AMBON, Siwalimanews – Setelah dinobatkan menjadi kota paling toleran urutan ketujuh versi Setara Institute, ternyata ibukota provinsi Maluku punya julukan baru yakni kota pengemis.

Puluhan pengemis lebih mudah dijumpai warga di ruas-ruas jalan utama yang setiap saat dilalui oleh para pejabat tinggi baik provinsi maupun Kota Ambon.

Mereka beroperasi di jalan raya Pattimura, jalan Diponegoro, jalan AM Sangadji, jalan Sultan Babullah, jalan Sam Ratulanggi dan jalan AY Patty. Apalagi di saat perayaan bulan suci Ramadan.

Pengemis lebih banyak di dominasi oleh orang dewasa ketimbang anak-anak tersebut. Selain pengemis juga banyak terdapat anak gelandangan.

Padahal Kota Ambon juga menjadi kota yang meraih banyak penghargaan dari pemerintah pusat. Salah satunya juga adalah penghargaan sebagai kota layak anak pada Juli 2021 oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA).

Baca Juga: Balai POM Intensifikasi Pengawasan Takjil

“Jadi sebenarnya Kota Ambon layak jadi kota pengemis karena tidak pernah ada niat dari pemerintah untuk menertibkan, padahal kalau kita lihat di 10 kabupaten kota yang lain di Maluku tidak ada pengemis,” kata Ongen kepada Siwalima, Selasa (5/4).

Dirinya mengaku malu menjadi warga Kota Ambon karena kota ini banyak dikunjunggi oleh tamu dari luar apalagi banyak momen penting yang digelar di kota dengan tajuk Maniseee.

“Banyak orang datang berkunjung karena kita kota musik, tapi yang mereka jumpai di jalanan bukan musik tapi pengemis, kita malu sebenarnya atau pemerintah yang tidak peka dengan situasi,” ujarnya.

Harusnya ada solusi bagi para pengemis, paling tidak ditertibkan kemudian dibina, apalagi yang mengemis menurutnya bukan orang asli dari Maluku.

“Mereka itu orang luar, kami berharap ada solusi yang ditawarkan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. ini sudah berlangsung lama dan terkesan ada pembiaran,” kesalnya. (S-09)