AMBON, Siwalimanews – Hadir dengan metode operasi yang menantang pada kepala manusia, dr Jacky Tuamelly yang merupakan dokter ahli bedah di RSUD Haulussy Ambon, berhasil meraih International College of Surgeons Award.

Kegiatan yang dilakukan Organisasi Bedah se-dunia dalam rangka Conference For 10th Annivarsay Of Medical Volunteers Mission International College Of Surgeons itu, diikuti 108 dokter ahli bedah dari 16 negara, yang berlangsung di Medical Universitty, Kaohsiung Taiwan, 14-16 April 2023 kemarin.

Tuamelly yang juga merupakan Ketua Departemen Oraganisasi Perkumpulan Ahli Bedah Indonesia (PABI) itu, hadir bersama 4 peserta lainnya dari Indonesia, dan sebagai keterwakilan dari Indonesia Timur, materi yang dibawakannya yaitu tentang Epidural Hematome Management In Mollucas, East Indonesia atau penanganan perdarahan pada selaput otak di Maluku, Indonesia Timur.

Tuamelly hadir dengan poster yang memperlihatkan aksinya saat melakukan operasi membedah tengkorak manusia menggunakan alat yang tidak biasa, dimana alat yang digunakan, adalah alat yang biasa dipakai para tukang bangunan untuk membor atau melubangi tembok.

Atas dasar itulah, dari paparan dan gambaran 108 dokter dari 16 negara, poster milik Tuamelly dianggap paling menantang, sehingga ia dinobatkan sebagai pemenang dan mengalahkan 107 dokter ahli bedah dari luar negeri.

Baca Juga: Indey Kembali Lantik Lima Pejabat Esalon II

Terkait keberhasilannya itu, Tuamelly kepada Siwalimanews di Ambon, Kamis (28/4) menjelaskan, apapun metode yang dipakainya, semuanya itu bertujuan untuk menyelamatkan nyawa seseorang.

“Intinya bagaimana kita bisa menyelamatkan seseorang yang memang tindakannya harus dioperasi. Saya awalnya menggunakan beberapa alat, ada bor tangan, kemudian bor tembok, itu karena tidak ada alat. Dan beberapa diantaranya harus menggunakan bantuan listrik, sehingga ketika listrik padam, tentu itu menjadi kendala, hingga pada akhirnya, saya menggunakan bor, yang biasanya pakai untuk bor tembok, dengan menggunakan batrei, dan itu berhasil. Hingga akhirnya saat juara 1 di Taiwan itu, saya dikasih 1 bor seharga sekitar 200 jutaan,” ucap Tuamelly.

Bahkan selama ini kata Tuamelly, dari 14 kasus setiap tahun yang ditanganinya, 1 hingga 2 orang gagal. Tetapi secara keseluruhan masih diatas 80 persen operasinya berhasil, dan pasiennya bisa melakukan aktifitas seperti biasa.

“Saat operasi itu, tentu ada kemungkinan, antara hidup dan mati, tetapi selama ini, sebagian besar itu berhasil, 80 persen operasi itu berhasil dan mereka yang menjalaninya bisa kembali pulih,” ujar ketua dokter ahli bedah di Maluku ini.

Untuk itu dirinya berharap, para dokter muda, khususnya ahli bedah harus berani menolong pasien dengan keterbatasan yang ada, dan mengeluarkan kemampuan mereka dibidangnya.

“Saya mau bilang, bahwa kita harus berani, apa yang kita punya disini, disampaikan ke acara pertemuan ilmiah baik di dalam maupun luar negeri, sehingga kita juga bisa belajar. Apalagi kita disini daerah kepulauan, banyak tantangan yang harus dihadapi dan tindakan yang harus dilakukan,” ucap Tuamelly. (S-25)