Walikota Benarkan KPK Periksa Stafnya
AMBON, Siwalimanews – Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, membenarkan kalau ada stafnya yang diperiksa KPK, terkait penggunaan ratusan miliar rupiah uang negara dalam proyek infrastruktur di Dinas Pekerjaan Umum.Walikota dua periode itu mengaku mengetahui beberapa stafnya diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi.
Kepada Siwalima Senin (8/2), Richard mengaku mengetahui pemanggilan tersebut, karena stafnya datang melaporkan langsung kepadanya sebagai pimpinan.
“Saya tahu staf saya diperiksa. Kan ketika mereka dipanggil mereka lapor saya toh. Jadi mereka dipanggil dan mereka juga lapor ke saya,” ujarnya kepada Siwalima di halaman parkir Balai Kota Ambon, Senin (8/2) siang.
Dia membenarkan pemanggilan yang ditujukan kepada Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum yang kini menjabat pelaksana tugas Kadis, Melianus Latuihamallo.
“Iya jadi yang dipanggil untuk diperiksa semua kelompok kerja (Pokja). Pemanggilan hanya untuk konfirmasi yang sifatnya klarifikasi saja,” kata Richard.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Pembebasan Lahan Tawiri, Jaksa Periksa Tiga SaksiMely, begitu Plt Kadis PU biasa disapa, dipanggil penyidik KPK untuk menghadap Selasa (19/1) lalu.
Saat dipanggil, KPK meminta Mely datang dengan membawa sejumlah dokumen meliputi semua proyek infrastruktur yang ada di dinas yang kini dia pimpin.
Sebelum ditunjuk penjadi Plt Kadis, Mely adalah Sekretaris di Dinas PU. Mely juga tercatat pernah menjadi Kepala Bidang Cipta Karya di Dinas PU.
Mely juga adalah PPK pada sejumlah kegiatan strategis di Dinas PU Kota Ambon, kala Brury Nanulaita masih menjadi Kadis.
Mely membenarkan pemanggilannya oleh penyidik KPK. Penggilan itu, tambah dia, langsung direspons dengan langsung datang memenuhi panggilan tersebut.
“Saya dipanggil betul. Dengan, jabatannya sebagai Plt Kadis. Saya hadir disana, dan saya jelaskan saya baru menjabat selaku Plt pada tanggal 8 Januari (2021),” tandas Mely kepada Siwalima, di ruang kerjanya, Rabu (3/2) lalu.
Dalam pemeriksaan itu, tambah Mely, dia dikonfirmasi terkait tugasnya sebagai sekretaris di Dinas Pekerjaan Umum.
“Mereka hanya menanyakan tugas saya sebagai apa ketika itu, jadi saya jelaskan saya selaku sekretaris dan bertugas untuk membantu kepala dinas,” ulasnya.
Diakuinya, tugas yang diembannya sewaktu menjabat sekretaris yang mendampingi kepala dinas guna membantu pembuatan surat keputusan untuk pejabat pembuat komitmen (PPK). “Saya cuma tugas untuk membantu kadis membuat, SK PPK,” ujar Latuihamallo.
Dia juga mengaku menghadap penyidik KPK dengan membawa sejumlah dokumen pelelangan proyek yang dikerjakan tahun 2011 hingga 2019.
Seluruh proyek diatas Rp 200 juta yang dilelang pada periode 2011 hingga 2019, tambahnya, dibawa ke hadapan penyidik.
“Saya bawa data dari 2011 sampai 2019, dengan nilai di atas 200 juta, saya kasih semua,” ungkapnya.
Menurut Mely, kebanyakan proyek itu adalah proyek infrastruktur di Kota Ambon. “Seperti pekerjaan jalan aspal, talud dan jembatan,” pungkas Latuihamallo.
Membantah
Walau mengaku ada stafnya yang dipanggil KPK, Walikota juga membantah kalau ada salah satu staf di ruangan kerjanya yang ikut dipanggil.
“Tidak benar itu. Jadi, begini itu kan ada beberapa pokja kemudian juga itu Kadis PU dia diminta konfirmasi saja,” tandasnya.
Sementara itu, Sekretaris Kota Ambon, AG Latuheru yang dikonfirmasi perihal pemanggilan KPK terhadap anak buahnya, yang bersangkutan enggan berkomentar dan mencoba menghindar.
“Nanti saya cek lagi, saya juga tidak tahu itu siapa yang dipanggil,” elaknya.
