AMBON, Siwalimanews – Staf pengajar pada Fakultas Ke­guruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unpatti, Berty Wairisal menuding Dekan FKIP, Profesor Izak Wenno meloloskan reviuwer abal-abal. Ia mengatakan, reviuwer  abal-abal yang tidak berkompoten dalam me­reviuw proposal penelitian hibah di FKIP Unpatti tahun 2021 sengaja diloloskan dekan lantaran mereka semua kroni-kroni dekan.

Dalam rilisnya yang diterima Re­daksi Siwalima Minggu (6/6), Wai­risal mengaku kecewa. Dimana, Wenno selaku dekan melakukan kesa­lahan dengan menunjuk tim reviewer proposal penelitian yang tidak berkompeten untuk mereviuw sekitar 175 proposal Dosen FKIP.

Hal itu mengakibatkan kekecewaan dan kekacauan terjadi di FKIP Unpatti. “Bagi kami masalah seperti ini tidak boleh terjadi di lembaga perguruan tinggi seperti Unpatti. Kalau semua pimpinan tahu dan mengerti tentang manajemen penge­lolaan lembaga pendidikan tinggi, termasuk mengelolah dana peneli­tian dosen, saya kira hal ini tidak terjadi di FKIP,” tandas Wairisal.

Menurutnya, kekisruan terjadi di fakultas lantaran Wenno selaku dekan tidak tahu dan paham ten­-tang roh sebuah penelitian dosen dengan merujuk pada reviewer gadungan atau abal-abal yang tidak memiliki sertifikasi reviewer.

Selanjutnya reviuwer tidak memiliki ilmu yang serumpun untuk mereviewer proposal yang diajukan para dosen. Proposal yang lolos hanya kroni dan pejabat struktural mulai dari pimpinan fakultas sampai pimpinan program studi serta anggota senat yang memilih dekan pada dua  bulan yang lalu.

Baca Juga: Murad Ngaku Ditelpon SKK Migas, KKT Dapat Jatah 3 Persen

Wairisal juga menambahkan,  reviuwer mestinya tidak mema­sukan proposal pribadi atas nama dirinya namun di FKIP Unpatti reviuwer malah memasu­kan proposal dan pertama diloloskan.

Selanjutnya tambah Wairisal, tidak melibatkan Lembaga Penelitian Unpatti yang punya kewenangan dalam mengatur, menyeleksi dan menetapkan proposal mana yang layak atau tidak layak.

“Kami meminta penjelasan kepada bapak Rektor, Nus Sapteno apa sesungguhnya keistimewaan FKIP sehingga tidak memberikan kewenangan kepada Lembaga Penelitian Unpatti yang semestinya punya kewenangan untuk memproses, seleksi sampai pada penetapan sebuah proposal penelitian. Kalau mekanisme sebagaimana lazimnya ini ditempuh, maka sudah tentu tidak ada masalah karena yang melakukan proses itu adalah Lembaga Penelitian Universitas Pattimura karena sesuai aturan. Tapi ini aneh karena dekan membentuk tim yang sudah tentu tidak independen karena tim itu adalah konco-konco dekan. Lagian mereka juga mengajukan proposal, bagaimana mungkin mereka mengeleminir diri sendiri. Kan hal ini tentu menimbulkan konflik of interest,” ungkapnya.

Masih kata Wairisal, semua Guru Besar di FKIP yang mengajukan proposal pasti diloloskan untuk dapat dana penelitian yang nilainya hanya 10-15 juta. “Ini sangat memalukan, karena di universitas lain di Indonesia, guru besar itu mestinya berlomba mengajukan proposal ke kementerian atau lembaga donor dunia supaya mendapatkan dana penelitian yang besar dan melibatkan para dosen, asisten dan kelompoknya, sehingga Unpatti bisa mendapat pengakuan dengan begitu ranking Unpatti menjadi baik dan unggul. Tapi anehnya di FKIP Unpatti para profesor mengejar dan saling sikut menyikut dengan dosen pemula untuk dana penelitian 10-15 juta,” beber Wairisal.

Disisi lain, Wairisal mengaku proposal yang diloloskan oleh reviewer pilihan dekan FKIP Unpatti yang tidak kompeten karena tidak miliki sertifikat atau legalitas sebagai reviewer. Menurutnya hal itu sarat penipuan, like and dislike.

“Ini sangat tidak profesional, karena penentuan lolos atau tidaknya itu didasarkan atas pertemanan, ssaudara sekampung atau kelompoknya,” kata Wairisal.

Selain itu semua pejabat struktural, yang memasukan proposal seperti pembantu dekan, ketua jurusan dan ketua prodi serta anggota senat yang adalah kelompok dekan diloloskan.

Katanya itu proses balas jasa karena mereka telah memilih Wenno sebagai Dekan FKIP beberapa waktu lalu. Selain itu pula yang lebih memalukan lagi lanjut Wairisal,  para reviewer juga mangajukan proposal penelitian. Dan sebagian dari mereka tidak memiliki kompetensi artikel penulisan bereputasi dan hanya berbekal status dosen saja bisa mereview proposal penelitian yang dimasukan walaupun tidak sesuai bidang ilmu mereka.

“Saya tantang mereka, coba buka secara transparan semua proposal yang lolos dan tidak lolos lalu kita lihat. Ini proses penipuan yang dilakukan oleh tim reviuwer abal-abal,” pungkas Wairisal.

Ia meminta Rektor Unpatti segera membatalkan hasil reviuwer abal-abal ini dan menarik kembali untuk diproses di  Lembaga Penelitian Unpatti.

Wairisal Bohong

Dekan FKIP Unpatti, Profesor Izak Wenno yang dikonfirmasi Siwalima menegaskan Berty Wairisal sudah melakukan pembohongan publik. Pernyataan Wairisal di media massa menunjukan orang yang diduga stress dan bukan akademisi.

“Jadi begini, ini persoalan sebetulnya bukan menjadi konsumsi publik. Berty itu dosen yang tidak lolos dalam persoalan ini. Nah, kalau tidak lolos, silahkan ke jalurnya dan bukan mengumbar di media. Datang dong ke fakultas kita bicarakan hal ini dengan baik. Bagaimana mau lolos, kalau tidak pernah ke kantor, tidak ikut apel dan lain-lain,” tegas Wenno.

Wenno mengaku tim yang ada dalam reviuwer adalah orang-orang yang berkompoten dan semua guru besar. “Saya sesali seorang intelektual main teriak di media. Kalau tidak puas pak Berty datang ke fakultas,” katanya lagi.

Menurut Wenno, dirinya tidak pernah mengintervensi. “Ini kan hibah. Saya punya dana murni, dana fakultas murni. Kewenangan ada pada fakultas. Saya menentukan tim reviuwer berdasarkan SK. Sekali lagi ini hibah. Apa yang disampaikan Wairisal itu pembohongan publik. Dia serang saya karena harus dipahami kemarin kan baru selesai  suksesi dekan. Ya, harus dipahami juga,” ungkap Wenno.

Meski demikian, Wenno mengungkapkan kalau hak-hak Wairisal tetap dipenuhi walaupun tidak ke kampus, tidak ikut apel dan lain sebagainya. (S-32)