AMBON, Siwalimanews – Pasangan calon Bu­pa­ti dan Wa­kil Bu­pa­ti Maluku Barat Daya, Benjamin Thomas Noach dan Agustinus Kilikily masih teratas dalam perhe-latan Pilkada 9 Desem-ber mendatang. Hasil survei yang dilaku­kan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) Network dari tanggal 2 hingga 20 Oktober 2020 lalu menem­patkan, tingkat keterpilihan pasangan petahana jauh diatas 50 persen.

Peneliti Senior LSI Network, Ikrama Masloman dalam konfrensi pers di Hotel pasifik, Senin (30/11) menjelaskan, kekuatan ketiga pasangan calon menjelang pilkada serentak masih menempatkan elektabilitas petahana kokoh diatas 50 persen, sehingga pasangan Noach-Ari se­butkan akrab untuk Benjamin dan Agustinus berpotensi menang de­ngan selisih elektabilitas 40 persen.

Ikrama menyebutkan, elektabilitas petahana dipuncak klasemen de­ngan elektabilitas 54,9 persen, diikuti pasangan Nikolas Johan Kilikily-Desianus Orno posisi kedua dengan elektabilitas 12 persen dan diposisi ketiga, John Nimrot Leunupun-Dolfina Markus 7,4%.

“Peta kekuatan dapat dilihat dari lima segmen pemilih. Segmen pemilih yang berprofesi Ibu rumah tangga dimana mayoritas perem­puan 53,7 persen memilih Noach-Ari. Se­dangkan 8 persen memilih John Nimrot Leunupun-Dolfina Markus, dan 10,3 persen memilih Nikolas Johan Kilikily-Desianus Orno,” jelas Ikrama.

Sementara untuk segmen pemilih Agama Protestan merupakan pemilih terbesar dengan baseline 98,3 per­sen, Noach-Ari unggul 54,7 persen dukungan. Posisi kedua 11,6 persen Nikolas Kilkily–Desianus Orno dan John Nimrot Leunupun–Dolfina Markus didukung pemilih protestan sebesar 7,6 persen, sedangkan 26,1 persen masih mengambang.

Baca Juga: Noach Ingin Masyarakat MBD Sejahtera dan Mandiri

Lanjutnya, pada segmen pemilih milenial atau yang berumur kurang dari 29 tahun, Noach–Ari tetap unggul dengan dukungan 51,6 per­sen, disusul pasangan Nikolas Jo­han Kilkily–Desianus Orno dengan dukungan 13,6 persen dan pasangan John Nimrot Leunupun–Dolfina Markus didukung milenial sebesar 9,9 persen.

Pada segmen pendapatan dari wong cilik hingga kelas menengah, Noach–Ari unggul 55,7 persen dipe­milih wong cilik yang berpenda­patan dibawah 500 ribu, 48,8 persen pemilih wong cilik berpendapatan 500–999 ribu, dan 59 persen oleh mereka yang berpendapatan diatas 1 juta.

Sementara pada segmen pemilih etnis, calon petahana unggul seperti pada tiga etnis, yaitu Kisar Noach-Ari unggul 78,3 persen, Etnis Babar unggul 50 persen dan etnis Wetar 61,9 persen. Sedangkan para penan­tang memperoleh dukungan sangat kecil hanya masing-masing 1,7 per­sen dukungan untuk pasangan Ni­kolas–Desianus dan John–Dolfina.

Ikrama menjelaskan, ada tiga alasan pasangan petahana berpo­­-tensi keluar sebagai pemenang. Pertama, tingkat popularitas dan tingkat kesukaan yang tinggi, di­mana 95,1  persen Noach mengaku dikenal dan disukai sebesar 87,7 persen. Disusul oleh Desianus Orno sebesar 81,7 persen dengan tingkat kesukaan sebesar 64,7 persen, Agustinus Kilikily dikenal sebesar  80,3 persen dengan tingkat kesu­kaan sebesar 83,3 persen.

Selanjutnya, Nikolas Johan Kilkily dikenal sebesar 77,1 persen dengan tingkat kesukaan sebesar 67 persen, sedangkan pasangan John-Dolfina menempati tingkat pengenalan terkecil. John Nimrot dikenal sebesar 75,7 persen dengan tingkat kesukaan sebesar 66,8 persen dan wakilnya Dolfina Markus dikenal sebesar 70,9 persen dan disukai 65,7 persen.

Kedua, petahana juga unggul pada aspek personality dimana diatas 70 persen lebih publik MBD menilai petahana merupakan sosok yang pintar, berwibawa, mampu mengambil keputusan. Diatas 60 persen menilai petahana sebagai sosok yang perhatian pada rakyat, menyenangkan dan taat beragama

Ketiga, berkaitan dengan aspek approval rating dengan tingkat kepuasan terhadap petahana diatas 75 persen. Mereka yang puas dan cukup puas dengan kinerja Noach sebagai petahana sebesar 77.2 persen, sedangkan yang menyatakan kurang puas dan tidak puas sama sekali hanya 15,4 persen.

Akan tetapi, posisi petahana masih belum aman sebab ada empat faktor yang menjadi peluang bagi para penantang untuk meme-nang­kan pertarungan ini. Pertama, masih ada pemilih yang meng­am­bang atau masih ragu dan belum menentukan pilihan sebesar 38 persen.

“Masih ada peluang penantang mengambil suara. Namun jika petahana mampu meraih cukup banyak suara dari swing voters, maka dukungan petahana sulit dibendung,” terang Ikrama.

Kedua, jika penantang melakukan mobilisasi skala besar/maha dahsyat. Namun jika mobilisasi kampanye dan dukungan pemilih tidak jauh lebih tinggi dari mobilisasi petahana, maka akan semakin sulit penantang dapat merubah peta kemenangan.

Faktor ketiga, tingkat partisipasi pemilih dan golput, jika tingkat partisipasi semua kandidat sama, maka sulit bagi para penantang untuk mengejar elektabilitas petahana. Namun jika tingkat partisipasi pemilih penantang lebih masif datang ke TPS dan jauh lebih tinggi dari petahana, maka peluang penantang masih memiliki harapan.

Keempat, jika ada tsunami politik seperti skandal, terjerat kasus hukum diakhir menjelang finish pilkada saja yang bisa mengalahkan petahana. (S-50)