MASOHI, Siwalimanews – Kementerian PUPR menjamin akan memperbaiki kerusakan dua bentang­an jembatan Wai Kawa Noa dengan waktu selama empat bulan.

Hal ini diungkapkan Direktur Pembangunan Jembatan, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Budi Hariawan saat meninjau langsung  ke­rusakan  jembatan Wai-Kawa Noa di Desa Sau­nulu, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Te­ngah, Rabu (12/7) sore.

“Jika cuaca membaik kita perkiraan perbaikan se­cara permanen diselesai­kan sekitar 4 bulan,” Tandas Heriawan kepada wartawan di atas jembatan Wai-kawa Noa.

Heriawan mengaku prihatin setelah melihat kondisi ambruknya jembatan Wai-Kawa Noa,Senin 10 April lalu. Karenanya Dia berikrar untuk menjamin kelancaran mo­bilitas warga di wilayah itu.

“Tentu kami merasa prihatin dengan kondisi ini dan secara cepat kita akan mencari solusi dengan permanen ataupun dengan se­mentara. terutama kita mencoba melakukan agar aktivitas tidak terganggu menggunakan barley dalam kurun waktu 1 bulan men­datang, jembatan sementara sudah dapat disiapkan agar aktivitas disini tidak terganggu,” ujarnya..

Baca Juga: PUPR Sebut Bangunan Liar Milik DLHP & Siloam

Jembatan sementara untuk menjamin kelancaran mobilisasi barang dan jasa pasca terputusnya dua bentangan, salah satu jembatan terpanjang yang dibangun pada 2006 lalu itu Kata Heriawan, akan  dibangun di wilayah hilir sungai Wai-Kawa Noa.

“Kita susun di sisi hilir, kita coba tetapi tidak pada posisi yang sama, sehingga kita bisa bekerja untuk pekerjaan yang permanennya. Sebab kita kehilangan kurang dua bentangan 60 dan 40,” sebutnya..

Optimisme Direktur Pemba­ngunan jembatan Direktorat Bina Marga, Kementerian PUPR itu untuk perampungan perbaikan jembatan, sebab rangka baja jembatan telah disiapkan dan diharapkan dapat segera dikirim ke Tehoru.

Dia mengaku pembesaran aliran sungai Kawa Noa terus mengalami pembesaran dari waktu ke waktu. Dimana awalnya adalah 480 meterai sementara sekarang telah meluas menjadi 520 meter.

“Kalau kita lihat sungai ini memang besar dan awalnya 480 meter sekarang sudah 520 meter. Artinya kita harus mengatur hilirnya. Sebab jika tidak ditangani, aliran sungai itu membesar terus membe­sar.  kemarin air hampir berlimpah di opritnya dan kalau tidak ada gorong-gorong air akan melibas dan semua struktur akan terbawa saat ban­jir,”urai­nya lagi.

Untuk menangani perluasan aliran air, dia menegaskan akan berkoor­dinasi dengan Direktorat Wilayah Sungai.

“Nanti kita koordinasikan di BWS dan SDA karena kami dari sisi jalan Jembatan Bina Marga dan kita koordinasi dengan teman-teman SDA,” tutupnya.

Untuk diketahui saat kunjungan Direktur jembatan Budi Heriawan saat itu ikut pula Kepala Subdirek­torat Wilayah II.B, Direktorat Pre­servasi Jalan dan Jembatan Wilayah II, Heri Yugiantoro dari Direktorat Jenderal Bina Marga Kemeterian PUPR RI

Selanjutnya, Kepala Balai Pe­laksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku, S Bambang Widyarta, Kadis PUPR Malteng, Kepala Balitbangda Malteng Bob Rahmat, serta sejumlah Anggota DPRD Melteng,Satker PJN Toce Leuwol dan  Ppk jalan ruas TNS – Amahai Albert Nanlohy.

Terkendala

Seperti diberitakan sebelumnya, upaya Balai Pelaksana Jalan Na­sional untuk pemasangan bailey jembatan Wai Kawa Noa, Kecamatan Tehoru yang putus akibat hujan deras beberapa hari di wilayah tersebut, belum dapat dilakukan karena terkendala air sungai yang belum surut.

Kepala Satuan Kerja Wilayah II BPJN Maluku, Toce Leuwol men­jelaskan Jembatan Kawanua terletak di lintas penghubung Jalan Na­sional Tehoru-Laimu di Keca­matan Tehoru, Maluku Tengah dan Pulau Seram bagian timur.

Akibatnya, akses transportasi di Kabupaten Maluku Tengah-Pulau Seram Bagian Timur lumpuh total, karena tidak ada jalur alternatif lain yang dapat dilalui transportasi dan masyarakat.

“Jadi Jembatan Wai Kawa Noa Bentang total 520 meter, jembatan 120 meter hanyut di ruas jalan nasional terjadi bencana alam rubuh akibat banjir bandang. Sehingga pagi ini kami langsung meluncur ke lokasi,” kata Leuwol kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Rabu (12/7)

Satu cara yang dapat dilakukan BPJN Maluku untuk mengatasi persoalan ini dengan pemasangan Jembatan Bailey untuk sementara.

Langkah ini dilakukan agar masyarakat dapat kembali melewati akses jembatan, sekaligus agar distribusi bahan pokok tidak menjadi kendala.

“Memang penanganannya harus dengan jembatan Bailey, tetapi belum dapat dilakukan karena kita masih tunggu banjir surut,” ujarnya.

Leuwol menegaskan, pihaknya telah memerintahkan jajarannya untuk bersiap agar saat air surut maka pemasangan jembatan Bailey dengan bentang 150 meter segera dilakukan, sehingga akses masyarakat dapat kembali normal.(S-17)