SAUMLAKI, Siwalimanews – Koramil 1507-03 Selaru siap mewujudkan Tanimbar yang bersih dari stunting, dimana bekerjasama dengan Puskesmas Selaru menggelar swery stunting dengan mengusung tema Penuhi Kebutuhan GIzi Cegah Sunting.

Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Metanleru Fursuy, Jumat (17/2) merupakan aksi lanjutan dari visi pemda dalam menuntaskan stunting di Tanimbar khususnya Selaru.

Danramil Selaru Lettu Inf D Seleky pada kesmepatan itu menjelaskan, salah satu hal meningkatnya stunting, dikarenakan kekurangan gizi kronis pada awal, serta kurangnya perhatian orang tua dalam melihat angka gizi pada anak.

“Stunting adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis pada masa awal kehidupan anak. Resiko dari masalah stunting terbilang wajib waspadai karena akan mempengaruhi tumbuh kembang anak secara langsung, sekarang maupun dalam jangka panjang,” ucap Danramil.

Anak yang tumbuh menghadap masalah stunting kata Danramil, akan mengalami gangguan perkembangan otak, pengaruhnya terlihat pada kemampuan kognitif si kecil dimana mereka cenderung sulit mengingat, menyelesaikan masalah dan tersendat dalam aktivitas yang melibatkan kegiatan mental atau otak.

Baca Juga: Tiga Bulan Ratusan Guru SMA-SMK Belum Terima TPP

Pertumbuhan kognitif yang lambat dalam kemudian hari bisa mengakibatkan anak mengalami penurunan fungsi, intelektual, kesulitan memproses informasi serte susah berkomunikasi, ini tentu mempengaruhi proses belajar anak di sekolah, di rumah, sekaligus membuat mereka kesulitan bergaul serta bermain dengan rekan sebaya. Gejala paling umum ialah bertubuh pendek dari anak seusianya dan mudah lelah.

“Perkembangan tubuh anak otomatis lebih lambat dari anak-anak seusianya. Ciri pendek adalah salah satu ciri anak menginap masalah stunting. Kekurangan gizi kronis akan mengakibatkan pertumbuhan otot. Anak stunting terlihat juga akan lebih mudah lelah dan akan selincah anak pada umumnya, dampaknya anak memiliki risiko besar obesitas dan sulit mengerjakan kegiatan dasar sehari-hari,” ujar Danramil

Menurutnya, apabila anak mengidap masalah stunting, kekebalan tubuh anak terbilang lebih rentan dan muda terserang penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau virus, disebabkan daya tahan tubuh anak menurun, proses penyembuhan anak stunting menjadi lebih lama jika dibandingkan dengan anak pada umumnya.

kondisi stunting tidak dirasakan hanya pada sewaktu kecil tapi dampaknya akan terasa pada saat dewasa. Hasil riset mengatakan bahwa, anak stunting meningkatkan risiko menjadi diabetes saat sudah dewasa.

Pasalnya, kekurangan gizi pada saat masa pertumbuhan akan mengganggu sistem horminal insulin dan glukagon pada pankreas yang mengatur keseimbangan dan metabolisme glukosa. Akibatnya keseimbangan gula darah akan lebih cepat terganggu dan tubuh mudah membentuk jaringan lemah pada saat anak dewasa.

“Anak-anak stunting lebih tinggi mengidap penyakit degeneratif, seperti kanker, diabetes dan obesitas, saat ini mengakibatkan kebutuhan zat gizi mikro dan makro dalam tubuh tidak terpenuhi secara maksimal sehingga pembentukan sel tubuh dan lainnya tidak sempurna,” tandasnya.

Untuk Itu kata Danramil, orang tua juga dapat memberikan susu pelengkap nutrisi anak, nutrien junior juga memiliki manfaat omega 3,6 dan DHA untuk mendukung perkembangan otak anak. Junior juga dapat memberikan kepada anak usia 1-10 tahun untuk mencukupi kebutuhan nutrisi harian mereka.

Stunting juga dapat dicegah dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan menerapkan gaya hidup sehat. Orang tua juga dapat sarankan melakukan pemeriksaan ke dokter secara berkala. Stunting pada anak sejak dini untuk kebaikannya di masa depan.

“Peran orang tua adalah kunci utama anak mendapatkan nutrisi terbaik serta dapat tumbuh sesuai potensi maksimal mereka,” ajak Danramil.(S-26)