AMBON, Siwalimanews – Sejumlah perusahaan farmasi, dipastikan tidak akan menyuplai kebutuhan obat-obatan bagi RSUD dr M Haulussy.

Salah satu alasan perusahaan farmasi agah menyuplai obat-obatan ke rumah sakit milik pemerintah daerah ini lantaran, manajemen RSUD Haulussy belum mampu menyelesaikan hutang dengan nilai Rp9,4 miliar.

Plt Direktur RSUD dr M Haulussy Adonia Rerung dalam rapat kerja bersama Komisi IV, Jumat (8/3) mengaku, persoalan hutang obat kepada pihak ketiga sejak beberapa tahun lalu menjadi pemicu kekosongan obat di RSUD Haulussy.

“Kita punya hutang obat yang belum mampu terselesaikan itu sebanyak Rp9,4 miliar yang berasal dari 30 perusahaan farmasi, ini yang menjadikan persoalan utama di Haulussy,” ungkap Rerung.

Dijelaskan, pasca ditunjuk sebagai Plt Direktur RSUD oleh Gubernur Maluku Murad Ismail, pihaknya telah berusaha untuk meyakinkan para perusahaan farmasi agar kembali mensuplai obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan pasien.

Baca Juga: Miris, Hutang RSUD Haulussy Capai 44 Miliar

Namun, sayangnya dari 30 perusahaan farmasi, termasuk Rajawali yang selama ini mensuplai obat dengan harga yang murah, menolak untuk memberikan obat-obatan ke RSUD Haulussy.

Bahkan, PMI yang selama ini membantu RSUD Haulussy pun enggan untuk kembali mensuplai kebutuhan di RSUD Haulussy, sebab hutang sebesar Rp200 juta yang belum dibayarkan RSUD Haulussy.

“Memang ada satu perusahaan yang bersedia membantu RSUD Haulussy, tapi harga obatnya melonjak dari biasanya dan ditakuti akan berdampak besar terhadap hutang saat ini,” ucapnya.

RSUD Haulussy lanjut Rerung, telah berupaya untuk membeli obat dari e-catalog, tetapi upaya tersebut gagal, sebab semua perusahaan formasi BUMN mengunci dan tidak mau menjual kepada RSUD Haulussy.

Kendati begitu, mantan Kepala Labkes Maluku ini memastikan masih terus berupaya mencari jalan agar persoalan obat-obatan di RSUD Haulussy kembali membaik dan pelayanan dapat berjalan.(S-20)