Minimnya Ruang Isolasi dan APD

Seluruh dunia tengah ‘berperang’ melawan epidemi virus corona, masing-masing menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna meminimalkan daya rusak covid 19 ini.  wabah virus corona telah menganggu berbagai aktivitas menciptakan peningkatan resiko bukan saja pada aspek kesehatan tetapi juga turut berpengaruh pada semua aspek mulai dari ekonomi, sosial dan sebagainya.

Mirisnya, jika kondisi itu terjadi sarana dan prasana peralatan menangkal covid-19 itu menjadi kurang. Semua kita menjadi korban. Dan karena itu langkah antisipasi secara bersama perlu dipikirkan, dan tidak bisa dianggap remeh penanganannya.

Buktinya, di Provinsi Maluku  ruang isolasi yang disiapkan untuk merawat pasien virus corona atau Covid-19 masih minim.

Pada rumah sakit rujukan RSUD dr. M Haulussy ada 6 ruang isolasi, dan RSUP Dr. Johannes Leimena juga disiapkan 6 ruang isolasi. Tak hanya itu, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk para pegawai medis juga masih sangat kurang. Padahal dalam perawatan terhadap orang beresiko terjangkit virus corona, APD sangatlah penting.

Belum lagi masker dan antisepti pada seluruh apotik di Kota Ambon  kosong. Sehingga butuh secepatnya perhatian serius dari Pemprov untuk pengadaan APD bagi tim medis, masker dan antiseptik .

Kekosongan ini terungkap ketika Komisi I dan Komisi II DPRD Kota Ambon melakukan rapat bersama dnegan dinas terkait di Kota Ambon baik itu Dinas Kesehatan, Pihak Angkasa Pura, Pelindo, Pelni maupun dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta sembilan distributor di Kota Ambon yang melakukan pengadaan peralatan medis tersebut.

Masker dan antisepti yang kosong pada sejumlah apotik-apotik di Maluku tentu saja membuat masyarakat menjadi panik dan takut, kekhawatiran tersebut membuat masyarakat borong masker dan antiseptik.

Karena itu Pemprov Maluku harus melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk tetap memonitoring perkembangan kasus corona termasuk dengan DPRD melakukan kebijakan anggaran. selain pengadaan masker dan antiseptik tetapi juga memantau di lapangan jangan sampai distributor melakukan penimbunan memanfaatkan kondisi yang ada, dengan melakukan penimbunan untuk menaikan harga barang. Hal ini yang dikhawatirkan bisa saja terjadi.

Disisi yang lain, Pemprov dan DPRD harus secepatnya menggelontorkan dana yang memadai agar bisa memastikan seluruh masyarakat kita bisa terlindungi. Sehingga peralatan medis yang minim dan kebutuhan masyarakat untuk menangkal diri dari vitus corona itu bisa teratasi.

Publik tentu saja berharap, pemprov dan pemkab/kota bisa menjamin ketersediaan peralatan medis yang memadai bagi masyarakat, termasuk alat untuk mengukur suhu tubuh di pintu-pintu kedatangan pelabuhan maupun bandara serta di kantor-kantor.

Tim gugus yang sudah dibentuk diharapkan bisa secepatnya bergerak di lapangan melakukan on the spot pada seluruh apotik sehingga tidak ada permainan harga yang dilakukan para distributor.

Intinya, jika pemerintah serius menanggani kasus korona dan menyiapkan seluruh peralatan medis mulai dari rumah sakit rujukan di RSUD Haulussy maupun RSUP Dokter Johanes Leimena dengan menyiapkan ruang isolasi yang memadai, peralatan pelindung diri hal ini tentu saja bisa mengelemenir rasa ketakutan dan kecemasan masyarakat, termasuk bersikap transparan siapapun yang diduga terinfeksi virus corona harus disampaikan supaya tidak kewaspadaan masyarakat itu bisa dilakukan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *