AMBON, Siwalimanews – Teriakan ratusan pedagang pasar Mardika dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon saat aksi demo tak dihiraukan oleh Walikota Ambon, Richard Louhenapessy.

Mereka meminta walikota untuk keluar memberikan penjelasan soal Perwali Nomor 16 Tahun 2020 yang dinilai tidak adil. Hanya menguntungkan usaha besar, sementara membunuh para pedagang kecil.

Gerai modern seperti Indomaret, Alfamidi dan swalayan diberikan kebebasan untuk beroperasi, malah ada yang sampai 24 jam. Sementara pedagang kecil dibatasi hingga pukul 16.00 WIT.

“Kita datang ke Kantor Walikota Ambon karena dibuat sengsara oleh walikota hanya menguntungkan kalangan atas kami beri waktu selama 2 hari jika tidak maka kami akan kembali lagi ke sini, mana walikota, keluar temui kami,” teriak para pedagang di depan Balai Kota.

Mereka bahkan mengancam untuk menginap di Balai Kota jika walikota tidak keluar. Tetapi walikota tak kunjung keluar. Salah satu pegawai mengaku, walikota sementara mengikuti rapat dengan Forkopimda untuk persiapan PSBB.

Baca Juga: Polsek Aru Utara Salurkan Bansos Kapolri Ke Masyarakat

“Bapak lagi rapat untuk persiapan PSBB,” ujarnya.

Hingga pukul 15.30 WIT massa masih tetap bertahan di halaman Balai Kota menunggu walikota. Beberapa menit kemudian, Sekot AG Latuheru diutus oleh walikota untuk menemui para pedagang dan mahasiswa. Lalu di mana walikota? Ternyata ia keluar diam-diam melalui pintu belakang. Ia menghindar agar tidak menemui para pedagang dan mahasiswa.

“Bapak sudah pulang lewat pintu belakang tadi,” kata salah satu pegawai kepada wartawan.

Sekot yang keluar menemui para pendemo  berjanji akan mengkaji tuntutan dan aspirasi yang disampaikan. “Apa yang disampaikan akan dikaji oleh pemerintah,” ujarnya.

Usai mendengar penjelasan Latuheru, massa kemudian membubarkan diri sekitar pukul 16.00 WIT. (Mg-5)