AMBON, Siwalimanews – Rencana Pemerintah Provinsi Maluku melakukan pra feasibility study  rencana induk per­ke­retaapian di Pulau Seram, bukan menjadi kebutuhan masyarakat di sana saat ini. Orang Seram belum membutuhkan moda transportasi kereta api.

Yang orang Seram butuhkan saat ini pemulihan ekonomi masyarakat lewat pember­da­yaan supaya ekonomi tumbuh serta perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak.

“Orang Seram itu masih ter­isolasi dan miskin. Yang kita butuhkan bagaimana peme­rintah memberdayakan masya­rakat di sana supaya ekonomi tumbuh, masyarakat sejahtera. Jalan dan jembatan itu diper­baiki supaya ada akses. Di Seram Timur ada wilayah yang belum menikmati listrik sampai se­karang. Jalan pun belum ada di sana termasuk wilayah lain di Pu­lau Seram apalagi di pegunu­ngan,” kata Tokoh Masyarakat Se­ram Anthoni Hatane kepada Siwa­lima di Ambon, Rabu (16/6).

Sektor pendidikan dan kesehatan masih menjadi kebutuhan dasar masyarakat Seram. Olehnya Hatane menyarankan kepada Pemprov Maluku, pembangunan rel kereta api bukan kebutuhan mendesak. Mimpi boleh saja, tapi dalam situasi saat ini apalagi pandemic Covid-19, sebaiknya anggaran proyek rencana studi kelayakan perkeretaapian di Seram dipergunakan untuk pemulihan ekonomi masyarakat.

“Daerah atau provinsi lain di Indonesia sedang giat-giatnya memulihkan ekonomi masyarakat, Maluku malah merancang proyek-proyek yang sebetulnya bukan menjadi kebutuhan mendesak. Pemprov tolonglah jangan orientasi hanya proyek,” kata Hatane.

Baca Juga: Akademisi Sebut Dewan Lemah

Tokoh pemuda asal Seram Bagian Timur, Hanafi Rumbouw menegaskan rencana pemba­ngunan rel kereta api di Pulau Seram sebagaimana yang telah direncanakan oleh Pemerintah Provinsi hanya bertujuan untuk mengejar proyek semata.

“Kalau rencana pemerintah seperti ini maka sebenarnya hanya mengejar proyek semata tanpa memikirkan kebutuhan mendesak di masyarakat,” ungkap Rumbouw.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Maluku seharusnya memfokuskan kebijakan pada pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan bukan memikirkan proses pembangunan yang sebetulnya tidak mendesak.

Apalagi di Pulau Seram khusus di SBT ini masih banyak  jembatan penghubung yang belum terbangun, bahkan ada yang sudah dibangun tetapi justru ambruk, sehingga harus menjadi prioritas untuk diperbaiki

Kondisi masyarakat saat ini sementara terpuruk dengan kondisi Covid-19, olehnya kata Rumbouw harus menjadi fokus dari Pemerintah Provinsi Maluku artinya lebih fokus untuk memulihkan ekonomi masyarakat dahulu.

Selain itu, persoalan jaringan internet yang ada di SBT ini juga seharusnya menjadi bagian dari fokus pembangunan bukannya memikirkan masalah rel kereta api yang belum menjadi kebutuhan yang mendesak.

Rumbouw meminta DPRD Maluku untik mengawasi secara ketat pelaksanaan proyek dimaksud.

Sebagaimana diberitakan, Pemprov Maluku berencana membangun kereta api di Pulau Seram. Rencanya jadi program Dinas Perhubungan, yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2021.

Proyek itu bahkan sudah dilelang, seperti dilansir laman lpse.malukuprov.go.id, dengan nama paket Pra Study Kelayakan Rencana Induk Perkeretaapian. Tak tanggung-tanggung, proyek dengan kode tender 15594288 itu menelan dana hampir setengah miliar rupiah.

Adapun lokasi proyek tersebut meliputi Pulau Seram, dimulai dari Kabupaten Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat dan Kabupaten Maluku Tengah. Proyek fantastis ini kontan mendapat tanggapan berbagai kalangan, lantaran kereta api sama sekali bukan kebutuhan mendasar bagi masyarakat Maluku saat ini.

Publik menganggap, daerah yang tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi seperti Sulawesi Selatan saja, masih belum bisa menghadirkan kereta api kepada warganya. Padahal, kondisi alam di sana, relatif lebih datar dibanding di Maluku yang banyak perbukitan.

Kendati begitu, Kepala Dinas Perhubungan Maluku, Muhammad Malawat berdalih dan mengatakan proyek tersebut masih dalam taraf pra studi kelayakan. “Kegiatan di Dishub baru Pra FS atau Pra Feasibility Study. Jadi baru mau distudikan apa layak atau tidak. Baru Pra FS,” tulis Malawat dalam pesan WhatsApp kepada Siwa­lima, Selasa (15/6). (S-50)