampir semuanya kosong.

Baca Juga: GMKI Diajak Berjiwa Entrepreneurship

Sepi pembeli dan harga sewa yang mahal menjadi salah satu alasan pedagang enggan menempati bangunan yang menghabiskan APBD Rp1 miliar lebih tersebut.

Car pedagang kacamata kepada Siwalima mengeluhkan soal belum ada kejelasan dari disperindag soal kapan mereka mulai menempati dan kapan undian akan dilakukan.

“Tidak ada informasi yang jelas dari dinas, padahal kami sudah bayar sewa 25 juta,” jelas Car.

Untuk menyewa kios-kios tersebut menurutnya harus mengeluarkan uang Rp 25 juta selama setahun.

Tidak hanya itu, kios yang ditempati justri sepi dari pembeli. Di lokasi lama justru lebih banyak orang yang berbelanja.

“Jualan di tempat lama penda­patnya sangat baik, sedangkan di tempat jualan baru saat ini pendapatan sangat rendah, bahkan sangat sepi,” ujarnya.

Walaupun demikian kondisinya Pemkot Ambon berjanji akan segera menempati pedagang di lokasi baru apabila renovasi Pasar Mardika selesai.

“Pemkot mengatakan bahwa setelah bangunan yang saat ini sedang di bangun di depan pasar tersebut kelar barulah semua para pedagang yang saat ini berjualan di emperan jalan atau bahu jalan, akan menempati bangunan tersebut,” katanya.

Yang menjadi pertanyaan ke­-napa juga bangunan ini dibangun kalau tidak ditempati oleh peda­gang.

“Kepala Dinas Perindag Ambon Sirjohn Slarmanat yang dikonfirmasi Siwalima hingga kini belum memberikan respon.

Buang Anggaran

Sebelunya diberitakan berdalih untuk mengurai pedagang di dalam Pasar Mardika, Dinas Perindustrian dan Perdagangan kemudian membangun sedikiknya 200 kios bagi pedagang.

Walaupun menabrak aturan karena dibangun diatas trotoar, pemkot tetap mengelontorkan Rp1 miliar lebih APBD untuk memanjakan pedagang.

Sebagian warga bahkan menjadikan kios-kios tersebut sebagai tempat berteduh sekaligus beristirahat dari teriknya matahari atau menunggu angkot.

Sebagian lagi menjadikan bangunan dengan harga Rp1 miliar tersebut sebagai tempat santai di sore hari karena tidak ditutup bagian depanya dengan papan.

Bangunan tersebut terkesan mubasir karena sampai hari ini baru ada beberapa pedagang saja yang telah membersihkan kiosnya tapi belum untuk berjualan.

Keberadaan bangunan ini juga menjadi perbincangan warga karena hak mereka sebagai pejalan kaki dikebiri pemerintah.

Pemerintah lebih memilih menye­lamatkan pedagang dengan melang­gar peraturan daerah dan menga­bai­kan hak pejalan kaki karena trotoar beralih fungsi. Dengan begitu ba­nyak pedagang yang harus tergurus dari lokasi tem­pat mereka berjualan. Solusi yang ditawarkan dengan membangun ratusan kios bagi pedagang diatas trotoar.

Kepala Dinas Perindag Kota Ambon Jhon Srilarmanat yang dikonfir­masi Siwalima, Selasa (17/5) terkait de­ngan belum difungsikan bangu­nan tersebut juga tidak merespon. (S-09)