Dihubungi terpisah, Andre Hehanussa, pegawai kontrak yang bertugas di ruang Walikota Ambon, membantah tidak pernah dipanggil penyidik KPK.
“Seng, seng ada oh, seng ada panggilan dari KPK,” elaknya dengan logat Ambon kental sambil memalingkan wajahnya.
Sebelumnya nama Andre santer disebut ikut diperiksa penyidik KPK. Alasannya, banyak informasi yang dia ketahui.
Panggil ULP
Selain pemanggilan terhadap Mely, KPK juga memanggil dua staf walikota lainnya di Bagian Barang dan Jasa (Barjas), yaitu Kepala Barjas Vedya Kuncoro beserta salah satu stafnya Charly Tomasoa.
Kepala Badan Barang dan Jasa, Vedya Kuncoro, justru membenarkan pemanggilan KPK. Namun diakuinya, pemanggilan tersebut hanya membahas tugas dan kerjanya.
“Mereka hanya tanya soal proses-proses pengadaan saja. Terkait saya punya tugas 2017-2019 dengan data-data pokja. Hanya itu saja,” beber Kuncoro.
Berbeda dengan Kuncoro, Charly Tomasoa yang dikonfirmasi menolak berkomentar dan mengarahkan untuk mengkonfirmasi lebih lanjut kepada petinggi yang berwenang untuk menjawab.
“Ade saya tidak bisa bicara karena ada pimpinan tertinggi toh. Kalau itu ade mesti tanya humas saja, karena saya tidak bisa berikan keterangan,” ujar Tomasoa.
Diperiksa
Pemeriksaan terhadap beberapa pegawai Pemkot Ambon oleh penyidik KPK, dilakukan di Kantor BPKP Perwakilan Maluku, Waihaong, Ambon.
Fokus utama pemeriksaan adalah Dinas Pekerjaan Umum. Sumber Siwalima di KPK mengatakan, pemeriksaan itu terkait dengan proyek infrastruktur di Dinas PU, sejak Richard Louhenapessy menjabat sebagai Walikota Ambon.
Tim penyidik KPK tambah dia memang sedang mengumpulkan alat bukti terkait dugaan korupsi infrastruktur di Pemkot Ambon.
“Karenanya, semua data yang diminta adalah sejak 2011 hingga 2019,” ujar sumber Siwalima di KPK, akhir pekan lalu.
Richard Louhenapessy menjabat sebagai Walikota Ambon sejak tahun 2011 lalu.
Sasar Walikota
Sumber Siwalima di KPK membenarkan pemeriksaan sejumlah pejabat di Pemkot Ambon.
“Itu berkaitan dengan proyek yang dikerjakan sejak tahun 2011 sampai 2019. Masih di masa pimpinannya walikota ini,” katanya.
Sumber yang minta namanya tak ditulis itu mengaku, KPK masih akan terus memanggil pejabat pemkot terkait, untuk mendalami kasus tersebut.
Selain pejabat pemkot, KPK juga memanggil salah satu staf Walikota Ambon, Andre Hehanusa.
Andre, oleh pegawai pemkot, dikenal sebagai salah satu orang dekat Walikota. Dia ikut diperiksa lantaran banyak mengetahui infomasi yang sedang dikembangkan KPK.
“Andre itu bukan PNS hanya pegawai kontrak, tapi dia berkantor di ruang kerja Walikota,” kata salah satu pegawai yang berkantor di lantai dua Pemkot Ambon.
Belakangan, Andre membantah kalau dia ikut diperiksa KPK.
Lama di Jakarta
Sumber itu juga mengakui dalam satu bulan terakhir, Walikota Ambon jarang terlihat di kantor dan malah lebih lama di Jakarta.
Pak wali ujar dia, hanya sehari dua berada di Ambon. Selanjutnya terbang lagi ke Jakarta.
“Mungkin saja beliau lama di sana ada kaitannya dengan pemeriksaan itu,” terka dia.
Walikota diketahui baru kembali ke Ambon Sabtu (6/2) siang, menggunakan maskapai Garuda Indonesia.
Dia pulang karena harus memberi sekapur sirih pada acara pembukaan Sidang Sinode ke-38, kemarin (7/2) pagi.
Sementara itu, salah satu staf walikota mengaku, kalau bossnya sudah kembali terbang ke Jakarta, Senin (8/2) siang dengan pesawat Garuda. (S-52/S-19)
Tinggalkan Balasan