NAMLEA, Siwalimanews – Babinsa Waemangit, Serda Dadang Suryana bersama warga menggalang dana sukarela bagi pembangunan masjid dengan melakukan tarian hadrat.

Serda Dadang Suryana kepada Siwalimanews mengaku,  kegiatan hadrat yang dimulai sejak hari kedua setelah Idul Fitri ini memang sudah menjadi tradisi warga pada setiap desa di Kabupaten Buru.

“Pada momen lebaran hari kedua hingga ketujuh setelah Idul Fitri ini, masyarakat melaksanakan hadrat untuk mencari dana bantuan suka rela bagi pembangunan masjid maupun kegiatan lain di desa mereka,” ucapnya.

Memanfaatkan moment Idul Fitri ini, ia dan perangkat Desa Waemangit juga tidak ketinggalan melaksanakan tradisi itu untuk menggalang dana. Dari rumah ke rumah,

Hadrat dalam perkembangannya di kampung- kampung,  tak lepas dari sejarah dakwah Islam. Makna hadrat dari segi bahasa diambil dari kalimat bahasa Arab yakni hadhoro atau yuhdhiru atau hadhron atau hadhrotan yang berarti kehadiran.

Baca Juga: Sibu Sibu Cafe dan Arika Mahina Gelar Bastori Kenang Pattimura

“Namun kebanyakan hadrat diartikan sebagai irama yang dihasilkan oleh bunyi rebana. Seni ini memiliki semangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Hadrat juga selalu menyemarakkan acara-acara Islam seperti peringatan Maulid Nabi, tablig akbar, perayaan tahun baru hijriyah, dan peringatan hari-hari besar Islam lainnya,” tuturnya.

Sampai saat ini kata Serda Dadang, hadrat telah berkembang pesat di masyarakat Indonesia sebagai musik yang mengiringi pesta pemikahan, sunatan, kelahiran bayi, acara festival seni musik Islami, bahkan dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolahan, pesantren, remaja masjid dan majelis taklim.

“Karena saat ini masih dalam pandemi Covid-19, dibatasi kegiatan hadrat, yang mana hanya digelar dalam desa. Kalau tahun-tahun sebelumnya saat tidak ada covid, kegiatan galang dana dengan hardat di momen Idul Fitri dilakukan juga di desa-desa tetangga bahkan sampai ke Kota Namlea,” tutupnya.(S-31)