AMBON, Siwalimanews – Aksi menuntut permintaan maaf Gubernur Maluku, Murad Ismail dan Sekda Kasrul Selang masih terus berlanjut. Gerakan Ma­hasiswa Kristen Indonesia (GMKI) kali ini menuntut dua pe­jabat ter­sebut sampaikan permohonan maaf atas ketedelorannya bernyanyi sam­bil bergoyang di tengah pandemik Covid-19.

Pantauan Siwalima Kamis (27/8), aksi dalam bentuk demo itu dilakukan puluhan mahasiswa GMKI dengan cara berjoget dan bernyanyi. Meski­pun aksi itu mereka menutut diper­temukan dengan gubernur atau sekda, namun justru Wakil Guber­nur, Barnabas Nathaniel Orno yang menemui pendemo lalu menyam­paikan permintaan maaf mewakili dua pejabat tersebut.

Kedatangan puluhan pendemo ke halaman kantor gubernur (samping Pattimura Park) tepat pukul 11. 20 WIT.

Mereka membawa sejumlah pam­flet yang bertuliskan, Mendagri ha­rus tegur Pemprov Maluku, sapa mau help?, bunga Leksula posisi, Pemprov Maluku seng jelas, jangan matikan rakyat kecil matikan saja mantanku, Pemprov Maluku nega­tif covid positif sensasi, Kartu Maluku Sehat dan Maluku Pintar apa kabar dan apa yang tampilkan sekda sangat miris. Mereka juga membawa satu keranda mayat bertuliskan RIP Pemprov Maluku.

Ada sejumlah tuntutan yang di sampaikan oleh puluhan mahasiswa yakni pertama hentikan segala bentuk euforia dipermukaan publik yang nantinya meresahkan masyara­kat di tengah pandemi Covid-19 yang me­landa daerah ini. Kedua, Pemerintah Provinsi Maluku harus meminta maaf kepada seluruh rakyat Maluku.

Baca Juga: Ambon Sehat, Tema HUT ke-445 Kota Ambon

Ketiga, Presiden Jokowi melalui Menteri Dalam Negeri harus mem­berikan teguran keras kepada Peme­rintah Provinsi Maluku atas kela­laian dan inkonsistensi dalam menjalankan regulasi ataupun protokol Covid-19 dan keempat, penerapan program Kartu Maluku Pintar dan Kartu Maluku Sehat di tengah pandemi Covid-19 sesuai visi dan misi gubernur dan wakil gubernur.

Setelah melakukan orasi beberapa menit tepat pukul 12.10 WIT Wakil Gubernur, Barnabas Orno menemui puluhan mahasiswa GMKI ini.

“Saya hadir disini bukan sebagai senior GMKI akan tetapi saya hadir disini sebagai Pemerintah Provinsi Maluku,” tandas Wakil Gubernur saat menemui para pendemo.

Menurut Wagub, pemprov sangat mengapresiasi mahasiswa sekalian yang telah mengingatkan pemprov untuk mengintrospeksi diri kede­pan­nya. “Saya direkomendasikan oleh pak gubernur untuk minta maaf mewakili Pemprov Maluku kepada adik-adik sekalian dan masyarakat Maluku atas semua yang telah ter­jadi,” ucapnya, sembari menam­bah­kan, “Saya juga atas nama pribadi memohon maaf atas apa yang terjadi di Kantor DPRD Provinsi Maluku pada HUT Maluku ke- 75, karena saya juga ada dalam kegiatan ter­sebut,” tutur Wagub.

Dijelaskan, gubernur dan Sekda tidak bermaksud untuk tidak mene­mui para mahasiswa sekalian, na­mun ada satu dan lain hal yang membuat mereka tidak bisa bertemu, namun apa yang dikemukakan ini akan dijadikan sebagai salah satu bukti kontrol serta dijadikan sebagai ba­han untuk introspeksi bagi pem­prov kedepannya.

Usai mendengar penjelasan wa­gub, Ketua GMKI Cabang Ambon Almin­des F. Syauta mengatakan GMKI masih berdiri hingga saat ini untuk kepentingan masyarakat di derah ini.

“Kami berterima kasih kepada wagub yang telah menjumpai kami. Kami menerima permintaan maaf dan saya tegaskan bahwa kehadiran wagub bukan kapasitas sebagai senior GMKI. Tapi beliau adalah pejabat yang ikut turun bersama-sama di DPRD,” ujar Syauta.

Syauta mengaku kecewa lantaran ketidakhadiran gubernur dengan alasan tidak berada di tempat. “Gubernur tidak ada di tempat. Jadi saya pakai bahasa Work From Home (kerja dari rumah). Dan apabilah masih WFH, maka kami akan go to home,” ancam Syauta.

Ia menjelaskan, karena kedata­ngan GMKI tidak digubris gubernur, selanjutnya kedepan jika tidak ada permintaan maaf, GMKI akan duduki kantor gubernur dengan massa yang banyak.

“Hari ini kami datang cuma se­dikit, tapi saya pastikan  kedepan dua atau tiga kali lipat membanjiri kantor ini.untuk mendesak permin­taan maaf langsung dari gubernur terhadap mas­yarakat Maluku yang merasah miris terhadap hal ini. Kami minta Murad Ismail harus meminta maaf sebesar-besarnya kepada rakyat. Rakyat yang memilihnya,” ingat Syauta.

Pendemo baru bisa membubarkan diri sekitar pukul 13.20 WIT dengan tertib.(S-39)